Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

Menangislah, Di sini

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari air mata yang tumpah. Kau lihat air terjun itu? Jatuhnya seperti air matamu, dan tebingnya adalah kelopak mata. Tempat air berkumpul. Bukankah menyenangkan bagi orang-orang yang merasakan sejuknya? Membuat damai telinga yang mendengar gemericiknya. Menenangkan bagi yang menikmati tetesnya. Kabutnya melenakan pandangan. Juga jiwa.Jangan khwatir, sebab hidup diawali dengan air mata dan diakhiri dengan air mata pula. Kau ingat cerita bayi yang baru lahir dan seorang tua yang melepaskan nafas terakhirnya? Semuanya mengundang tangis. Melelehkan air mata. Seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Tapi, kehidupan tak pernah berhenti sampai di situ.Air mata bukanlah simbol kelemahan. Bukan pula pertanda atas ketidak berartian. Apalagi perlambang kesialan seperti yang banyak diartikan orang-orang. Mereka-mereka itu tidak pandai bersyukur. Sedang kau, aku tahu kau bukan seperti mereka. Menangislah, sebab air matamu adalah terjun yang damaikan semua orang.…

Bangkai

BangkaiOleh : Ihan SunriseEntah sejak kapan aku mulai tak lagi merasakan kenyamanan di rumah ini. Mungkin sejak aroma-aroma aneh itu muncul di rumah kami. Aku tak ingat kapan persisnya. Tapi seingatku, sejak setahun lalu pohon Seulanga yang kutanam di depan rumah kami tak lagi mengeluarkan bau harum. Biasanya wanginya yang khas pelan-pelan akan masuk ke kamar tidur kami. Melalui jendela kecil yang sering kami biarkan terbuka.Lalu melati-melati kecil yang kutanam di halaman belakang, entah sejak kapan pula tak lagi mau berbunga. Padahal dulu bunganya tak pernah putus. Bila angin berhembus maka wanginya yang menenangkan akan masuk ke dalam rumah kami. Memberikan ketenangan dan kedamaian bagi seisi rumah. Terutama aku, karena akulah yang paling sering menghabiskan waktu di rumah. Aku bahkan tak memerlukan pengharum ruangan untuk membuat rumah kami menjadi wangi.Seiring dengan itu sering hadir bau-bau aneh yang kadang begitu menyengat. Mengaduk-ngaduk perut hingga membuatku hampir muntah.…

Mengulang Malam

Masih ingat sepotong lagu yang pernah kau dengar? Yang kemudian membuat kita saling mencintai? Yang kemudian kusenandungkan di telingamu. Di tengah malam setelah bangunku dari tidur. Di tengah kesepian. Di temani kesyahduan. Yang memerindingkan bulu roma. Menggetarkan telinga kita. Menyipukanku dalam malu karena sebelumnya tak pernah kulakukan itu. Dan aku menyelesaikannya untukmu. Lagu itu begitu sempurna.

Masih ingat percakapan-percakapan selanjutnya setelah itu? Setelah kita saling mencintai. Setelah kita saling merindui. Setelah kita mengucapkan janji. Bukan untuk sehidup semati. Bukan untuk saling menelikung. Bukan untuk saling memiliki atau apapun. Tapi perjanjian untuk saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling merindui. Perjanjian untuk saling mengingat, ketika kita dilingkupi kejauhan, ketika kedekatan membekap kita. Melintasi ruang dan waktu.

Masih ingat kan?

Pengulangan itu terjadi, ditemani rintik hujan, ditemani senyap yang syahdu, di…

Zal, Aku kangen Kamu

Zal, debar jantungku; aku kangen kamu, aku kangen semua kebersamaan kita, waktu-waktu yang penuh kalimat panjang, canda tawa, penuh tautan untuk selalu bersama, saling berbagi dan mempermainkan waktu sebagai tali yang memintali percakapan kita.

Aku kangen tawamu, jerit dan marah manjamu. kangen suaramu yang masih disisai kantuk, juga jeda diantara tawa kita yang acap pecah bersama.

Aku rindu pagi Sabtu di bulan April itu, Zal. Mungkin kita tak perlu mengulangya di pagi sabtu bulan April berikutnya. Sebab semua hari adalah sabtu, dan semua bulan adalah april. dan setiap waktu adalah kerinduan. kerinduan yang tak pernah pupus. kerinduan yang selalu hadirkan harapan. dan harapan yang selalu hijaukan cinta.

