Langsung ke konten utama

Yamaha, Bikin Aku Jadi Macho!


Sumber foto internet. Jenis Yamaha RX King milik ayah saya
Siang tadi aku punya kesempatan berkeliling kota. Kebetulan aku sedang libur kerja dan bisa meluangkan waktu sedikit untuk mencari angin segar. Saat tiba di pusat keramaian Taman Sari aku melihat banyak umbul-umbul Yamaha. Rupanya sedang ada perhelatan yang dibuat oleh Yamaha Banda Aceh hari Sabtu ini, 2 Maret 2013.

Melihat logo Yamaha yang besar-besar dengan warna menyolok aku terkenang pada masa belasan tahun silam. Ingatanku terlempar jauh ke masa kanak-kanak saat aku masih tinggal di desa. Desa tempatku tinggal dulu memiliki kondisi geografis yang berbukit-bukit. Media transportasi utama masyarakatnya adalah sepeda motor.

Waktu itu sekitar tahun 1990-an aku melihat ada keragaman alat transportasi yang digunakan oleh warga di tempatku tinggal. Juga warga-warga di desa sekitarnya. Umumnya masyarakat yang membeli sepeda motor menyesuaikan dengan kondisi alamnya. Selain berbukit-bukit waktu itu jalan penghubung antar desa di tempat kami belum beraspal. Waktu musim hujan kondisi jalan tidak hanya becek, tapi juga berlubang di beberapa titik tak jarang ditemui mirip kubangan kerbau.

Seingatku waktu itu tidak ada masyarakat yang mempunyai sepeda motor jenis bebek, merek apapun juga. Umumnya mereka membeli sepeda motor yang tangguh, dan terkesan maskulin, sehingga mampu untuk mengendarai medan jalan yang berat.

Satu-satunya merk sepeda motor yang dipakai waktu itu adalah Yamaha jenis RX King. Tidak seperti sekarang sepeda motor sangat banyak macamnya. Yamaha saja memiliki beberapa jenis misalnya di antaranya Mio, Xeon RC, dan lainnya. Masyarakat jadi punya banyak pilihan.

Seperti warga lainnya, orang tuaku juga memilih Yamaha RX King sebagai alat transportasinya. Setiap hari ayahku mencari nafkah dengan sepeda motor itu. Almarhum ayahku waktu itu seorang pedagang hasil bumi, saat kami masih kecil ia berkeliling desa yang jaraknya sangat jauh untuk membeli kakao kering. Di jok belakang sepasang keranjang digantung, di dalam keranjang rotan itulah ia memasukkan biji-biji kakao yang ia beli.

Saat musim hujan tak jarang ayah pulang dengan kondisi sepeda motor penuh lumpur. Belum lagi beban yang begitu berat di jok belakang dan di keranjang. Tetapi sama seperti ayahku, Yamaha yang dikendarai ayahku tetap terlihat tangguh.

Bukan hanya ayahku, bahkan seorang mantra dari desa tetangga kulihat setiap hari berkeliling kampung dengan motor Yamaha. Ada juga seorang pekerja kebun yang menggunakan Yamaha untuk pergi ke areal perkebunan yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Anak-anak muda di kampung kami juga lebih menyukai Yamaha karena mereka terlihat gaya saat mengendarainya.

Aku sendiri, meski perempuan menyukai Yamaha RX King. Kesan maskulinitasnya sangat kental, aku merasa sepeda motor itu tak hanya tangguh, tapi juga keren. Itu juga yang membuatku terus menerus menahan rasa penasaran untuk mencobanya. Aku ingin bisa mengendarainya, menginjak remnya, menarik gas, dan mengoper persnelingnya. Saat SMP keinginan untuk belajar sepeda motor sangat kuat, apalagi saat teman perempuanku yang sebaya, juga sudah diajarkan mengendarai Yamaha RX King milik ayahnya.

Namun karena aku berawak kecil ayah selalu melarangku. Niat tersebut akhirnya kesampaian saat aku masih SMA. Saat ayah tak di rumah diam-diam kukeluarkan Yamaha RX King miliknya dari pintu dapur. Aku kemudian mengengkol motor tersebut memasukkan persneling dan menggenggam koplingnya lantas melesat di jalan. Sore itu aku senang sekali, bayangkan anak perempuan bisa mengendarai motor sekeren itu, pakai kopling pula. Aku merasa macho![]

Komentar

  1. kalau aku, gak berani naek motor gede karna pada dasarnya aku gak bisa bawa motor pake gigi. aku cuma bisa bawa motor matic, hihihii..
    Gudlak ya han :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eqi motor pake kopling itu sebenarnya larinya lebih kencang, dan aku lebih suka naik motor itu, pengalamanku bawa motor kopling sih begitu heheheh...

      Hapus
  2. Yamaha RX king emang bandel bang,, dikampung bapakku juga pake RX king buat ngangkutin padi, sampek sekarang masih tetep awet, hehe kunjungan baliknya ditunggu ya bang di http://teguhyuono.blogdetik.com/2013/03/01/%C2%A9-%C2%82sekotak-mimpi-dari-yamaha/

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas Teguh sudah berkunjung ke blog ku....:-) aku memang terkesan sekali dengan sepeda motor itu :-)

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.