Langsung ke konten utama

Dia Bukan Nyonya

ini cerita tentang perkawinan, yang kata banyak orang mereka 'menyesal' setelah menikah. menyesal karena terlambat menikah, yang belum pernah menikah tentu saja tidak akan pernah menyesal, karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya dunia perkawinan itu.

tetapi yang ini adalah sebenarnya penyesalan, karena faktanya setelah menikah tidak seperti yang ada dibenaknya dulu, tak ada suami 24 jam yang menemaninya setiap saat kapan saja ia butuhkan, sangat bertolak belakang saat masih pacaran dulu. tak ada tempat untuk bersandar ketika lelah mendera, tak ada tangan yang akan mengurut tengkuk ketika sang istri menderita morning sickness setiap harinya. betul-betul merana sebab semua harus diuruskan sendiri, memasak, membersihkan rumah, menyapu, membeli beras, membayar listrik, membayar rekening air, sampai ribut dengan tetangga juga harus dilakoni seorang diri.

tersiksa, jelas sangat merana sebab semua urusan keluarga harus diurus seorang diri, tetapi yang paling parah adalah siksaan batin karena terus menerus menahan rindu dan kesal yang bercokol dihati. ingin marah kepada siapa? sebab sang suami tak pernah ada didekatnya, seminggu sekali bertandang menemuinya sudahlah lebih dari cukup daripada tidak ada sama sekali. datang lepas tengah malam dan sebelum subuh sudah pergi meninggalkan dirinya. pantaslah kalau ia berkeluh dan terkeluar kata ia hanya singgahan. singgahan sang suami yang kebetulan ada urusan bisnis di kota ini, singgahan sang suami ketika sedang 'kepepet' ingin disuplai energi batin. ia merana, karena ia tidak bisa selalu mencharge energi batinnya kapanpun ia mau.

lebih tersiksa lagi ketika sang jabang bayi mulai menendang-nendang perutnya, ia mulai sering kepayahan dan tersengal-sengal bila bekerja berat. dan itu tandanya sematan barunya sebagai ibu akan segera datang, dan suaminya akan bergelar ayah. penantian yang mendebarkan, sekaligus menegangkan, akankah sang anak akan menjadi protestan kepada ayahnya seperti halnya yang sering dilakukan sang ibu?

dunia perkawinan memang impian, harapan dan angan-angan semua orang, sebab disana dua jiwa akan menyatu, dua raga akan sama-sama mengayuh biduk mengurus rumah tangga. sama-sama menanggung susah dan senang, kaya dan miskin, terkenal dan termarginal, semuanya harus dilakoni berdua, itulah idealnya sebuah perkawinan. tetapi bila sebaliknya? yang ada justru sebaliknya, yang satu senang yang satu susah, yang satu bahagia yang satu menderita, yang satu terkenal yang satu tersisih dan terbuang, inilah sebenarnya penyesalan bagi mereka yang sudah menikah, ketika nasih sudah menjadi bubur, saat masalah tak bisa lagi dilerai dan ketika waktu serasa menikamnya dari belakang.

ini cerita tentang seorang perempuan yang kurang lebih sama seperti gambaran diatas, saban hari ia mengurung diri dalam kamar sempit yang pengap, kurang pencahayaan matahari dan penuh dengan barang-barang. ia tidur sepanjang waktu dan sedikit sekali keluar rumah, waktunya dihabiskan untuk nonton tiv dan mendengar musik, seiring dengan itu semakin tumbuh pula janin kecil yang terlindung dalam rahimnya.

ia kesepian, ia menderita, ia merana, fisik dan jiwa. tetapi ia tak punya teman untuk berbagi resah itu, tak punya tempat yang layak untuk diajak senasib sepenanggungan. sebenarnya ia punya suami, tapi tak lebih sebagai teman bergaduh sepanjang malam sampai menjelang subuh. bertengkar mungkin cara mereka mengungkapkan kasih sayang, saling marah barangkali cara mereka mengekspresikan diri untuk bilang I luv U, dengan marah berarti aku masih sayang dengan kamu, dengan marah berarti aku masih peduli dengan kamu, dengan marah... kamu tetap akan menjadi istriku karena tidak mungkin anak dalam kandunganmu lahir tanpa ayah.

ancaman yang ampuh agaknya, sebab si perempuan tak bisa berkutik bila sudah menyentuh soal anak yang akan dilahirkan. karena itu, iapun rela memeram diri dalam kamar ukuran 2x3 itu sehari suntuk. dengan tetangga sudah tak enak lagi untuk bertegur sapa sebab sudah beberapa kali bersitegang masalah air, masalah listrik, tali jemuran, sampah dan segala macamnya. ia sering menggerutu, perihal suaminya yang kadang tak mengangkat telepon darinya, atau yang menyuruhnya telepon jam segini jam segini, padahal sebagai istri dia ingin 24 jam milik suaminya adalah miliknya juga.

menggerutu sudah pasti, tapi lagi-lagi ia mati kutu karena kelalaiannya sendiri.
ia cinta, sangat cinta kepada suaminya, tetapi ia lalai sampai salah memilih suami. tidak dapat disalahkan secara sepihak sebab laki perempuan sama gila bila sudah berbicara soal cinta. begitu juga mereka, cinta mereka pincang sebab ada yang terluka dan terkhianati. cinta mereka cacat sebab ada yang tidak terkasihi sebagaimana mestinya, cinta mereka buta sebab mereka tak pandai melihat mana yang hak mereka dan bukan, cinta mereka tuli sebab tak mendengar takdir berkata. cinta mereka....hancur lebur oleh nafsu.


cerita ini tentang perempuan muda yang mati karir karena kungkungan suaminya, ia menderita karena ternyata ia tak sepintar yang ia duga, ia shock berat karena ternyata ia ditipu hidup-hidup oleh seseorang yang telah menyebutnya istri. ia menjadi pelengkap atas kebahagiaan orang lain, tetapi menderita jiwanya. ia menjadi bayang-bayang selamanya karena statusnya yang tidak sah secara hukum negara.

dia ingin menjadi Nyonya atas suaminya, tetapi terlambat dan ia hanya puas dengan sebutan Nyonya Simpanan. bila ada orang yang menanyakan itu maka dengan marah ia akan menunjuk-nunjuk surat nikahnya yang selembar, yang berwarna putih dan di tik manual. berbeda dengan kebiasaan, berwarna hijau. dan orang-orang terheran-heran dengan itu tetapi tak berani mengatakan apapun didepannya.

dia, perempuan manis yang malang. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…