Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Maret yang hampir selesai

Kau lihat angka di kalender itu, Sayang? Hari ini sudah tanggal dua-dua, dua-nya dua kali, dua-dua. Sebentar lagi Maret akan usai, akan selesai, seperti musim yang menanggalkan penghujan Ia pun beralih pada kemarau. Mungkin, sebentar lagi titik-titik api akan bermunculan, memantik, membakar batu, melahap belukar. Kau ingat Maret? Ini sejarah bagi kita, bagi aku dan engkau; aku dan kamu; kita Berkedip-kedip bagai alarm di ingatan kita. Kenangan tentang Maret yang syahdu, penuh harmoni, dan juga kisah. Ah, seperti apa ritmisnya? Ada mendung, gerimis, lalu hujan lebat, petir atau guntur bergemuruh, menggigilkan perasaan kita. Lalu menjadi embun, matahari muncul, hangat dan merambat hingga ke ubun-ubun kita. Ah...teduh rindang pohon itu mengingatkanku pada matamu yang tenang, mendamaikan dan melesakkan rindu dalam riuh bising perasaan. Ya, ini maret, kita pertama menyemai kecambah itu di bulan ini, di awal musim yang hangat setelah poranda yang parah. Kita dan Maret; adalah s

Tikungan

ENTAH pada tikungan ke berapa dalam hidupku, tiba-tiba saja aku diliputi kegamangan. Mungkin parah, dan mungkin juga entah. Entah, sebab aku tak yakin dengan apa yang kusebut sebagai parah itu. Kekesalan itu, mungkin hanya seperti kerikil kecil, kuambil di antara setumpuk kerikil liar lainnya, di tepi telaga aku melemparnya tanpa ampun.... plung...bersamaan dengan halo yang terbentuk di permukaan air. Maka tenggelamlah kerikil itu. Tenggelamkah marahku? Ah, kegamangan ini membawaku pada suasana melankolik yang juga entah. Aku berharap hujan di musim kemarau. Sementara di gunung titik-titik api sebentar lagi akan muncul akibat kekeringan. Akan terbakarkah aku? Tidakkah embun-embun di pengujung subuh itu bisa menyelamatkanku. Pada kali ini, selepas tikungan panjang kedewasaan, aku terfikir akan mukjizat dan keajaiban. Seperti apa bentuknya? Ah, bukan seperti kerikil pastinya, bukan juga hujan, bukan kemarau apalagi subuh. Ah... seperti dhuha kah? Yang selalu memberi harap dan ke

Mengapa Saya Harus Menulis?*

SEBAGAI sebuah kata kerja, menulis punya arti beragam. Tergantung siapa yang menafsirkannya. Tafsiran tersebut tentunya tak terlepas dari apa yang "dimakan" oleh seseorang selama proses kreatifnya berlangsung. Pertanyaan mengapa saya harus menulis menjadi pertanyaan umum bagi mereka yang belum memulai menulis. Seperti halnya pekerjaan lain, di balik pertanyaan mengapa tersebut sebenarnya tersirat makna besar. Apakah menulis menguntungkan saya? Diakui atau tidak manusia sebenarnya adalah makhluk kapitalis yang selalu melihat sesuatu dari sisi yang menguntungkan untuk dirinya sendiri. Seseorang yang menyadari bahwa menulis menguntungkan bagi dirinya, maka ia akan menulis. Apa saja keuntungan menulis? 

Aku Mentari

Namaku mentari Yang selalu terbit sesuai titah Tuhanku Memberi harapan bagi yang berharap Memberi hangat bagi yang menginginkan Memberi kehidupan bagi yang rela Aku mentari Yang selalu setia pada rotasi takdirku Aku selalu bersinar Meski kadang terangnya tak sampai ke hatimu Kadang aku redup Bukan karena aku tak sanggup memancarkan binar Tapi sesekali kubiarkan aku luruh dalam gumul awan

Perenang

Seperti seorang perenang yang terus mengarung Dunia juga ibarat air yang arusnya tak bisa diprediksi Kadang deras Kadang tenang Kadang menyenangkan Kadang menakutkan Kadang membuat rindu Kadang ingin menjauhi Seperti air, Mengarungi dunia juga membutuhkan seni Memerlukan keseimbangan, kesesuaian, kelenturan, keluwesan Karena dia air Kita memerlukan kacamata khusus, memerlukan teknik Memerlukan manuver Karena setiap tikungan beda tantangan Setiap kayuh beda aba-aba Karena dunia ini air Nafas kehidupan Seperti kamu... Minggu | 10 | Maret | 2013

