Langsung ke konten utama

Surga yang berganti musim

Hidup ini adalah pilihan. Karena ia pilihan maka ada saat-saat di mana kita harus mengambil keputusan. Dan keputusan, adalah suatu hal yang selalu berkaitan dengan masa depan, sesudah hari esok, sesudah lusa, lusa raya dan seterusnya.
Keputusan tak pernah bisa dibuat untuk masa lalu. Sebab masa lalu tak bisa diulang kembali, meski dalam alur cerita yang tak harus persis sama. Masa lalu hanya bisa diingat untuk dikenang, lalu sesekali kita menginginkannya untuk kembali dinostalgiakan.
Seperti aku. Yang selalu memimpikan masa lalu dalam mimpi-mimpiku. Mimpi yang benar-benar sebab hadirnya ketika malam telah jula dan waktu telah membuaiku dalam pejam yang tenang. Masa lalu yang mengantarku menjadi pemimpi ketika matahari mulai bertasbih bersamaan dengan ayam yang berkokok merdu. Benar-benar impian sebab aku melakukannya ketika aku sedang tidak tidur.
Bila ini padang. Maka sebagian ingatanku tentang masa lalu telah mengering dan menguning. Karena memang tak pernah terfikirkan untuk menyuburkannya, lupa untuk selalu menyiramnya.
Tapi mimpi yang datang sekali-sekali membuatku kembali terlempar ke masa belasan tahun lalu. Di tanah yang kemudian berakhir dengan air mata. Di tanah yang kemudian menelurkan takut dan cemas bagi para perindunya. Seperti aku.
Bila ini padang. Maka jalan setapak yang dulu pernah kulalui telah menjadi belantara. Bahkan parit-parit kecil yang dulu menjadi tempat berkunjung favorit kami telah mengering karena hisapan matahari yang begitu gagah. Dan aku tak lagi bisa melihat bagaimana pucuk Jeuruweng menelan matahari yang memerah telur itu untuk membalutnya dalam gelap yang sunyi.
Jalanan setapak itu, mungkin sekarang telah berubah menjadi sarang-sarang dari padang kering yang dihuni oleh belasan atau puluhan babi hutan yang liar. Yang merusak kebun-kebun. Yang menghancurkan pohon-pohon. Memporak-porandakan sawah ladang.
Atau menjadi laluan gajah-gajah beringas yang tak lagi mengenal belasan kasih. Yang begitu disanjung dengan pujian dan sebutan khusus. Tetapi tetap saja ia menggedam-gedamkan kakinya hingga tumbanglah pohon-pohon. Menangislah orang-orang. Mereka memaki dalam hati dengan geram.
Jalan setapak ini.
Dulu kulalui dengan beberapa orang temanku. Dengan menenteng kantong keresek dan timba-timba kecil berisi perlengkapan mandi. Adalah ritual yang menyenangkan ketika jarak berkilo-kilo meter menjadi tempuhan saban sorenya hanya untuk melakukan sesuatu yang disebut mandi. Meskipun setelah itu kami harus kembali bermandi keringat. Namun kebersamaan itu tak akan tergantikan oleh apapun, mungkin juga akan mengalahkan keberanian babi hutan yang hanya berani mengintip kami dari jauh.
Pohon-pohon cabai, kedelai, kacang panjang, dan rerumputan begitu girang ketika kami melalui jalanan itu. Dahannya bergoyang-goyang. Tungkainya menjulang-julang. Orang-orang di tanah ini tak pernah keluhkan apapun.
Di tanah ini dulu aku belajar mengaji. Pada sebuah rumah yang hanya diterangi dengan lampu teplok yang setiap bulannya membayar tiga ratus rupiah untuk membeli minyak tanah. Dengan lampu-lampu itulah kami menamatkan beberapa kali Al Quran tanpa mengenal iqra’. Belajar mengeja huruf dan juz amma.
Tak ada yang lebih menyenangkan usai mengaji selain bermain petak umpet. Lalu setelah itu mempersiapkan diri untuk diteriaki oleh pemilik rumah karena bunga-bunganya rusak karena kami. Obor-obor dari daun kelapa kering menjadi penerang di jalan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tanah itu surga bagi kami.
Sekolah yang akan ditutup ketika perang jilid pertama usai. Lalu para orang tua ramai-ramai menyekolahkan anaknya untuk menyelamatkan sekolah itu. Sekalipun untuk anak tak cukup umur. Seperti aku.
Dalam keranjang di belakang sepeda motor ayahku ketika itu. Api menyala dari atap sekolah yang tak terlalu bagus. Aku mengintip takut. Siapa yang membakarnya? Mengapa surga berubah menjadi neraka pada hari itu.
Sekolah itu kembali terselamatkan. Oleh para pejuang-pejuang seperti ayahku, ayah temanku, dan ayah semua orang yang ingin anaknya pintar. Kami diajarkan a – be- dan ce. Huruf-huruf yang sama sekali belum kukenal olehku. Ketika itu umurku belum genap lima tahun. Maka hanya bisa cemberut saja aku ketika guru-guru mengatakan aku menulis huruf cina. Ingin tertawa aku mengingatnya, huruf I kubuat bercabang seperti Y. Topi miring dan sepatu terbalik menjadi langgananku bila sesekali ibu alpa memeriksaku. Tetapi beruntungnya aku tak pernah tinggal kelas. Seingatku ketika itu tahun 1991.
Tanah ini seperti surga yang bermusim lalu kembali menjadi neraka. Selalu saja ada korban untuk setiap pergantian musim itu. Sebelum aku masuk dalam keranjang di belakang sepeda motor ayahku, samar-samar kuketahui ada seseorang yang harus pecah kepalanya. Di tikungan jalan. Dan nama itu masih ada dalam kepalaku hingga sekarang.
Begitu banyak tumbal untuk mempertahankan jalan setapak ini. Sembilan tahun kemudian, rasa senang hinggap hingga ke ubun-ubun karena aku lulus sekolah menengah pertama. Tetapi rasa senang itu berubah menjadi petaka besar ketika ayah seorang teman dekatku harus mati oleh seutas tali yang tak bertuan. Ketika itu aku tak lagi berada di keranjang, karena tubuhku yang besar tentu saja tak muat dalam keranjang petak itu.
Ingatan ini hampir tercerabut dari akarnya. Tetapi tetap tak lupa bagaimana aku menyusuri jalanan setapak ini dengan baju tanpa lengan. Meninggalkan rumah-rumah yang berseliput asap dan jerla api. beginikah caranya ketika surga akan berganti musim menjadi neraka?
Tanah ini, telah mengajarkanku banyak sekali arti kehidupan, kerja keras, untuk tidak bermalas-malasan. Percaya diri dan menjadi pemimpi!
Dalam barisan di jalan setapak, ketika matahari telah memerah telur. Dengan timba kecil atau kantong keresek di tangan aku selalu bermimpi. Untuk menjadi berbeda, meski ketika itu aku tidak tahu apa itu perbedaan.
Lalu tanah ini mengajarkan perbedaan. Perbedaan yang sulit kupahami karena mengenai bahasa dan kebiasaan. Tentang asal muasal dan nenek moyang.
Tanah ini tak lagi menjadi surga. Sebab jalan setapaknya telah benam dalam lumpur kejahatan. Kami mencari tanah lain tempat dimana sebuah istana bisa terbangun dari kerja keras dan harapan. Tapi lagi-lagi iblis berkeliaran di sana. Mereka menggoda dan merayu. Hingga kali ini ayahku lah yang pergi untuk selamanya. Tumbal atas keserakahan dan kenistaan. (Ihan)
00:45 am
19 juni 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis