Langsung ke konten utama

Menikah untuk Apa?


SALAH SATU hal yang paling saya syukuri adalah terlahir di keluarga yang sangat demokratis. Almarhum ayah dan ibu saya tak pernah memaksakan saya dan anak-anaknya yang lain sesuai dengan kemauan mereka.

Saat sekolah, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi saya selalu diberi kebebasan untuk memilih. Orang tua, khususnya ibu hanya memberi pandangan. Namun semua keputusan tetap dipulangkan kepada kami anak-anaknya. Ayah saya seorang yang tegas, sikap demokratisnya tentu saja dibarengi dengan tanggung jawab apabila sudah menetapkan suatu keputusan.

Setelah saya besar dan dewasa, saya mulai menyadari ada tuntutan lain yang biasanya dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya. Khususnya pada anak perempuan; yaitu tuntutan untuk menikah.

Tapi saya melihat itu tidak dilakukan oleh ibu saya. Beliau tak pernah meminta saya untuk menikah, apalagi mendesak. Beliau justru sering mengatakan agar saya memanfaatkan waktu muda saya seproduktif mungkin. Ibu tak pernah mempersoalkan dunia kerja saya yang jam kerjanya ‘tidak jelas’. Ibu juga tak pernah meminta saya untuk menjadi atau bekerja di luar bidang yang saya tidak sukai. Sekali lagi, beliau hanya memberi pandangan secara halus.

Ngomong-ngomong soal menikah, apakah saya tak ingin menikah? Punya keluarga dan punya anak seperti teman-teman yang lain? Secara naluri iya, tetapi itu tidak terlalu mendesak. Ibarat barang primer, sekunder dan tersier, menikah bagi saya saat ini bolehlah diibaratkan sebagai kebutuhan sekunder.

Sekali lagi saya bersyukur ibu saya tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dan saya yakin beliau mengetahui kondisi saya hingga akhirnya tak pernah memaksakan. Ibu selalu bilang menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Itu artinya saya akan menikah ketika saya benar-benar menemukan orang yang bisa saya “cintai”. Lalu, apakah saya belum menemukan orang itu? Jawabannya sudah, menurut saya cukup ideal, sesuai yang saya suka, kami berdua saling mencintai. Tapi mengapa belum menikah? Mari kita tersenyum untuk takdir yang berbeda J Saya tak pernah menyesal mencintainya.

Saat menuliskan ini di dekat saya ada seorang ibu muda. Ia seusia saya, bedanya sudah menikah dan punya seorang anak berusia sekitar dua tahunan lebih. Saya banyak belajar dari caranya berumah tangga. Kabar buruknya pelajaran yang saya terima bukan hal-hal positif. Untungnya saya cukup punya akal untuk menganalisa semua tindakan negatifnya.

Tulisan ini bukan untuk mencari cela orang lain, tapi sebagai perbandingan. Bahwa keputusan untuk menikah alangkah bijak jika disertai dengan perencanaan yang matang. Menikah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata tanpa mempersiapkan mental untuk menerima perubahan fisik saat hamil, dan melahirkan, kemudian status berganti menjadi orang tua.

Itulah yang tidak saya temui pada seorang tetangga yang saat ini berada di dekat saya ini. Saya mengambil contoh saat ia sedang kesal, anaknya yang belum bisa bicara dengan jelas itu akan disemprot dengan celaan yang tak pantas. Kadang disertai dengan cubitan atau helaan yang membuat anaknya menangis. Saya sering melihat tangannya tergerak refleks memukul atau mendorong ketika si anak melakukan kesalahan.

Perlakuan seperti itu bukan hanya ditujukan pada anaknya saja, tetapi juga pada suaminya. Saya sering mendengar ia melontarkan sebutan serampangan pada suaminya. Saya melihat tak ada sikap hormat atau respect yang diperlihatkan untuk suaminya. Jarang sekali terdengar pujian tentang suami jika ia sedang membicarakan pasal keluarganya.

Masih ada seorang lagi yang sering menyejajarkan nama anaknya dengan penghuni kebun binatang. Kadang disebutnya setan, dan sejumlah makian lain yang saya canggung menuliskannya. Lagi-lagi saya melihat organisasi pernikahan itu sendiri sebenarnya baru dimulai ketika seorang anak hadir. Karena pada saat itu kehidupan menjadi lebih kompleks, perubahan emosional yang tidak stabil dan faktor lainnya yang gampang membuat kondisi seseorang tidak stabil.[]

Komentar

  1. Astaghfirullah.. yah! berarti mereka termasuk orang2 yang tak iklas menikah :D
    smoga kita dihindarkan dari hal seperti itu

    BalasHapus
  2. :-D semoga niat suci pernikahan tidak ternodai dengan sikap-sikap tak dewasa

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.