Aku kangen kamu, kangen tawamu, yang begitu menggeletarkanku, kangen semua kicaumu, yang meski hanya dua patah kata, tapi selalu memantik api semangat dalam jiwaku, mengubah hari-hariku. kangen dengan pertanyaan-pertanyaanmu, yang kadang tak sepenuhnya bisa kujawab.

Zal, aku kangen kam…

Proses Menuju Sukses*

Proses Menuju SuksesOleh; Ihan Nurdin

The world hates change, yet it is the only thing that has brought progress- Dunia benci perubahan, sayangnya hanya itu yang akan membawa kemajuan” – George Kettering-Pepatah di atas terlihat sederhana, tetapi untuk meresapi setiap katanya jelas membutuhkan kematangan akal dan pikiran yang tidak sederhana. Apalagi bila ingin mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, jelas membutuhkan latihan dan kerja keras. Barulah perubahan yang akan membawa pada kemajuan itu terwujud. Tulisan ini bukanlah hasil dari penelitian yang ilmiah, tetapi muncul murni karena adanya keresahan yang mendalam dalam benak diri penulis. Lama berkecimpung dalam masyarakat tampaknya dapat memberikan sedikit jawaban atas teka-teki mengapa mayoritas dari masyarakat kita susah menjadi maju atau berkembang. Perubahan itu sendiri sifatnya umum, tergantung dari perspektif apa kita melihat dan menelaahnya. Tetapi dalam konteks ini marilah kita menyamakan sudut p…

Meramal Kematian

Mati! Kata yang begitu mengerikan bagi seseorang seperti saya. Walaupun usia masih muda tetapi penjemputan oleh Izrail bisa terjadi kapan saja. Bisa siang, bisa malam, bisa pagi bisa sore, bisa di rumah, bisa di jalanan. Bisa ketika terang, bukan tak mungkin ketika dalam gelap gulita. Apalagi dengan bekal yang masih nol besar. Ketakutan itu sering sekali menghantui. Apalagi ketika sendirian. Membayangkan kubur yang gelap, binatang tanah yang liar, dan siksa kubur yang azab. Dan Malaikat-malaikat yang tak kenal ampun. Sungguh pembayangan yang memerindingkan bulu roma.Anehnya, aroma kematian itu kerap menghinggapi saya dalam seminggu terakhir ini. Mengaduk-ngaduk ingatan untuk terus mengingatnya, memikirkannya, hingga melahirkan ketakutan berulang-ulang. Semoga ini bukan pertanda bahwa kematian akan menemui saya dalam jarak yang begitu dekat. “Bekal saya masih nol besar ya Allah”.Tapi ini sungguh mengganggu. Bermula jumat siang (13/11) ketika seorang teman mengirimkan pesan singkat, men…

Obrolan Senja

“Mau ikut minum kopi bareng aku? Mungkin pada segelas kopi kita menemukan jawaban atas masalah kita”. Melalui short message service aku mengajakmu. Hanya sebuah basa-basi yang benar-benar basi. Sebab, kalaupun kamu mau sudah pasti itu mustahil kau penuhi untuk saat ini. Jarak yang beratus-ratus kilo meternya adalah jawaban mengapa aku cukup berbasa-basi. “Tos! Gw juga lagi ngopi kaleng. Sambil mikirin keruwetan ini hahahaha” jawabmu melalui media yang sama. Setelah saling beradu argumen tadi aku ingin sekali melihat wajahmu. Apakah kau benar-benar bisa tersenyum lega, atau senyum penuh kesatiran seperti yang kulakukan. Senyum untuk mengelabui orang-orang di sekitar kita. Senyum untuk menyembunyikan kelemahan kita. Senyum tegar seorang ayah dan suami. Atau senyum keikhlasan seorang kekasih. Tapi paling tidak seperti yang kukatakan padamu, i feel better today. “Keruwetan diciptakan Tuhan untuk dinikmati” jawabku lagi.

Lelaki Bukan Suamiku*

Lelaki Bukan SuamikuOleh; Ihan SunriseGundah ini membatu setelah bertahun-tahun waktu terlalui begitu saja. Aku yang sering terdiam menjemput gelisah setiap kali menjelang tidur. Bahkan mimpi yang datang sebagai bunga tidur tak ada satupun yang bisa membuatku senang. Hingga pagi kesubuhan membuatku terburu-buru untuk segera beranjak lalu segera ke luar untuk memandang matahari. Lelaki bukan suamiku menanti di sana. Dalam wujud yang hanya aku sendiri yang dapat memaknai.“Setiap kali kamu merinduiku, ke luarlah dan lihatlah matahari pagi. Aku akan ada di sana untukmu. Hanya matahari pagi, Sayang.” Ucapnya belasan tahun yang lalu. Hangat sentuhan tangannya di pipiku masih kurasai sampai hari ini. Mesra tatapannya masih bergelantung dalam pundak ingatku. Nafasnya yang harum masih kuhirup hingga detik ini.Mematung aku di bawah langit. Hangat merayap menjalari seluruh tubuhku. Kusapu lembut kehangatan itu pada wajahku yang kian kusut. Desir darah mengalir deras dalam nadiku. Ia hadir hingga…

