Langsung ke konten utama

Di Pintu Terakhir

AKU melongok ke luar jendela. Mataku liar menatap langit yang kelabu. Agaknya langit masih mengandung, mungkin sebentar lagi anak-anak hujan akan lahir dengan bobot berlebih. Aku masih menatap langit. Daun-daun bergoyang digoda kesiur angin. Lengang. Di cerobong masjid kudengar lantunan ayat suci dikumandangkan dengan merdu.

Jika bisa kujadikan sebagai ibarat, bolehlah kukatakan bahwa hari ini aku sedang berdiri di pintu terakhir. 364 pintu berkelir dua belas bulan telah kulalui dengan segala macam warna. Berawal di Januari dan berakhir di Desember yang saban hari basah dan lembab.


Hari-hari milik Tuhan adalah hari-hari yang indah. Melewatinya aku menemukan banyak warna, dinamika, juga persoalan yang mendewasakan. Di saat-saat aku hanya mampu melihat kehidupan ini dalam wujud sebatang onggokan lilin, Tuhan menyadarkanku bahwa optimisme itu seluas dan setinggi matahari. Biasnya menjangkau ke berbagai penjuru mata angin. Patutkah aku bermuram durja? Rasanya tak pantas.

Jika hidup adalah perjuangan, maka setengah dari pintu-pintu yang telah kulalui adalah perjuangan yang mengaduk-ngaduk emosi. Perjuangan untuk melatih kesabaran, ketenangan, kematangan berfikir, dan konsistensi dalam menentukan sikap. Dan pada akhirnya aku sadar bahwa setiap perjuangan selalu berurusan dengan konsekuensi. Maka aku memutuskan untuk memacak pijakan kakiku, dengan harapan tentunya akan membawaku pada sinar mentari yang hangat dan sehat.

Untuk sebuah perjalanan hidup, 365 hari bukanlah waktu yang sebentar. Ada usia yang tergerus, ada keinginan yang tergadaikan, juga harapan yang tak terwujud semuanya. Tapi selalu ada kebahagiaan yang mengiringi, kepuasan dan juga kesenangan, yang semua itu tak bisa ditakar dengan materi sebanyak dan seberat apapun.

Apapun, tak patut kukatakan selamat tinggal pada pintu-pintu yang telah kulalui. Telah kutinggalkan, benar! Tetapi pintu-pintu itu hanya serupa anak tangga yang membawaku pada pintu-pintu berikutnya. Pada pintu yang membawa pada takdir yang lebih indah.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.