Langsung ke konten utama

Perempuan Yang HIdup Tanpa Cinta

Satu malam di awal bulan juli. Bulan serupa sabit meruncing. Namun tetap bersinar penuh goda. Bintang berkerlipan penuh pesona. Angin bertiup sepoi. Memabukkan dedaunan. Semilir membelai alam. Merdu. Syahdu.

Seorang gadis berusia seperempat abad kurang setahun. Menikmati kesendiriannya pada ujung ranjang yang berbalut sprai batik berwarna coklat. Sesekali ia menyeruput air es yang dibelinya di warung sebelah. Dingin. Sejuk mengaliri kerongkongannya.

Pikirannya berkelindan. Saling beradu gemuruh dengan dentingan pukulan meja oleh lelaki-lelaki yang bermain batu di warung sebelah. Matanya melirik penunjuk waktu di layar notebooknya. Hanya kurang 43 menit pergantian tanggal baru. Tetapi kantuk yang ditunggu tak kunjung tiba. Justru lalakan matanya hampir menyerupai bulan.

Ia ingin, lelah yang kuat segera merengkuhnya dalam tidur yang damai. Ia rindu mimpi yang indah segera menarik dirinya dalam buai lelap. Tapi kelindan demi kelindan membuatnya tak bisa segera merasainya. Ia masih terduduk. Di sudut ranjang berseprai batik. Dengan tangan menari di atas keyboard. Mencoba menuliskan sesuatu. Untuk mengundang kantuk. Untuk membuang resah.

Pikirannya kembali mengulang. Pada dialog dengan seorang ibu. Pada sebuah sore yang hampir terbenam. Yang sudah menjalani kehidupan berkeluarga hampir lima belas tahun. Dan telah melahirkan beberapa orang anak dari buah cinta ia dan suaminya. Tapi benarkah cinta? Sebab tak sekalipun sampai hari ini ia mendengar suaminya melafadzkan cinta kepadanya.

Dan ia tak berani menanyakannya sebab komunikasi diantara mereka tidak terbuka. Tidak ada canda tawa, tidak ada kata-kata mesra, tidak ada waktu untuk saling mencurahkan isi hati. Semuanya berjalan begitu saja. Kaku. Beku. Sunyi. Sepi. Tanpa warna tanpa intonasi. Datar!

Tapi ia sendiri tak berani menggugat. Sebab muasal mereka menikah karena pertalian jodoh oleh masing-masing orang tua. Dan untuk itu ia harus meninggalkan lelaki kekasihnya. Untuk menikah dengan lelaki yang kemudian bergelar menjadi suaminya. Ayah dari anak-anaknya. Menantu bagi orang tuanya. Tak ada protes secara lisan. Hanya hati berontak penuh sesal. Namun tak kuasa menahan ketakberdayaan pada orang tua, jaman dan adat.

Namun perempuan itu terus berjuang. Untuk selalu berusaha mencintai dan menyetiai suaminya. Agar orang-orang menyangka bahwa mereka adalah pasangan yang serasi, harmonis dan damai. Sehingga dengan itu akan mengukuhkanlah keputusan orang tua mereka dulu; bahwa mereka tak salah memilihkan suami untuk anak perempuannya.

Orang tua, tak pernah masuk ke dalam hati anaknya. Lalu berusaha mengerti dan mencari tahu apa yang dimaui oleh anak-anak mereka. Para orang tua dalam setiap kesempatan selalu berusaha mengkebiri hak anak. Untuk memilih jalur pendidikan, untuk bekerja di mana, untuk menikah dengan siapa.

Gadis itu menerawang. Matanya menjelajah setiap jengkal sudut kamarnya. Langit-langit seperti memberinya penegasan bahwa hidup ini memang kumpulan dari keputusan-keputusan. Namun terlalu sering keputusan yang salah mendominasi si pembuat keputusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.