Kabut di bulan November

Suatu malam diawal bulan November. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut kepadaku. Dan hujan benar-benar turun kala itu, tapi di matakuku. Dan kabut benar-benar ada, tapi di hatiku.
Aku terseok pada kebingungan yang menggulana. Nostalgia lama yang kembali melilit setengah jiwa yang telah lama hampa. Aku terdepak dari keputusan akut. Di antara rintik hujan, di antara asap kabut. Di mataku. Di hatiku. Di antara kehadirannya.
Aku tergeletak dalam palung labirin keruwetan keinginan. Rindu yang membabi buta, dan kebersalahan yang membentang dalam ingatan. Setengah hatiku tercabik, dan setengah yang lainnya bertumbuh. Sebagai syukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan. Kepadaku; kamu dan anak-anak kita.
Aku gugu dalam diam. Pada malam diawal bulan November tahun ini. Pada tahun ke delapan usia pernikahan kita. Aku ingin hujan turun malam itu. Lalu mengirimkan kabut-kabut. Dan hujan benar-benar turun, untuk mensucikan ingata…

Aku masih mencintaimu

Lama aku tak mencandaimu, mungkin waktu selama ini lebih banyak milik hening daripada milik kita. Ritme yang tidak teratur sering kali pertemukan kita pada persimpangan yang tidak searah.Dan aku berusaha mengerti. Sebab waktu mungkin memang sedang menguji kita. Aku dan kamu. Kita berhenti untuk kekalahan, atau kita bertahan untuk kemenangan. Dan aku lebih menyukai yang ke dua. Sebab kau selalu ajarkan itu padaku melalui cintamu.
Siang ini, kau membuatku tercenung, diam dalam kebermainan rasa yang menyelubungi benak. Menggoda diri ini untuk terus bertanya pada diri. Mungkinkah sudah ada yang berkurang setelah faselita ini? Apa benar semuanya mulai terlihat tak sempurna? Ataukah memang apa yang ada di hati ini bukan lagi seperti faselita yang lalu.
Tapi sejak semalam aku mengingatmu, semalamnya lagi, semalamnya lagi, aku sering memimpikanmu, aku sering kesal karena setiap hari tidak bisa bilang rindu padamu. Aku sebal karena harus menunggu lama untuk bisa membelai wajahmu. Aku menemukan j…

Kampung Surga !

Sebuah Memoar; Kampung Surga !Oleh; Ihan Sunrise
Kampung ini kampung surga. Namun tak pernah kulisankan, sebab surga dalam benak setiap orang adalah perbedaan. Sedang bagiku, surga adalah tempat di mana aku bisa tumbuh dan hidup dengan nyaman, tanpa ketakutan, tanpa tangisan, tanpa air mata. Yang selalu memberi tenang dalam damai. Yang selalu tawarkan tawa.
Tempat di mana setiap bukitnya dapat ditunggangi layaknya kuda Sumbawa yang perkasa. Yang membentangkan permadani rumput hijau. Tempat untuk menyaksikan terbenamnya matahari yang merah. Ketika langit mengulumnya pelan-pelan, dan meninggalkan cupangannya sepetak-sepetak di atas tanah.
Ternak-ternak yang bahagia, karena setiap hari digembalakan oleh anak-anak dari kampung surga. Yang tak pernah memancangkan tali-talinya di patingan permanen.
Tempat di mana setiap lembahnya muncul mata air untuk diminum, dipakai mandi, mencuci atau untuk cebok sekalipun. Untuk berkubangnya kerbau dan babi hutan. Bahkan tempat bagi berkembang biakny…

