Langsung ke konten utama

Ketika Cinta Kehilangan Status

“Papa, kapan kita ke luar kota berdua, paling tidak untuk seminggu. Mama akan melakukan apa saja untuk papa.”

Papa!

Deg! Mendadak perutku menjadi mual dan merasa geli.

***

Jalanan yang sedang kami tempuh serupa ular yang meliuk-liuk, rutenya tidak mulus, naik turun pegunungan, kadang-kadang ketika mobil menghentak seolah-olah seperti terbang namun kembali membuat kami terhenyak dan jantung terasa berdesir. Namun ini tidak sampai mengaduk-ngaduk isi perut sehingga tak perlu dijadikan alasan kenapa perutku tiba-tiba mual.

Perjalanan ini sangat menyenangkan, bayangkan di sisi kanan kami adalah pegunungan terjal berkapur yang diseliputi oleh pepohonan hijau yang asri dan segar. Sedangkan di sisi sebelah kami adalah lelautan lepas yang luas. Airnya biru, gelombangnya teratur walaupun kuat. Di tengah-tengahnya menyembulkan beberapa pulau kecil yang mempesona. Angin pantai yang sejuk sangat membuai. Suasananya nyaman dan romantis. Siapapun pasti akan terpacu adrenalinnya untuk membayangkan hal-hal indah dan menyenangkan.

Tak terkecuali bagi pemilik tubuh kecil seorang perempuan, ia duduk diapit oleh dua orang teman di sebelah kiri dan kanannya. Perawakan tubuhnya yang kecil membuatnya tetap terlihat muda meski umurnya hampir kepala empat. Selera humornya tinggi dan semangatnya tak kalah denganku yang terpaut jauh dengannya.

Dalam duduknya ia tak banyak bicara, tetapi aku yakin batinnya sedang berperang rasa ketika itu. Jari-jarinya yang tirus menterjemahkan semuanya, tat tit tut bunyi keypad handphone. Lalu berselang sesaat setelah itu ia menatap ke luar jendela mobil, tersungging senyum lepas penuh bahagia dari bibirnya yang tipis.

Aku yang duduk persis di belakangnya hanya memperhatikan mimik wajahnya yang sumringah. Meski membelakangi tetapi aku dapat melihatnya dari samping. Karena cukup dekat dengannya aku nyaris tahu apa yang tengah difikirkan olehnya.

Tat tit tut...kembali keypad handphonenya berbunyi. Kembali kepalaku melongok, posisiku yang persis di belakangnya membuatku tak kesulitan untuk melihat apa yang sedang ia tulis dengan jemarinya. Dan aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat, ia memanggil Papa kepada seseorang. Lelaki yang aku tahu bukan ayah dari anak-anaknya. Dan...apa aku tidak salah lihat, ia rela melakukan apapun?

Dalam fikiran singkatku ketika itu, rela melakukan semua bisa berarti apa saja, bisa sekedar membalas sms dari lelaki itu, bisa untuk jalan berdua, bisa untuk makan bersama, bisa untuk mengobrol, tertawa, bercanda....bahkan bukan tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang pantas dilakukan seorang perempuan kepada seorang laki-laki yang menjadi papa bagi anak-anak mereka. Bukankah tadi ia menyebutnya papa?ah, segampang itukah memanggil seseorang dengan sebutan?

Aku pusing. Dalam jiwa keberdosaanku yang tak sedikit hati kecilku menolak semua penglihatan tadi. Dalam pemikiranku yang sempit terjadi pemberontakan, mengapa seseorang yang sudah bergelar istri dan telah menjadi seorang ibu masih mengejar kemesraan dari seseorang yang bukan suaminya. Dan mengapa lelaki yang telah mempunyai istri masih berbagi kasih kepada perempuan yang bukan istrinya. Mengapa sebagian besar orang dapat membagi sayang dan kemesraan dengan sempurna kepada orang yang bukan istri/suaminya, sedangkan kepada pasangannya mereka hanya menebar kekakuan yang menyemaikan kejemuan.

Aku pening. Bukan karena aku bersih dari semua dosa dan aib. Tetapi dia ibu. Dia istri. Dia pemilik dari lima anak-anaknya.

Jalanan yang kami tempuh masih berkelok, penerang jagad di ufuk barat telah memerah telur. Lautan yang luas dan berombak telah menelannya. Seperti tertelannya kasih seorang ibu kepada anaknya dan seorang istri kepada suaminya kepada seorang “Papa”. Padahal “Papa” bukanlah lelautan yang luas, dan laut tidaklah pernah menelan matahari. (Ihan)

01:15 pm

17 juni 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.