Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Berkaca Dari Sang Imam

Berkaca Dari Sang Imam oleh Ihan Sunrise Selasa, 23 Sep 2008 16:01 Imam Hasan Al-Bashri adalah seorang ulama terkemuka di kota Basrah, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. beliau juga ulama yang kharismatik, dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat. Beliau mempunyai seorang tetangga nasrani. Tetangganya itu memiliki kamar kecil untuk kencing diloteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Sehingga air kencing tetangganya itu merembes dan menetes ke kamar Imam Hasan Al-Basri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal tersebut. beliau menyuruh isterinya untuk menadahi air kencing tersebut agar tidak mengalir kemana-mana. Selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Beliau ingin benar-benar mengamalkan sabda Rasulullah SAW. "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya." Suatu

For My Soul

Bilik Hati, 01: 52 - 02:55 am 11 September 2008 Kepada Yang Tercinta: Seseorang yang pantas kusebut Jiwaku Kau teman baik yang tak pernah ada, teman bercerita yang tak jelas rupa, kepadamu aku pantas bertutur kata, patut menceritakan tentang sebenar rasa yang kokoh bercokol dalam lumbung hati. Sebab kau tak akan mencibir bila ini kesilapan, tak pula memuji bila ini ketulusan. Mengapa sedih, duka, lara, bermuara pada yang satu, bening air mata laluannya. Dan juga bahagia, rasa senang, keharuan, juga air mata huluannya. Sehingga sukar untuk dibedakan kapan sebenarnya hati merasa sedih, kapan hati merasa senang. Atau sebaliknya perumpamaan, tumpah air mata ini untuk duka atau untuk keharuan? Aku berterimakasih kepada alam yang telah bersahabat denganku, kepada angin yang telah turut ambil kisah dalam percintaan ini. Kepada bulan dan matahari yang mau menjadi perumpamaan untuk kisah-

Kepada Ridwan H. Mukhtar*

Kepada Ridwan H. Mukhtar Lelaki penuh kejutan Yang hidup dengan kekuatan jiwa dan tulisan Dikirim melalui getar-getar angin yang bergelombang dan bermagnet Sehingga jelas bumi tempatnya berpijak seolah ada di depan mata Ia mengobarkan semangat Layaknya kisah yang ia tulis dalam Hikayat Tari Guel Itulah yang membuatnya hidup dan terus ada Meliuk-liuk bagai gerak tarian dalam hikayat tersebut Mengirim percakapan-percakapan magis Yang terus terngiang-ngiang dalam keterkejutanku, ketidak percayaan Membuatku ingin kembali ke sore itu, saat ia mengenalkan putri kecilnya Namanya Azizah, katanya waktu itu Sungguh, ini perdebatan batin yang luar biasa Ketika semalam aku masih mengenangnya Sore ini ada pesan yang meliuk-liuk dari lelaki penuh kejutan 5 – 10 Agustus 2008 pernah dimuat di Harian Aceh Independen

Elegi Dua Hati

Elegi Dua Hati Tuhan, Jika Kau berikan manusia dua hati Apa mereka bisa mencintai dua hati yang berlainan? Apa ada jaminan hati mereka tak bercabang lagi Menjadi tiga, empat dan seterusnya? Tuhan, Seperti apakah ketulusan? Seperti apakah kesetiaan? Seperti apakah ... Tuhan ... Lamdingin, 30-01 Oktober 07 09:17 am

Rendezfous

Rendezfous Pada pertemuan sehabis magrib Langit yang masih basah dan tempias yang belum kering Aku seperti pernah melihat laki-laki itu Samar-samar bagai kelebat bayang Yang jelas kami sama-sama tergelak Saat ia mengatakan Ternyata kamu seorang perempuan Iya, Dia menyapaku sebagai laki-laki beberapa hari lalu Ia perkenalkan aku dengan Cordelia-nya Padanya aku ucapkan selamat Karena telah berikan aku inspirasi Untuk memulai puisi ini Lamdingin, 30 Sep. 07 10:02 pm