Aku Rindu

Aku ingin bersemedi dalam hatimu. Karena rupanya di sana bermukin segala macam telaga. Bening yang suguhkan damai bagi hati gundahku. Gemericik yang senantiasa pesonakan keteguhan. Untuk selalu berdetik meski sarat gelombang.
Aku ingin tenggelam dalam jiwamu. Jiwa seluas dunia tanpa dinding berkabut. Yang selalu pancarkan sinar harapan meski aku tahu sering kali mendung hinggap di sana. Kekhawatiran dan kecemasan bertubi, layaknya batu yang bertindih-tindih di atas punggung bumi. Tapi kau terus bertahan. Patahkan semua itu dengan senyum dari layar pinisi kehidupan kita.
Aku ingin tidur di pangkuanmu. Meski hanya dalam hayal kupenuhi semua keinginan. Pangkuan yang menenangkan. Sentuhan pada ubun-ubun yang hilangkan gemuruh.Aku rindu!
Rindu untuk bersemedi di hatimu. Rindu untuk tenggelam dalam jiwamu. Rindu untuk tidur di pangkuanmu.
Aku rindu memeluk ibu!

Biarkan Aku Mencintaimu dengan Caraku

“Boleh aku menciummu? Aku kangen!”“Silahkan”“Muach!”“Cukup”“Aku masih rindu, dan ingin menciummu sekali lagi”Dan aku menciummu. Sekali lagi, maka tertebuslah rasa rindu yang telah tertahan seharian ini. Malam yang berlainan. Kau kembali hadir, dalam ruang diri yang selalu basah. Membuat hatiku seketika bergetar hebat dan otakku berfikir cepat. Meraih sejuk dari sekitar untuk segera tenangkan jiwa yang bergemuruh. Sungguh! Aku rindu. Aku tak bohong. Maka kuminta untuk segera menciumimu.Bertukarlah cerita seharian ini, aku dengan ceritaku yang semalam, dan kau dengan kisah lemburmu yang menjelang tengah malam. Selalu ada kenikmatan dari pergumulan cerita itu. Seolah seperti bermandikan kembang tujuh rupa, selalu ada kesegaran, wewangian yang menghampiri dan gelora yang memanjangkan asa.Menjumput-jumput dalam labirin benak, memutar-mutar liang ingat, biarkan aku mencintaimu dengan caraku. ---Mungkin mengingatmu adalah bara. Tapi dengan bara itu aku hidup. Seperti kepulan asap batubara ya…

Rumah Yang Tak Lagi Kesepian

Desah mengiring mentari menuju ambang malam, sebentar lagi kalam-kalam suci akan mengepak-ngepak hingga langit ke tujuh. Menyemerbak hantarkan pujian pada sang Rabb pemilik semesta.
Seperti biasa aku menaiki anak tangga sebelum akhirnya sampai pada pintu kamar yang telah kutempati sejak bertahun-tahun yang lalu. Kali ini ada yang berbeda dari hari-hari kemarin, kemarinnya lagi bahkan kemarinnya lagi, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Terang menyambut begitu pintu utama kubuka, rupanya ruang tamu yang dulunya gelap dan telah alih fungsi menjadi motorcycle port kini telah dipasangi lampu. Entah kapan, karena malam kemarin ruangan ini masih kudapati gelap gulita.
Dua kamar kulalui seperti biasa, namun setumpuk benda aneh yang terletak dipinggir sumur mengalihkan perhatianku. Benda yang dulu pernah ada di rumah ini, namun kejadian besar lima tahun yang lalu membuatnya menjadi terkebiri dan tak lagi berfungsi. Iapun telah berganti wujud menjadi besi tua berkarat yang tak lagi dibutuhkan.…

Ajarkan Aku Jadi Pembunuh

“I will kill him if he leave me, couse he take it my something special in my life. I really love him, i can’t life wihout him”aku tertegun, mencoba menghadirkan sosok orang yang mengirimkan pesan tersebut, perempuan muda yang tak pernah kukenali seperti apa rupanya, yang kutahu suaranya begitu nyaring dan lembut, apalagi ketika ia sedang menceritakan siksa batinnya. Kucoba resapi galaunya dengan jiwaku yang tak sepenuhnya berhasil, sebab pikiran ini masih harus terbagi untuk beberapa butir pekerjaan yang belum selesai. Tak ada keputusan dari pemikiran disela ketergesaan ini, antara menyelesaikan pekerjaan dan keputusan untuk memberikannya sepatah dua patah kata yang mungkin bisa membuatnya tenang.Aku mulai mengantuk, dan tubuhku mulai terasa berat ditambah dengan perut yang lapar belum terisi makanan sejak lepas siang tadi. Penunjuk waktu tepat berada di angka 10.30 pm. Kukemas ranselku yang masih berat begitu pekerjaanku selesai, aku menoleh ke luar, langit gelap dan jalanan terasa b…