Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Di Pintu Terakhir

AKU melongok ke luar jendela. Mataku liar menatap langit yang kelabu. Agaknya langit masih mengandung, mungkin sebentar lagi anak-anak hujan akan lahir dengan bobot berlebih. Aku masih menatap langit. Daun-daun bergoyang digoda kesiur angin. Lengang. Di cerobong masjid kudengar lantunan ayat suci dikumandangkan dengan merdu. Jika bisa kujadikan sebagai ibarat, bolehlah kukatakan bahwa hari ini aku sedang berdiri di pintu terakhir. 364 pintu berkelir dua belas bulan telah kulalui dengan segala macam warna. Berawal di Januari dan berakhir di Desember yang saban hari basah dan lembab.

(Membunuh) Anak di Depan TV

foto dari google DI hari Sabtu -karena tidak bekerja- saya sering memanfaatkan waktu untuk memasak, membaca buku/novel, menonton, dan tidur. Itu saya lakukan jika tidak ada kegiatan lain di luar rumah. Aktivitas pagi hari saya awali seperti biasa dengan bersih-bersih rumah. Setelah itu sembari menunggu jadwal masak saya manfaatkan untuk tidur-tiduran sambil menonton TV. Program favorit saya adalah saluran TVRI yang mengusung selogan Saluran Pemersatu Bangsa. Sebelum mengenal saluran lain saya sudah mengenal TVRI sejak seperempat abad silam. Siarannya yang pernah menjadi favorit saya adalah Keluarga Cemara, Haryati, Combat dan telenovela Hati Yang Mendua. Nah, menonton TVRI di hari Sabtu adalah upaya saya untuk menghadirkan kenangan di masa lalu.

Pagi Itu, Sembilan Tahun Silam

PAGI itu, aku sedang mengaduk adonan agar-agar di tungku kayu. Asap dari kayu bakar tak hanya membuat mataku perih dan berair, tapi juga hidung jadi beleran. Abu bekas kayu bakar sebelumnya di sekitar tungku beterbangan. Percikannya menempel di bajuku. Tak lama kemudian, kukira adonan di panci belum sempurna mendidih. Atap rumah yang terbuat dari daun rumbia tiba-tiba bergoyang. Tiang-tiang dapur yang berupa kayu (beroti) kecil berderik-derik. Goyangan yang semula hanya berupa hentakan berubah menjadi goncangan yang begitu hebat. Aku menancapkan kaki di lantai dapur yang sepenuhnya berupa tanah. Ujung-ujung kaki menancap kuat. Di atas tungku adonan bermuncratan dari dalam panci. Setelah beberapa saat aku mendengar suara nenek dari luar rumah. Ia berteriak-teriak menyuruhku keluar. Ia khawatir rumah akan roboh karena guncangan yang demikian hebatnya. Aku menurut karena goncangannya memang sangat kuat. Hampir saja membuatku limbung. Di luar kulihat nenek berdiri di halaman samping

di Bulan (purnama?)

tak sengaja aku melihat bulan, belum sempurna penuh memang (atau sudah?) tak begitu jelas pandanganku terhalang bayang-bayang pohon aku mencari-cari bayangmu di sana tak ketemu memang yang muncul justru kenangan beribu-ribu kenangan senyum, tawa, dan air mata rindu, sesak dan melesak aku mencari-cari sungai tempat biasa aku menepi di hatimu, di rindu yang menggebu-gebu di cinta, di yang tak terdefinisi di kasih, di sayang, di yang tak terjemahkan 16 Dec 2013

Cinta adalah Omong Kosong

Kadang-kadang kita hanya perlu berbicara kepada angin, di pinggir pantai, di antara riuh gemuruh ombak. Berteriak, tersedu, mungkin juga tertawa. Angin seumpama rasa yang tak terbentuk, hanya dapat dirasakan. Gerakannya, kadang begitu anggun, kadang begitu liar. Membuat hati berdebar-debar. Merobek dan menyakiti. Rasakah yang menyemai benih rindu kemudian tumbuh besar menjadi cinta? Jika rasa itu angin, maka sah-sah saja menganggapnya semacam kamuflase, atau fatamorgana. Tak ada yang bisa diharapkan selain harapan itu sendiri, bahwa angin itu ada, bahwa rasa itu bukan utopia. Maka dengan itu kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Meredakan amuk amarah, meluluhkan emosi. Membuat sadar bahwa rasa bukanlah sekotak surat yang dikirim tanpa alamat. Yang bisa diterima oleh siapa saja.

Di sini

gambar diambil dari sini di tempat ini harapan masih memiliki tempat walau pagi seringkali hanya disambut percikan air dan ikanikan yang berenang di kolam berlumut juga rumputrumput yang semakin tumbuh subur di perdu pohon mangga di perdu pohon kelengkeng di sekeliling pohon semangka yang tumbuh tanpa sengaja di secangkir kopi kita kerap memandangi citacita di koran-koran lusuh yang diterbangkan angin di obrolan yang lebih banyak diwarnai diam lalu kita beranjak masuk ke ruangan masing-masing

Menunggu (mu)

Hutan bambu Di ujung senja yang menjuntai aku masih menunggu. Bahwa sebentar lagi langit akan gelap, memang! Tapi gelap itu tidak akan mematikan harapanku untuk menunggu (mu). Justru gelap akan menuntunku pada pagi. Waktu di mana sinar mentari terburai dan aku bebas menyirami tubuhku dengan cahayanya. Waktu di mana burung-burung terbangun untuk berkicau. Lalu satu dua suaranya paling merdu tertangkap telingaku. Meski setelahnya aku masih belum menangkap merdu suaramu, tak apa. Selalu ada kisah manis di balik prosesi menunggu (mu) bukan? Menunggu (mu) adalah jeda bagi puisi untuk melahirkan narasi. Hingga akhirnya kau datang bersama kesiur angin dan setitik embun.

Yuk, (menolak) seks bebas!

The Stiletto Heel @internet Kemarin pagi saat sarapan saya sempat-sempatkan duduk di depan TV, padahal udah nyadar bakal telat sampai di tempat kerja. Kebetulan sepupu saya lagi nonton chanel RCTI, pagi-pagi begitu apa lagi kalau bukan DahSyat yang jadi pilihannya. Tapi ada yang menarik perhatian saya pagi kemarin, selain hostnya yang lebih banyak dari biasa, juga pita merah yang dipakai oleh masing-masing host tersebut. Juga para penonton yang memenuhi studio DahSyat. Saya tanya ke sepupu kenapa sih mereka itu pada pakai pita warna merah begitu? Sayangnya adik sepupu saya juga ngga tahu. Nonton ya nonton aja dia. Baru ngeh ada pita-pitaan setelah saya nanya. Beberapa saat kemudian barulah saya tahu kalau mereka sedang memperingati Hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada Minggu, 1 Desember 2013 kemarin. Selesai sarapan saya pun langsung cabut berangkat kerja. Di tempat kerja, setelah cek email dan menyiapkan beberapa bahan pekerjaan saya cek timeline di facebook. Beberapa jam

Perih karena cinta

Dan benar, Perih itu rasanya sangat tipis sekali Bagai silet yang menyayat dan breetttttt Tiba-tiba sudah putus nadinya Tapi perih oleh cinta ini rasanya lebih tersayat dari sayatan silet Bukan, ini bukan soal cintaku yang tak terperi Ini oleh cinta mereka yang tidak kukenal Yang kubaca hanya lewat tulisan demi tulisan Tapi perihnya sampai ke hatiku