Langsung ke konten utama

Kepada Ayah di Surga

Kepada Yang Ku Rindu
Ayah,
Di Surga

assalammualaikum wr wb

Ayah...
Aku datang menyapamu, kali ini bukan dengan doa seperti biasa tetapi dengan kata-kata yang ingin kuceritakan langsung kepadamu. aku yakin, kau mendengar dan melihat gelisahku dari surga. melihat betapa rindunya aku kepadamu.

Ayah...
aku ingin bercerita sedikit kepadamu,
tentang suasana rumah kita, suasana kampung halaman kita, semuanya ayah...juga tentang kesombongan orang-orang yang senang melihat orang lain terluka dan sengsara.

Aku sedih Ayah, selalu menangis setiap kali mengingatmu, mengenang perjuanganmu mendidik kami adalah kekuatan terbesar untukku dan adik-adik, kau mengajarkan kami kemandirian, kerja keras, karena itulah kami tetap bisa hidup meski ayah sudah tiada. aku semakin sedih bila berada di rumah kita, rumah terasa sepi meski sebenarnya selalu ramai seperti biasa tatkala engkau masih ada. teman-temanmu masih sering mengunjungi rumah kita ayah, mereka makan, atau kadang tidur melepas lelah, mereka masih menganggap rumah kita seperti rumahnya sendiri meskipun ayah sudah tidak ada. tidak ada kecanggungan, meski aku sering diam menanggapi mereka, aku memang tak seramah ayah dulu, tapi mereka juga tak takut kepadaku.

aku tak percaya kalau ayah sudah hampir sepuluh bulan pergi meninggalkan kami semua, sampai aku benar-benar tidak menemukan ayah saat menjejakkan kaki ketika pulang ke rumah menjelang makmeugang yang lalu. tak ada lagi tangan yang bisa ku ciumi seperti biasa saat aku pulang ke rumah, dan tak ada yang mengantarku ke terminal, aku sedih sekali ayah, menangis mengingat itu sebab yang mengantarku ketika itu adalah orang kepercayaan ayah yang sampai sekarang masih setia kepada keluarga kita.

dia mengurus apa yang dulu pernah ayah rintis seperti kepunyaannya sendiri, tak pernah mengeluh, tak pernah bosan, dia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kami sekarang.

ayah...
kau baik-baik saja kan di surga?
sebentar lagi lebaran, aku takut menghadapi hari itu, bukan karena apa, tapi karena ayah tidak ada lagi ditengah-tengah kami sekarang. rasanya tidak siap berlebaran tanpa ayah.
ayah...dulu, beberapa tahun yang lalu aku pernah menulis cerita dengan judul "Berlebaran Tanpa Ayah".

cerita itu tentang bang Madli teman ayah yang meninggal karena oknum aparat, sekarang aku teringat lagi akan cerita itu, aku terkenang, apa yang dulu pernah dirasa oleh anak-anak bang Madli kini kami rasakan juga. saat pulang kemarin Diah bilang, kalau dia sudah ditakdirkan harus kehilangan ayah pada usia yang sangat muda. aku tidak sanggup mendengar kata-kata itu ayah, beban rasanya. semua permintaan diah tak sanggup ko tolak. karena ayah sangat memanjakannya dulu. dia sering bilang, dulu semasa ayah ada hampir setiap malam ayah membawanya makan nasi goreng atau nasi lemak kesukaannya. diah sangat kehilangan, tapi ia tak bisa membahasakannya.

ayah,
ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan, Rizal sudah menjalankan apa yang ayah wasiatkan dengan baik, dia ada di Labuhan Haji sekarang, mondok menjadi santri di Dayah Darul Ihsan milik seorang Waled yang aku lupa namanya siapa. tapi dia terlalu jauh dengan kami ayah, ibu sedih karena itu, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya agar jangan terlalu jauh merantau.

aku tak kuat menahan tangis ayah, malam selarut ini kerinduan untukmu semakin tak karuan, malam-malam seperti inilah aku sangat ingatkan akan ayah. sering aku terisak dan tersedu bila menuliskan semua tentang ayah.

ayah, ini bulan puasa, seharusnya tak boleh ceritakan keburukan orang tapi aku ingin sekali bercerita, tentang seorang haji di kampung kita yang kaya raya, yang menyumpahi agar apa yang dulu ayah rintis menjadi tidak ada. dia inginkan kita hancur ayah. tapi Allah masih sayang kepada kami, terutama kepada diah yang kecil, rejeki untuk kami masih ada dan orang-orang yang bersama kita juga masih ada kemudahan rejeki.

Ayah...
aku tak akan lupa berdoa, aku ingin kelak kita berkumpul bersama di Surga. ayah akan selalu hidup dan semakin dekat di hatiku

anak perempuanmu

23:51 pm
13 Sept 2008

Komentar

  1. Salam Hormat kepada ayah-ayah kita, semoga mendapat pengampunan dari Allah, dan semoga kelak kita bisa berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai.

    salam kenal

    dedeabdya.wordpress.com

    BalasHapus
  2. kata-kata ini mungkin kurang untuk penggambaran sosok Ayah." Tabah","Sabar',"Kuat',"Ikhlas",Panutan",Pembimbing, contoh, terbaik, the best of the best.

    Ayah semoga kau bahagia disana, Salam hangat dan penuh rindu dari anak-anak mu.

    Salam Kenal

    https://www.instagram.com/musen26/

    BalasHapus
  3. Allahummaghfirlahu...

    Terharu bacanya Ihan... ;(

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…