Langsung ke konten utama

(Bukan) Makan Malam Biasa


KUSEBUT ini bukan makan malam biasa. Sebab kami baru makan saat perut(ku) sudah tak lapar lagi. Saat orang-orang kukira sudah mengosongkan lambungnya dan bersiap-siap untuk istirahat.

***

Sudah pukul sepuluh tepat saat kakiku melangkah masuk ke sebuah kafe di Jalan Teuku Umar, Banda Aceh pada Rabu malam. Riuh live music menyambutku. Panggung kecil di sudut kanan depan ruangan langsung menyita perhatianku. Ada seperangkat alat musik dan seorang biduan yang menjadi asal muasal 'keriuhan' itu.

Aku memilih duduk di kursi yang berlawanan arah. Dua deret meja kayu memberi jarak dengan panggung. Posisi ini memberiku keleluasaan untuk mengamati isi ruangan, juga ke arah jalan raya. Memudahkanku yang sedang menunggu. Hingga tiga puluh menit kemudian aku menunggu kedatangan Zelda ditemani bait-bait tembang yang sama sekali tak kuingat lagi liriknya.

Kusebut ini bukan makan malam biasa, sebab seporsi martabak India yang kupesan setelah Zelda tiba sama sekali bukan menu yang ingin kusantap. Juga mie goreng yang dipesan Zelda. Aku mencicipinya sedikit, rasanya asin. Dan karena itulah Zelda sengaja menyisakan setengah hidangannya. "Semoga yang meraciknya mau mencicipinya sedikit, biar tahu rasanya seperti apa," kata Zelda iseng.

Ini memang bukan malam biasa, sebab tujuan awal kami memang bukan untuk bersantap di kafe ini. Melainkan sebuah kafe di lokasi yang sama yang jaraknya hanya terpaut beberapa puluh meter saja. Kwetiaw siram di kafe itu berhasil memikatku dan aku ingin menikmatinya kembali bersama Zelda. Tapi sayangnya selera makan yang sudah kusiapkan sejak awal itu terpaksa menguap, bercampur dengan angin malam yang semakin senyap.



Segelas jeruk peras dingin yang kupesan di kafe itu ternyata tak bisa menahanku untuk berlama-lama di sana. Entah aku yang datang terlalu malam, entah kafe dengan banyak lampu kerlap-kerlip itu yang terlalu cepat menghentikan aktivitasnya. Yang pasti, lima belas menit setelah aku memesan es jeruk kafe itu pun tutup. Tiga menit sebelumnya aku sempat mengabarkan Zelda, kalau aku ingin pulang saja. Tak ingin lagi meneruskan rencana makan malam kami.

Tapi syukurlah ia cepat merespons, tidak seperti biasanya. Dan kali ini, karena alasan keterlambatannya cukup 'syar'i', aku tak mempermasalahkan. Itu artinya, dengan sadar dan rela aku harus pindah ke kafe lain dan menunggu Zelda untuk waktu yang tidak sebentar.

Ada banyak kata untuk menggambarkan seperti apa Zelda. Tapi dua hal ini menurutku sangat identik dengannya; in time dan kocak. Soal in time ini, jangan bayangkan kalau dia --selama membuat janji denganku-- hadir jauh sebelum waktu yang disepakati tiba. Lazimnya adalah setelah itu, bahkan hingga berpuluh-puluh menit.

Pernah suatu pagi di akhir pekan, kami sudah sepakat untuk bersepeda bersama. Hari itu dia benar-benar membuatku dongkol karena harus menunggu lebih dari satu jam. Lebih mengesalkannya lagi, dia menyuruhku menunggu di tempat yang salah. Hanya saja hari itu aku bisa melampiaskan dengan menghujaninya tinjuan-tinjuan kecil. Sebuah protes yang tidak mungkin kulakukan malam kemarin. Selain karena alasannya terlambat sangat bisa dimaklumi, juga karena itu di tempat umum.

Lagipula melihatnya muncul dengan masih berbalut baju kerja, dan senyum yang sudah jatuh duluan --dengan lelah yang tak bisa disembunyikan-- rasanya tak adil jika harus berunjukrasa. Lagipula, sebuah perjalinan sejatinya adalah perwujudan dari sebuah pemakluman. Dan untuk itu ada kalanya ada ego pribadi yang harus ditundukkan untuk menegakkan ego yang lain.

***



Kusebut itu bukan makan malam biasa. Sebab kami harus menyantap hidangan sambil bertukar cerita dengan volume suara yang terpaksa harus dikeraskan. Agar suara kami tak kalah dengan suara musik. Tidakpun kuingat lagi apa yang kami bicarakan semalam, sebab aku sama sekali tak ingin mengingat percakapannya. Aku hanya ingin mengabadikan fragmen pertemuannya saja.

Dan, oh ya, jauh-jauh hari sebelum rencana makan malam itu terlaksana aku sudah menyimpan satu pertanyaan untuk Zelda. Tapi hingga acara makan malam itu berakhir, dan kami berpisah jelang pukul 00:00, pertanyaan itu urung kutanyakan. Mungkin akan kutanyakan di lain waktu, atau tidak sama sekali.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.