Lakon Diri

Lakon Diri Aku sendiri yakin Tidak ada kesedihan yang kekal Begitu juga dengan kesenangan Hargailan nafsu Karena darisanalah hidup terus berlanjut Genggamlah matahari Yang kau namai jiwa Hiduplah dengan itu Serupa air yang terus mencari muara Tak pernah berhenti Tak pernah merasa lelah Aku selalu menyemangati diri Dengan segudang cinta yang kupunya Dengan sejuta kasih sayang yang ku terima Kadang juga dengan nafsu yang ku miliki Adakah hidup ini lebih indah selain dari mimpi-mimpi? Lamdingin, 29 Sep. 07 08:10 pm

Lelah

Lelah Sekuat apakah dunia mendikte manusia? Seperti gurita yang mencengkeram mangsanya kah? Lalu menghisap darahnya hingga tak bersisa Dan saat itu baru tersadar, bahwa dunia adalah pendaya Untuk apalagi Cinta telah pergi Rindu telah menyublim Dongkol, marah, hati tak lagi bisa bersuara Sebab pertemuan-pertemuan penting telah memenjarakan kebebasan Rapat, meeting, rapat, meeting.... Begitu seterusnya O9:50 pm 07, Banda Aceh Selasa, 25 September 2007

For my little sister

For my little sister Terbayang kembali tawa mu yang sumringah Dan jeritan mu yang melengking Kaki kecil mu yang saban waktu mengayuh sepeda Tak jemu ke sekolah dan mengaji Saat kau duduk mesra dengan si kuning* Tangan mu membelai kepalanya Kaki mu berayun menjulur Menatap cakrawala hidup yang membentang Temani saja dulu ibu, Nanti kalau saatnya tiba Kau akan rasakan betapa indahnya dunia Penuh warna-warni, penuh pelangi, tempat berpetualang yang dahsyat Adik kecil ku yang selalu membuat rindu Kita adalah anak jaman yang lahir pada waktu tak mudah Penuh desingan peluru, carut marutnya hidup Hingga titik api yang kita sadari telah ada dalam rumah kita Siapa yang akan memadamkannya? Ibu saja seorang takkan bisa Kita adalah pembuka dan penutup Pengawal dan peng-akhiran Mari ciptakan dunia lain bagi mimpi-mimpi kita Hingga tak rugi waktu menempa kita *Kucing peliharaan di rumah kami 09:39 pm 07, Banda Aceh Selasa, 25 Septemb

Kepada Tuan Han’s

Kepada Tuan Han’s Siapa bilang aku tak perhatikan kamu Memang, Aku tidak pernah uluk salam, dan tidak ketuk pintu Juga tidak tinggalkan jejak Tapi apakah sebegitu parahnya ingin lupakan ku? Aku perhatikan semuanya Pigura yang bergantung didinding rumah Halaman yang semakin hijau dan asri Dan juga ruang tamu yang semakin ramai Aku tak mengerti sandi-sandi itu Jadi, biarkan saja aku menepi 07, Banda Aceh Selasa, 25 September 2007 08:01:08 pm

Untuk Zal

Untuk Zoel! Esok genap empat puluh tahun usia mu Aku mengatakannya usia yang matang dan dewasa Telah ku persiapkan jauh-jauh hari Sepotong surat cinta dan sebait puisi pengantar Prakata untuk yang lebih panjang, kata ku waktu itu Bacalah dengan senyuman Simpanlah dalam hati saja Jangan biarkan orang tahu Zoel Bahwa aku meminta mu menjadi sesuatu Selalu saja hati ku berdebar Setiap kali inisial nama mu ku sebut, atau ku tuliskan Selalu saja berkabut, dan gerimis Setiap kali mengingat kau bernama Zoel! 07, Banda Aceh Selasa, 25 September 2007 07:44:50 pm Obrolan Subuh Proses selalu ada masa habisnya Entah berakhir dengan kesuksesan, bisa pula dengan kegagalan Kau mencuci otak ku dengan kecemburuan-kecemburuan baru Melahirkan seribu padang bunga di subuh yang basah Memberikan keyakinan bahwa hidup adalah kumpulan pelangi Warna-warni bagi yang mencintai dan dicintai Lamdingin, 29 Sep. 07 08:04 pm

