Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

Surga yang berganti musim

Hidup ini adalah pilihan. Karena ia pilihan maka ada saat-saat di mana kita harus mengambil keputusan. Dan keputusan, adalah suatu hal yang selalu berkaitan dengan masa depan, sesudah hari esok, sesudah lusa, lusa raya dan seterusnya. Keputusan tak pernah bisa dibuat untuk masa lalu. Sebab masa lalu tak bisa diulang kembali, meski dalam alur cerita yang tak harus persis sama. Masa lalu hanya bisa diingat untuk dikenang, lalu sesekali kita menginginkannya untuk kembali dinostalgiakan. Seperti aku. Yang selalu memimpikan masa lalu dalam mimpi-mimpiku. Mimpi yang benar-benar sebab hadirnya ketika malam telah jula dan waktu telah membuaiku dalam pejam yang tenang. Masa lalu yang mengantarku menjadi pemimpi ketika matahari mulai bertasbih bersamaan dengan ayam yang berkokok merdu. Benar-benar impian sebab aku melakukannya ketika aku sedang tidak tidur. Bila ini padang. Maka sebagian ingatanku tentang masa lalu telah mengering dan menguning. Karena memang tak pernah terfikirkan untuk

Bulan, Kasur, Nama

Bulan.Tak ada bulan malam ini, kulangkahkah kaki ke luar kamar menuju jendela, sekedar untuk memastikan bahwa tidak ada bulan malam ini. Jendela yang tak pernah ditutup berderit kecil ketika angin menamparnya tanpa ampun. Hujan yang tak kenal iba nyaris membuat seluruh badannya menjadi ostheophorosis. Mataku liar pandangi langit yang gelap. Benar tak ada bulan malam ini. Sinar merah menyala dari atas tower salah satu milik perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Cahayanya redup dan lemah. Sama sekali tak sanggup gantikan bulan yang memang tiada. Bulan. Sesuatu yang sering aku ingat belakangan ini. Mungkin sejak beberapa tahun yang lalu. Sejak aku mulai memahami bentuk dan warnanya. Lingkaran keperakannya selalu berikan kepuasan tersendiri ketika mata ini menatapnya tanpa kedip. Saputan awan yang kadang membuatnya timbul tenggelam seolah menyiratkan bahwa semuanya adalah perjuangan. Untuk tahu bentuk bulan saja mengapa harus cinta penyebabnya. Sebab bulan telah diam

Ketika Cinta Kehilangan Status

“Papa, kapan kita ke luar kota berdua, paling tidak untuk seminggu. Mama akan melakukan apa saja untuk papa.” Papa! Deg! Mendadak perutku menjadi mual dan merasa geli. *** Jalanan yang sedang kami tempuh serupa ular yang meliuk-liuk, rutenya tidak mulus, naik turun pegunungan, kadang-kadang ketika mobil menghentak seolah-olah seperti terbang namun kembali membuat kami terhenyak dan jantung terasa berdesir. Namun ini tidak sampai mengaduk-ngaduk isi perut sehingga tak perlu dijadikan alasan kenapa perutku tiba-tiba mual. Perjalanan ini sangat menyenangkan, bayangkan di sisi kanan kami adalah pegunungan terjal berkapur yang diseliputi oleh pepohonan hijau yang asri dan segar. Sedangkan di sisi sebelah kami adalah lelautan lepas yang luas. Airnya biru, gelombangnya teratur walaupun kuat. Di tengah-tengahnya menyembulkan beberapa pulau kecil yang mempesona. Angin pantai yang sejuk sangat membuai. Suasananya nyaman dan romantis. Siapapun pasti akan terpacu adrenalinnya unt

Happy Bezdey

Aku ingin menunjukkan bulan untukmu, tetapi ternyata langit telah menelannya bulat-bulat. Tapi tak apa, beberapa malam yang lalu kita telah membicarakan tentang purnama yang dikelilingi kilau keperakan. Aku akan menunjukkan bintang untukmu, meski tak dapat kupersembahkan wujudnya tapi aku ingin sekali melihatnya menggantung di matamu. Sebab bila ada bintang menggantung di sana, kau pasti akan selalu memberi cahayanya untukku. Untuk kau pandangi, untuk kau beri sinarnya, untuk kau terangi hatiku. Lelah telah katupkan ke dua mata bening milikmu. Tapi aku tahu kamu tidak tidur, sebab hatimu akan selalu terjaga untukku. Menantikan sesuatu yang kuucapkan untuk kau dengar. Dan aku akan membisikkannya dengan pelan sampai ke alam bawah sadarmu. Hingga hanya ada aku dalam ingatanmu. aku menunggu hingga waktunya tepat untuk dikatakan, meski bertahun-tahun yang lalu terlewatkan begitu saja itu bukan karena aku melupakanmu dengan sengaja. Dan jika sekarang aku mengatakannya dengan sengaja

Menulis; Antara Idealisme dan Profesi*

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengatakan begini kepada saya; saya terpaksa memilih profesi lain karena dunia sastra tidak menjanjikan kehidupan yang layak bagi saya. Secara tersirat ia ingin mengatakan dengan menjatuhkan pilihan menjadi sastrawan berarti pilihan untuk tidak mapan dan menjadi kere . Sedangkan pada saat yang bersamaan saya tengah bermimpi agar suatu saat bisa menyamai JK. Rowling dengan ‘Harry Potter” nya dan saya dengan karya saya yang lainnya. Alangkah indahnya hidup, terkenal, kaya dan tidak kere. Bahkan kekayaan JK. Rowling telah melebihi Ratu Elizabeth sekalipun, mudah-mudahan saya bisa melebihi kekayaan keluarga cendana. Tapi memang begitulah kenyataannya, banyak orang yang takut menjadikan menulis atau dunia sastra sebagai profesinya, karenanya wajar bila tidak ada seorangpun yang berani mencantumkan sastrwan atau penulis sebagai pekerjaannya pada kartu pengenalnya, sebagaimana yang ditulis oleh Musmarwan Abdullah dalam cerpennya bertajuk “Pad

Chapter

chapter I bila menanti adalah kelelahan maka, aku akan menanti untuk cinta sebab cinta tak pernah beri lelah dan bila merindui adalah kekecewaan maka, aku akan merindui rindu itu sendiri sebab rindu tak pernah beri kecewa (06-06-09) chapter II cinta ini dibangun dari purnama demi purnama gelombang demi gelombang yang menetaskan pasang bergemuruh hempaskan seluruh setia dan keikhlasan cinta ini dibangun dari purnama demi purnama tapi entah pada purnama yang keberapa ombak mulai tak kirimkan gelombang dan laut menjadi sepi senyap seperti rindu yang mulai karam (09-06-09) chapter III Prasasti ini kubangun dengan rindu yang berlapis-lapis Hati dan perasaan adalah tumbalnya Jiwa dan pikiran adalah sajiannya Prasasti ini kubangun dengan inisial dari nama-nama Dari kekuatan diri menahan gejolak dan cemburu Bahkan air mata yang mengalir bertubi-tubi Menjadikannya semakin kokoh dan mencengkeram Prasasti ini telah menggerogoti jiwaku S