Langsung ke konten utama

Cinta Yang Tak Sempurna

Masih terlalu awal untuk bisa dikatakan makan malam, tetapi ritual itu telah selesai dilakukan sebelum pukul enam sore. Oleh sepasang suami istri. Tetapi sang istri hanya menemaninya saja. Tidak ikut menyantap hidangan bersama sang suami. Gulai ikan Kakap, balado udang dengan potongan kentang, menjadi pilihan untuk menyambut kedatangan suaminya kali ini.

Garis senang terbentuk di ruas bibirnya. Rasa puas terlukis pada wajah bundarnya. Suaranya nyaring. Setidaknya kali ini ia benar-benar tengah menikmati dirinya sendiri sebagai perempuan, sebagai seorang istri, sebagai ibu. Kelengkapan seperti inilah yang selalu ia dambakan, suami yang selalu berada di sampingnya, anak yang selalu bisa merasakan dekapan ayahnya kapan saja, makanan yang bisa dinikmati berdua, dan mungkin juga membuatkan kopi untuk lelaki yang amat dicintainya; suaminya.

Tetapi setiap kali mengingat itu pikirannya terasa berhenti. Karena selalu saja takutnya menjadi nyata. Sang suami menyudahi makannya. Lalu ia cuci tangannya dengan air yang telah disediakan oleh sang istri. Dengan waslap yang bergantung di dinding ia sapu mulutnya. Lalu ia seduh mulutnya dengan air putih untuk melancarkan pencernaannya. Dan terakhir mengunyah pisang Raja yang memang selalu tersedia di meja makan.

Lalu ia beranjak, melewati koridor kecil dalam rumahnya. Menoleh sedikit ke kamar tidur mereka dan ia segera sampai ke pintu utama. Lalu keluar dan mengucapkan selamat tinggal. ia akan pergi untuk beberapa hari. Kembali ke kehidupannya yang resmi. Bahkan ia tak sempat berpamitan pada bayi kecil miliknya yang telah labuh dalam ayunan. Ia sedang tak tidur. Matanya mengerjap-ngerjap seperti ingin mengatakan sesuatu. Atau mungkin menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu padanya. Seperti misalnya; Papa pergi dulu ya Nak. Atau Papa pergi tidak akan lama. Tak ada. Dan bayi itu memilih bergerak-gerak sebagai wujud protesnya.

Suara mobil menjauh. Bayangnya tak lagi tampak dipandang mata. Perempuan istrinya itu tersadar dari mimpi singkatnya. Mungkin memang sudah ia ditakdirkan untuk selamanya begini. Tak sempat ia berkeluh kesah apalagi untuk bercerita tentang rasa sepi dan susahnya. Suaminya harus kembali meninggalkannya. Dan juga anak mereka. Bibirnya menyungging senyum. Hampa. Hambar. Tanpa harapan.

“Begitulah....” desahnya. Pias.

Perlu waktu lama ketika ia benar-benar mencintai lelaki itu hingga akhirnya mereka menikah dan jadilah sepasang suami istri. Rasa tak percaya menjadi pelengkap kekurang sempurnaan itu. Persis seperti membangun istana di atas pasir. Kapan saja bisa hancur.

Tak lama berselang. Ia mengambil handphonenya dan menghubungi suaminya. Sekedar untuk mengatakan selamat jalan dan berhati-hati. Sebab ada yang menantinya di sini, dan di sana; istri dan anak-anaknya.

“Jangan main perempuan!” ucapnya ketus, mengingatkan sekaligus ancaman.

Tentu ia sudah sangat mengenal suaminya. Maka bila ia mengatakan seperti itu bukan tanpa alasan. Mengingat itu ia ingin memutar waktu, agar ia bisa kembali pada saat di mana ia belum mengenal suaminya. Ia ingin dibuatkan skenario lain dari Tuhan. Tetapi keinginan itu berubah menjadi sesal. Sebab waktu tidak bisa diulang kembali. apalagi skenario Tuhan yang ditulis menjadi garis hidup seseorang.

Maka ia hanya pasrah menjalani hari-harinya. Ia merasa tak sempurna sebagai perempuan.

4 juli 2007

Menjelang tengah malam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.