Bila Aku Memanggilmu Cinta

bila aku memanggilmu dengan Cinta... itu, bukanlah sesuatu yang berlebihan tapi memang begitulah adanya kamu yang menghadirkan matahari dalam jiwa ku kamu yang mengajarkan tentang telaga di mata ku kamu yang mengatakan ada kesejukan dalam hidup yang suam maka, berlebihankah bila aku memanggilmu sebagai Cinta? bila aku memanggilmu dengan Cinta... itu, karena aku benar-benar mencintaimu karena aku benar-benar belajar cinta dari cara mu mencintaiku bila aku memanggilmu dengan Cinta... itu bukan pura-pura karena aku akan selalu menangis bila mengingat mu semakin jauh semakin jarang bisa memanggilmu sebagai Cinta... bila aku memanggilmu dengan Cinta... percayalah...aku benar-benar mencintai Mu... 19 mei 2008 pkl 09.16 PM

Dia Bukan Nyonya

ini cerita tentang perkawinan, yang kata banyak orang mereka 'menyesal' setelah menikah. menyesal karena terlambat menikah, yang belum pernah menikah tentu saja tidak akan pernah menyesal, karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya dunia perkawinan itu. tetapi yang ini adalah sebenarnya penyesalan, karena faktanya setelah menikah tidak seperti yang ada dibenaknya dulu, tak ada suami 24 jam yang menemaninya setiap saat kapan saja ia butuhkan, sangat bertolak belakang saat masih pacaran dulu. tak ada tempat untuk bersandar ketika lelah mendera, tak ada tangan yang akan mengurut tengkuk ketika sang istri menderita morning sickness setiap harinya. betul-betul merana sebab semua harus diuruskan sendiri, memasak, membersihkan rumah, menyapu, membeli beras, membayar listrik, membayar rekening air, sampai ribut dengan tetangga juga harus dilakoni seorang diri. tersiksa, jelas sangat merana sebab semua urusan keluarga harus diurus seorang diri, tetapi yang paling parah adalah siksaan

Kepada Ayah di Surga

Kepada Yang Ku Rindu Ayah, Di Surga assalammualaikum wr wb Ayah... Aku datang menyapamu, kali ini bukan dengan doa seperti biasa tetapi dengan kata-kata yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. aku yakin, kau mendengar dan melihat gelisahku dari surga. melihat betapa rindunya aku kepadamu. Ayah... aku ingin bercerita sedikit kepadamu, tentang suasana rumah kita, suasana kampung halaman kita, semuanya ayah...juga tentang kesombongan orang-orang yang senang melihat orang lain terluka dan sengsara. Aku sedih Ayah, selalu menangis setiap kali mengingatmu, mengenang perjuanganmu mendidik kami adalah kekuatan terbesar untukku dan adik-adik, kau mengajarkan kami kemandirian, kerja keras, karena itulah kami tetap bisa hidup meski ayah sudah tiada. aku semakin sedih bila berada di rumah kita, rumah terasa sepi meski sebenarnya selalu ramai seperti biasa tatkala engkau masih ada. teman-temanmu masih sering mengunjungi rumah kita ayah, mereka makan, atau kadang tidur melepas lelah, mereka ma

Melukis Angin

Aku menggeliat bangun, dengan sedikit rutukan dan kesal di hati sebab berkali-kali namaku dipanggil setengah berteriak. Terbetik keinginan untuk pura-pura tidak mendengar sehingga aku bisa meneruskan tidur ini, rasa kantuk yang sangat masih menyerangku. Tadi aku baru bisa memejamkan mata menjelang pukul dua, dan sekarang belum lagi pukul empat aku sudah dibangunkan pula untuk sahur. Namun mengingat jerihnya yang telah bersusah payah membangunkan, tak jadi aku tarik selimut. Tak tega rasanya membayangkan perempuan itu tergopoh-gopoh menyiapkan nasi dan lauk untukku, padahal aku ini bukanlah siapa-siapanya. Dan mau tak mau akhirnya bangun juga aku. Setelah mencuci muka baru ke dapur untuk membantunya menyiapkan makanan untuk kami berdua. “Mau teh, kopi atau susu?” tanyanya belum lagi aku sempat melakukan apa-apa. “Hei, mau teh, kopi atau susu?” tanyanya lagi melihat aku tak menjawab. “Susu aja, Kak.” Jawabku merasa tak enak. Ia membuatkan aku segelas Milo panas. Ia tampak terengah-engah