Reuni Cinta Empat Sejoli

Etty, Yuyun, Ihan, Rusmi @istimewa SALAH satu hal yang paling kurindukan dalam hidupku adalah berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Mereka yang selalu bisa diajak tertawa bersama, tetapi juga kadang meringis bersama, jika enggan untuk disebut menangis bersama. Setelah sekian lama, kerinduan itu akhirnya terwujud semalam. Kami menghabiskan Sabtu malam sambil nongkrong di kawasan Simpang Lima. Di kedai Cane Pak Nek di depan Mess Pemda Sabang di Banda Aceh. Reunian ini sebenarnya tak terlalu lengkap, sebab masih banyak yang alpa dalam pertemuan itu. Mestinya masih ada Nita Liana, akhwat paling pendiam soal kehidupan pribadinya, tetapi paling kocak dan rame kalau sudah ngumpul bersama. Teman-teman seangkatan lainnya yang tak kalah kocak juga ada Husnul Maulida, Murni, Siti Husna, dan Yusniar. Seperti yang terlihat dalam foto, pertemuan itu hanya ada aku (berkerudung merah), Etty (berkacamata), Yuyun (tangan di bawah dagu) dan Rusmi (memegang canai). Meski berempat kami mampu menyul

Ending

ilustrasi malam Perpisahan yang indah adalah perpisahan yang direncanakan Ini bukan soal kontrak hidup, tapi ini soal konsistensi Ah, malam lengang tahu apa soal konsistensi? Seperti apa bentuknya? Seperti langit yang kelam Atau seperti matahari yang selalu gagah Yang melelehkan rasa dari kepingan salju Menjadi es krim lezat dalam mangkuk oval Sewindu itu lama; Sekedar untuk menjelajah sepasang kornea Sekedar untuk menikmati liur yang manis Sekedar untuk mendayung sepasang perahu bibir Sekedar untuk menyetubuhi alam dengan sejuta wangi bunga Perpisahan yang indah adalah perpisahan yang direncanakan Mungkin dalam bentuk kepingan puisi atau potongan sajak Keduanya adalah penyatuan... ~Ending~

Menikah untuk Apa?

SALAH SATU hal yang paling saya syukuri adalah terlahir di keluarga yang sangat demokratis. Almarhum ayah dan ibu saya tak pernah memaksakan saya dan anak-anaknya yang lain sesuai dengan kemauan mereka. Saat sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi saya selalu diberi kebebasan untuk memilih. Orang tua, khususnya ibu hanya memberi pandangan. Namun semua keputusan tetap dipulangkan kepada kami anak-anaknya. Ayah saya seorang yang tegas, sikap demokratisnya tentu saja dibarengi dengan tanggung jawab apabila sudah menetapkan suatu keputusan. Setelah saya besar dan dewasa, saya mulai menyadari ada tuntutan lain yang biasanya dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya. Khususnya pada anak perempuan; yaitu tuntutan untuk menikah. Tapi saya melihat itu tidak dilakukan oleh ibu saya. Beliau tak pernah meminta saya untuk menikah, apalagi mendesak. Beliau justru sering mengatakan agar saya memanfaatkan waktu muda saya seproduktif mungkin. Ibu tak pernah mempersoalkan dunia kerja sa

Yamaha, Bikin Aku Jadi Macho!

Sumber foto internet. Jenis Yamaha RX King milik ayah saya Siang tadi aku punya kesempatan berkeliling kota. Kebetulan aku sedang libur kerja dan bisa meluangkan waktu sedikit untuk mencari angin segar. Saat tiba di pusat keramaian Taman Sari aku melihat banyak umbul-umbul Yamaha . Rupanya sedang ada perhelatan yang dibuat oleh Yamaha Banda Aceh hari Sabtu ini, 2 Maret 2013. Melihat logo Yamaha yang besar-besar dengan warna menyolok aku terkenang pada masa belasan tahun silam. Ingata n ku terlempar jauh ke masa kanak-kanak saat aku masih tinggal di desa. Desa tempatku tinggal dulu memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit. Media transportasi utama masyarakatnya adalah sepeda motor. Waktu itu sekitar tahun 1990-an aku melihat ada keragaman alat transportasi yang digunakan oleh warga di tempatku tinggal. Juga warga-warga di desa sekitarnya. Umumnya masyarakat yang membeli sepeda motor menyesuaikan dengan kondisi alamnya. Selain berbukit-bukit waktu itu jalan penghubun