Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Saturday with My Boy Bike

BERSEPEDA kini menjadi aktivitas baru yang sangat menyenangkan buatku. Selain rutin berlatih aikido dua kali seminggu, bersepeda masuk dalam daftar aktivitas mingguan yang kulakukan. Terutama di akhir pekan dan waktu-waktu senggang. Alhasil kegiatan berlari yang sebelumnya juga rutin kulakukan terpaksa dipending dulu untuk waktu yang tidak terbatas. Karena susah menyocokkan waktu dengan teman-teman, jadinya aku lebih sering bersepeda sendirian. Teman-teman di komunitas selalu gowes bareng di hari Minggu, sementara aku pada hari itu malah kerja. Jadinya belum sekalipun niat gowes bareng mereka terwujud sampai hari ini. Kalau ingin bersepeda dengan rute yang jauh aku harus melakukannya di hari Sabtu, karena hari itu aku libur. Setelah sebelumnya sempat bikin janji dengan dua teman untuk bersepeda bersama di Sabtu pagi, eee.... lagi-lagi aku harus gowes sendirian. Teman yang satu malamnya harinya terpaksa membatalkan karena ibunya datang dari kampung. Mira juga membatalkan karena ada ac…

Zahida

Ini merupakan siluet sahabatku Nurzahidah Getlatela. Foto ini kuambil pekan lalu saat kami sama-sama berkonsultasi pada seorang psikolog. Barangkali kami sudah sama-sama 'gila', sebab itulah kami tak merasa canggung dan merasa perlu menjaga privasi saat konsultasi pada psikolog yang sama, di hari yang sama, pada waktu dan ruangan yang sama pula. Selama ia berkonsultasi, aku duduk manis sambil mendengar curcolnya yang sangat menggelitik. Dan selama aku berkonsultasi, dia juga mendengarkan sambil duduk (tak) manis. Yang sama-sama menjadi pertanyaan kami begitu waktu konsultasi selesai adalah; mengapa tidak ada salah seorang pun di antara kami yang membahas mengenai calon pasangan hidup di depan psikolog? Ini membuktikan, yang memiliki 'masalah' ternyata bukan kami, melainkan orang-orang di sekeliling kami. Yang tak pernah bosan tanya kapan? Kapan? Kapan? :-D Pertemanan kami belum terlalu lama, baru genap setahun. Bermula dari memesan sekotak donat hasil kreasinya, jadi…

(Bukan) Makan Malam Biasa

KUSEBUT ini bukan makan malam biasa. Sebab kami baru makan saat perut(ku) sudah tak lapar lagi. Saat orang-orang kukira sudah mengosongkan lambungnya dan bersiap-siap untuk istirahat.

***

Sudah pukul sepuluh tepat saat kakiku melangkah masuk ke sebuah kafe di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh pada Rabu malam. Riuh live music menyambutku. Panggung kecil di sudut kanan depan ruangan langsung menyita perhatianku. Ada seperangkat alat musik dan seorang biduan yang menjadi asal muasal 'keriuhan' itu.

Aku memilih duduk di kursi yang berlawanan arah. Dua deret meja kayu memberi jarak dengan panggung. Posisi ini memberiku keleluasaan untuk mengamati isi ruangan, juga ke arah jalan raya. Memudahkanku yang sedang menunggu. Hingga tiga puluh menit kemudian aku menunggu kedatangan Zelda ditemani bait-bait tembang yang sama sekali tak kuingat lagi liriknya.

Kusebut ini bukan makan malam biasa, sebab seporsi martabak India yang kupesan setelah Zelda tiba sama sekali bukan menu yang ingin kusant…