Langsung ke konten utama

Logika


“Aku tergila-gila padanya.” Kataku pada diriku sendiri.

Ketika itu, malam telah sangat larut, efek kopi tadi siang rupanya membuat kantuk enggan menggantung di mataku. untuk menghalau bosan aku membaca sebuah novel tebal lebih dari enam ratus halaman. Ketika ke dua tanganku yang kugunakan sebagai penyangga mulai terasa pegal, aku pun mengganti posisi, kadang sambil tidur, kadang sambil duduk bersandar di bantal, kadang sambil miring.

“Mengapa kau menggilainya?” Tanya suara lain di diriku.

Hm…aku tidak segera menjawab, haruskah kuberi alasan untuk setiap perasaanku? Tidak bolehkah aku menyukainya tanpa alasan apapun. Aku menyukainya dan aku tidak tahu mengapa. Tidak boleh kah seperti itu? Agar semuanya menjadi sederhana.

“Karena ia berbicara dengan bahasaku.” Jawabku akhirnya, mencoba memberikan jawaban selogis mungkin.

Ada semacam tawa sinis mengambang di bibirnya, di bibir logika yang sering membuatku kadang terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku tidak selamanya benar. Keangkuhan yang telah membuatku mempertahankan lelaki kekasihku demi egoku sendiri, ah, tidak, aku mencintainya, dan masih mencintainya, lalu, apa yang salah dengan mempertahankannya tetap sebagai kekasihku.

Logika mencibir lagi, mungkin maksudnya inilah puncak egoku, ingin memiliki semua yang kumaui tanpa mempedulikan apakah aku benar-benar membutuhkannya.

“Apakah semua yang akan berbicara dengan bahasamu akan kau jadikan kekasih?” ejek logika dengan seringainya yang tajam. Bahkan diriku sendiri tak sudi menyaksikannya. Tetapi di dalam gelimang sunyi ini, hanya diriku sendiri yang bisa kuajak berdiskusi, agar sepi benar-benar enyah. Tidak, yang benar adalah agar sketsa wajah lelaki yang sedang kugilai bisa mengabur.

“Kau tak perlu ikut campur dalam urusanku, ini masalah hati, dan kau tidak mengerti.” Belaku.

Mata lelaki itu seolah hadir di hadapanku, mencoba masuk dalam diriku untuk memberi kekuatan, bahwa tidak ada yang salah dengan semua yang terjadi. Tidak akan ada yang sakit hati dengan pertemanan ini, apalagi kecewa.

“Pertemanan? Kau bilang pertemanan setelah semua yang terjadi?” 

Aku mulai muak dengan celoteh logika. Jika bisa, ingin kusekap ia saat aku bertemu dengan lelaki bukan kekasihku itu. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Dan ia mendengar semua percakapanku dengan lelaki itu. 

“Maumu apa?” pekikku dengan suara tertahan. “Dulu saat aku ingin menikahi lelaki kekasihku, kau menjejaliku dengan berbagai argumentasi tentang kebenaranmu, dan sekarang kau semakin menjadi-jadi dalam mengatur hidupku.” Napasku tersengal, persis ketika lelaki itu menyentuh jemariku, bedanya sekarang karena marah dan dikepung emosi.

Hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Aku tidak ingin menyalahkan logika sepenuhnya, tetapi salahkah bila aku memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk mabuk pada madu rimba itu? 

Lagi-lagi, mengapa tidak pernah menemui jawabannya.

“Kau tentu tidak bisa menjelaskan kepadaku mengapa aku tidak bisa menikahi lelaki kekasihku bukan? Juga lelaki yang bukan kekasihku itu. Aku tidak bisa menikahi ke duanya. Kau tidak mengerti karena kau bukan hidup sebagai diriku. Kau hanya sesuatu yang ada di dalam diriku.” Kataku akhirnya berterus terang.

Logika menjulurkan kepalanya, ia memandangiku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan. Aku menghembuskan nafas panjang. Pertanda tak ingin lagi berdebat dengannya.

“Buatlah keputusan yang terbaik untuk dirimu.”

Malam semakin uzur, tetapi sepertinya tidak ada tanda-tanda akan segera ada jalan keluar dari rindu yang bertubi-tubi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.