Langsung ke konten utama

Happy Bezdey

Aku ingin menunjukkan bulan untukmu, tetapi ternyata langit telah menelannya bulat-bulat. Tapi tak apa, beberapa malam yang lalu kita telah membicarakan tentang purnama yang dikelilingi kilau keperakan.

Aku akan menunjukkan bintang untukmu, meski tak dapat kupersembahkan wujudnya tapi aku ingin sekali melihatnya menggantung di matamu. Sebab bila ada bintang menggantung di sana, kau pasti akan selalu memberi cahayanya untukku. Untuk kau pandangi, untuk kau beri sinarnya, untuk kau terangi hatiku.

Lelah telah katupkan ke dua mata bening milikmu. Tapi aku tahu kamu tidak tidur, sebab hatimu akan selalu terjaga untukku. Menantikan sesuatu yang kuucapkan untuk kau dengar. Dan aku akan membisikkannya dengan pelan sampai ke alam bawah sadarmu. Hingga hanya ada aku dalam ingatanmu.

aku menunggu hingga waktunya tepat untuk dikatakan, meski bertahun-tahun yang lalu terlewatkan begitu saja itu bukan karena aku melupakanmu dengan sengaja. Dan jika sekarang aku mengatakannya dengan sengaja bukan karena aku ingin mengkhianati siapapun.

Untuk sekali ini biarlah aku mendengar apa yang dibisikkan oleh hatiku, walau mungkin nanti akan berubah kembali. Saat ini hanya kau teman terbaik yang kupunya, sahabat tempat mengadu resah yang bergelombang. Dan hanya kau yang bisa mengajariku bagaimana menebus rindu dengan cara yang tak biasa.

Selamat hari jadi, semoga suatu hari nanti aku bisa benar-benar melihat bulan dan bintang menggantung di matamu.


14 juni 2009

Komentar

  1. thanks................for this poems..sweet poems

    BalasHapus
  2. Sweet poem..terima kasih

    BalasHapus
  3. thanks udah ngunjungi bloggku, aku baru tahu kalau kamu punya blogg hehehe.....maklum, beberapa waktu silam kita jarang berkomunikasi, tapi hati kita terus bercengkerama tanpa jeda

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis