Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Meulinte*

Meulintee
Oleh: Ihan Sunrise

“Mak tak habis pikir.” Kataku begitu kami tinggal berdua dengan anak gadisku. Nurul. “Tak habis pikir apanya?” Tanya Nurul, anak perempuanku bingung.“Dengan jalan pikiranmu.” Kataku cepat“Memangnya kenapa dengan jalan pikir Nurul?”“Seperti hana pikeran.”“Lalu yang punya pikiran itu bagaimana, Mak?” Tanya Nurul agak tersinggung.“Ya jangan bawa laki-laki itu ke rumah.” Pungkasku Nurul yang sedang membereskan meja setelah memindahkan gelas dan piring kecil berisi kue untuk tamuanya tadi tak jadi beranjak. Ia duduk di tempat tamu tadi duduk. Di tangannya masih menggantung kain lap kecil yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja bekas tumpahan air teh.“Terus bawa ke mana? Bang Jack kan mau berkenalan dengan Mak. Wajar kan kalau calon menantu mau berkenalan dengan calon Mak Tuannya. Masak Nurul bawa ke pasar dan pos jaga. Apa kata orang nanti? Masak anak gadis mak rayueng-rayueng lelaki ke sana ke mari tanpa mak kenal siapa orangnya.”“Kalau…

Untukmu, Untuk Lautan

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sejak bertahun-tahun yang lalu. Kurasakan perbedaan dari caraku merindui dan mencintaimu. Rasa yang begitu melesak-lesak dalam jiwa, menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuimu.

Maka sebelum matahari tergelincir, ketika langit masih memerah saga. Aku telah berada di tempat itu, menyusuri jalan-jalan yang pernah kau lintasi beberapa waktu yang lalu. Menaiki bebatuannya yang bersusun. Merasakan lembutnya angin pantai yang tajam. Mendengar deru dentum ombak yang berkecipuk. Menyaksikan cicak-cicak laut yang menempel di bebatuan yang basah. Kepiting yang berlarian dan siput-siput kecil yang kecoklatan.


Aku takjub. Bukan pada diriku sendiri, tetapi pada yang melesak-lesak begitu kuatnya di dalam hati. aku berdiri menghadap lautan. Membentangkan kelopak tangan. Meliarkan pandangan mata. Meneriaki gemuruh. Ya, aku datang menemui lautan. Untuk bertemu dan berdialog denganmu. Laut! Dan juga engkau.

Sesuatu yang tak begitu kusukai sejak dahulu. Karena men…

Jangan Membunuh Kenangan

Jangan Membunuh KenanganMencium jemarimu adalah ritual paling dahsyat yang begitu menggetarkan, penghormatan yang menggembirakan dan menyembuhkan, memberi lega dan kepatuhan diri, lain kali, aku akan merasa bersalah bila hanya dapat mencium jemarimu saja.Barangkali, itulah yang membuatku lantas terdiam, berhenti menduga-duga, berusaha untuk tak menyalahkan, berusaha untuk menerima alasanmu. Karena ketulusan, seperti yang selama ini kupahami selalu saja mengejawantahkan berbagai alasan. Itu pula yang selama ini selalu membawa kita pada muara yang sama.Dalam dialog panjang kita, resonansi desah nafas yang tak begitu teratur, seiring dengan emosi yang ikut menyelinap. Aku berusaha berdamai dengan keadaan. Kau dan aku dipertemukan dalam perbedaan. Seharusnya kita tak saling menyalahkan seperti ini. Bukahkah kita telah lama saling mencintai?“Aku datang malam itu, berusaha menemuimu, untuk memenuhi janjiku.” Katamu pelan. Sarat kehati-hatian. Aku hening dalam kesenyapan, tak lantas percaya …

Menghapus Ingatan

Seperti pernah terjadi sebelumnya. Di mana ya? Aku seperti tak asing dengan kejadian ini. Oh ya, di sebuah cerita film Korea yang terkenal itu. Begitu melankoli dan membekas di benakku. Tapi sama sekali tak kuduga kisahku mirip Soo jin dalam film itu.

Bercelana jeans dan berkemeja puntung. Kau begitu good looking pagi itu, persisnya menjelang siang. Aku begitu bernafsu memandangimu. Kita duduk bersebelahan. Dan aku begitu leluasa melumatmu dalam imajinasiku. Kuselipkan tanganku untuk memeluk pinggangmu, sentuhan paling nyaman yang bisa menetralkan resah hati karena terus menerus menahan rindu. Aku ingin menciummu, tapi ruang bukan hanya milik kita ketika itu. Aku menyentuh pipimu, menyentuh lehermu, menyentuh telingamu. Maaf, aku telah berlaku kurang ajar hari itu. Aku meremas rambutmu sebelum akhirnya kusandarkan kepalaku ke perutmu. Kupeluk kau sebisaku.


Pertemuan kita, ibarat percintaan yang tak usai ketika tubuh akan menggelinjang menahan puncaknya. Kita terkekang oleh keterbatasan …