Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Menanti Untuk Menyetubuhi Matamu

sudah tidak sabar untuk segera kembali menyetubuhi matamu dengan pandangan yang paling sempurna, dengan tatapan yang mampu memberikan penyelesaian untuk sesuatu bernama rindu itu. Tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata, sebab kata seringkali tak mampu menginterpretasikan dengan baik. Gejolak hanya mampu dibinasakan dengan diam, dan diam adalah milik cahaya yang muncul dari manik salah satu panca indera. Kutunggu engkau datang, dengan secawan anggur berwarna ungu mawar, yang rasanya mampu meliatkan seluruh gemuruh karena akumulasi lelah akibat penantian terhadap waktu. Yang mampu mengumpulkan kembali percikan-percikan energi akibat kikisan jarak. Bila pagiku adalah hari-hari mengumpulkan cinta untukmu, maka hidupku adalah kumpulan perasaan yang tak pernah berubah untukmu. Engkau telah begitu rapi masuk dan merebut ingatanku, sampai-sampai timbul cemburu terhadap diriku sendiri. Cemburu yang menimbulkan geletar nikmat melebihi mabuk dari anggur berwarna ungu mawar y

Logika

“Aku tergila-gila padanya.” Kataku pada diriku sendiri. Ketika itu, malam telah sangat larut, efek kopi tadi siang rupanya membuat kantuk enggan menggantung di mataku. untuk menghalau bosan aku membaca sebuah novel tebal lebih dari enam ratus halaman. Ketika ke dua tanganku yang kugunakan sebagai penyangga mulai terasa pegal, aku pun mengganti posisi, kadang sambil tidur, kadang sambil duduk bersandar di bantal, kadang sambil miring. “Mengapa kau menggilainya?” Tanya suara lain di diriku. Hm…aku tidak segera menjawab, haruskah kuberi alasan untuk setiap perasaanku? Tidak bolehkah aku menyukainya tanpa alasan apapun. Aku menyukainya dan aku tidak tahu mengapa. Tidak boleh kah seperti itu? Agar semuanya menjadi sederhana. “Karena ia berbicara dengan bahasaku.” Jawabku akhirnya, mencoba memberikan jawaban selogis mungkin. Ada semacam tawa sinis mengambang di bibirnya, di bibir logika yang sering membuatku kadang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku tidak selamanya benar. Keangk

Bahasa Kosa Kata Mata (untuk seseorang)

“Mengapa?”  Pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya, bukan karena kita tidak mengetahui   jawabannya tetapi karena memang kita tidak ingin menjawabnya. Tidak semua yang kita lihat mesti memiliki nama yang pantas, tidak semua yang kita dengar mesti memiliki muasalnya, dan tidak semua yang kita rasa mesti punya alasan. Rasa yang terbentang bagai secawan anggur yang membuat kita tak sabar untuk segera mencicipinya. Leguh napas yang tertahan adalah ekspresi dahaga maha dahsyat yang membuat kita hanya mampu bergumul lewat pandangan mata. Tak peduli di tengah keramaian, nyatanya kita mampu mencapai klimaks di antara pengap dan panas karena luapan emosi. Kita tidak pernah tahu, mengapa tiba-tiba kata-kata tercekat di pangkal lidah, tetapi bahasa mata menemui kosa kata yang teramat lebih. Kita berbicara dalam diam, dan senyuman yang paling manis, melebihi madu dari lebah liar di belantara. Kita belajar tentang bagaimana gerak mengatur liuknya, di jemari yang saling berpagut, d