Langsung ke konten utama

Zahida


Ini merupakan siluet sahabatku Nurzahidah Getlatela. Foto ini kuambil pekan lalu saat kami sama-sama berkonsultasi pada seorang psikolog. Barangkali kami sudah sama-sama 'gila', sebab itulah kami tak merasa canggung dan merasa perlu menjaga privasi saat konsultasi pada psikolog yang sama, di hari yang sama, pada waktu dan ruangan yang sama pula. Selama ia berkonsultasi, aku duduk manis sambil mendengar curcolnya yang sangat menggelitik. Dan selama aku berkonsultasi, dia juga mendengarkan sambil duduk (tak) manis. Yang sama-sama menjadi pertanyaan kami begitu waktu konsultasi selesai adalah; mengapa tidak ada salah seorang pun di antara kami yang membahas mengenai calon pasangan hidup di depan psikolog? Ini membuktikan, yang memiliki 'masalah' ternyata bukan kami, melainkan orang-orang di sekeliling kami. Yang tak pernah bosan tanya kapan? Kapan? Kapan? :-D Pertemanan kami belum terlalu lama, baru genap setahun. Bermula dari memesan sekotak donat hasil kreasinya, jadilah kami berteman hingga detik aku menuliskan catatan ini. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini kupercayakan dia untuk menampung sedikit cerita gilaku yang itu-itu saja. Nyaris tiada hari yang terlewatkan tanpa membahas satu topik yang itu-itu saja, bukankah itu gila namanya? Dan siang tadi, di sebuah bengkel, kegilaan yang setengahnya masih rahasia itu hampir terbongkar hihihi... Kemarin, sejak siang hingga magrib kami menghabiskan waktu bersama-sama. Ibarat musafir, kami berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk salat Zuhur dan Asar. Serta pindah dari warung kopi menuju beberapa rumah untuk silaturrahmi. Tetap yang menjadi topik obrolan kami selama itu adalah yang gila-gila itu saja hahaha. Ngomong-ngomong, dia pun tak malu lagi menceritakaan kegilaannya padaku hahahah. Ini tentang Nurzahida. Namanya memiliki unsur 'Z' yang sangat kusukai. Ngomong-ngomong hampir semua cerpen-cerpenku nama tokohnya memiliki konsonan Z. Zahida ini menurutku unik, sanguinnya lebih menonjol dibandingkan dua karakter personaliti lain yang ada dalam dirinya yaitu koleris dan melankoli. Dua personaliti terakhir ini yang membuatnya mampu mengembangkan Getlatela hingga sudah berusia tiga tahun. Btw Getlatela ini adalah industri rumah tangga yang memproduksi donat dengan bahan dasar utama labu dan ketela. Sudah banyak testimoni tentang usahanya ini, jika kamu penasaran tinggal stalking saja di beranda Facebook-nya atau googling. Berbagai penghargaan pun sudah ia dapatkan berkat mengelola usaha tersebut. Sudah sering diminta jadi pembicara di mana-mana untuk sharing mengenai wirausaha. Tiga hal positif tentangnya adalah; cerdas, pekerja keras, humoris. Sementara karakter sanguin membuatnya menjadi seseorang dengan pribadi yang menyenangkan dan ramah. Keramahtamahan inilah yang membuat obrolan pertama kami melalui beranda ini berlanjut ke ruang private lainnya, hingga akhirnya kami sudah berteman lebih dari 365 hari. Dan siapa sangka, dengan usia pertemanan yang baru 'segitu' kami sudah menghadap ke psikolog hihihihi.[]

Dipindahkan dari status Facebook pada 19 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.