Langsung ke konten utama

Menghapus Ingatan

Seperti pernah terjadi sebelumnya. Di mana ya? Aku seperti tak asing dengan kejadian ini. Oh ya, di sebuah cerita film Korea yang terkenal itu. Begitu melankoli dan membekas di benakku. Tapi sama sekali tak kuduga kisahku mirip Soo jin dalam film itu.

Bercelana jeans dan berkemeja puntung. Kau begitu good looking pagi itu, persisnya menjelang siang. Aku begitu bernafsu memandangimu. Kita duduk bersebelahan. Dan aku begitu leluasa melumatmu dalam imajinasiku. Kuselipkan tanganku untuk memeluk pinggangmu, sentuhan paling nyaman yang bisa menetralkan resah hati karena terus menerus menahan rindu. Aku ingin menciummu, tapi ruang bukan hanya milik kita ketika itu. Aku menyentuh pipimu, menyentuh lehermu, menyentuh telingamu. Maaf, aku telah berlaku kurang ajar hari itu. Aku meremas rambutmu sebelum akhirnya kusandarkan kepalaku ke perutmu. Kupeluk kau sebisaku.


Pertemuan kita, ibarat percintaan yang tak usai ketika tubuh akan menggelinjang menahan puncaknya. Kita terkekang oleh keterbatasan waktu. Dan aku terganggu dengan kesibukanmu. Kita tak banyak bicara. Dan aku kehilangan selera untuk menumpahkan perasaanku padamu. Aku berharap kau tahu, caraku menyembuhkan rindu bukan dengan ketergesa-gesaan. Tapi bukankah sejak pertama kali memutuskan bersama denganmu, kita selalu kehilangan waktu-waktu untuk menikmati puncak cinta secara bersamaan?

Aku berusaha mengerti. Kulapangkan jiwa untuk bisa menerimamu apa adanya. Kuputuskan untuk tidak memprotesmu barang sedikitpun hari itu. Kutahan kecewaku untuk bisa bersikap biasa saja ketika itu. Kutahan, kutahan semuanya. Juga hasrat yang membuncah-buncah. Juga pertemuan jiwa yang tak mencapai klimaks kenikmatan. Aku tak ingin mengeluh tentang semua ini.

Pun ketika kau berjanji untuk menemuiku pada senja berikutnya. Aku telah menduga semuanya akan berakhir tak sesuai rencana. Kau terlalu pintar membuatku senang. Tapi akupun telah amat sangat tahu sikapmu. Sebaiknya tak berharap banyak dari ucapan seorang lelaki sepertimu. Karena akan mencederai hati. Benar saja, terakhir di kotamu membuatku terluka.

Persis seperti Soo jin yang menunggu kekasihnya di sebuah terminal kereta. Akupun menunggumu di terminal kota kenangan itu. Tubuhku berkeringat. Tanganku bergetar. Mataku jalang setiap kali melihat jarum jam. Berhentilah. Berhentilah berdetak. Pintaku saban detik. Tapi penunjuk waktu itu lebih patuh pada alam yang terus memerintahnya untuk bergerak.

Hingga akhirnya bus yang kutumpangi bergerak perlahan. Kau tak terlihat menemuiku. Akupun mencoba berdamai dengan perasaan. Kutahan agar tak terlihat cengeng di mata orang-orang. Namun kekecewaan yang memuncak memaksaku untuk menangis dalam diam. Dalam kepayahan berfikir. Dalam ketersendatan mengeluarkan kata-kata. Kubiarkan orang-orang berpendapat tentang apa saja. Semuanya terjadi dalam keremangan dan kesunyian malam. Dan esok pagi, kudapati mata ini sembab dan bengkak. Matahari membuatku tak leluasa melihat.

Kupikir, cerinta tentang luka ini cukup sampai di sini. Aku ingin seperti Soo jin yang kehilangan ingatannya agar tak lagi mampu mengingatmu. Maka kubiarkan setengah dari kenangan tentang kita terhapus. Kuturunkan semua pigura tentangmu dari beranda rumahku. Kuhapus semuanya agar tak lagi terlihat mencolok. Kupaksa diri untuk jauh dari apa saja yang membuatku berhenti memikirkanmu. Aku ingin tidur secepat mungkin begitu masuk ke dalam kamar kenangan itu. Tempat cerita aku dan kamu di ciptakan. Tempat dimana aku selalu tergila-gila padamu.

tapi...aku tetap mencintaimu. Tanpa syarat apapun! (*)




20:45 pm
On wed, 7 April 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.