Langsung ke konten utama

Reuni Cinta Empat Sejoli

Etty, Yuyun, Ihan, Rusmi @istimewa
SALAH satu hal yang paling kurindukan dalam hidupku adalah berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Mereka yang selalu bisa diajak tertawa bersama, tetapi juga kadang meringis bersama, jika enggan untuk disebut menangis bersama.

Setelah sekian lama, kerinduan itu akhirnya terwujud semalam. Kami menghabiskan Sabtu malam sambil nongkrong di kawasan Simpang Lima. Di kedai Cane Pak Nek di depan Mess Pemda Sabang di Banda Aceh.

Reunian ini sebenarnya tak terlalu lengkap, sebab masih banyak yang alpa dalam pertemuan itu. Mestinya masih ada Nita Liana, akhwat paling pendiam soal kehidupan pribadinya, tetapi paling kocak dan rame kalau sudah ngumpul bersama. Teman-teman seangkatan lainnya yang tak kalah kocak juga ada Husnul Maulida, Murni, Siti Husna, dan Yusniar.

Seperti yang terlihat dalam foto, pertemuan itu hanya ada aku (berkerudung merah), Etty (berkacamata), Yuyun (tangan di bawah dagu) dan Rusmi (memegang canai). Meski berempat kami mampu menyulap suasana menjadi hangat. Sedikit informasi, suasana di tempat kami nongkrong semalam agak sepi, mungkin karena sebelumnya hujan, atau bisa jadi karena semalam juga ada tiga event musik yang digelar sekaligus di Banda Aceh.

Kami tertawa bersama sambil menikmati hidangan canai berisi susu, coklat, srikaya dan gula pasir. Di meja kami juga ada pizza mini toping daging, ada kentang goreng, dan martabak. Lengkap sekali dan semakin lengkap karena semua makanan itu kami habiskan tanpa sisa :-)

Pertemuan kami berempat berawal dari kampus tempat kami kuliah dulu, di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Mungkin karena selera humor yang sama, kami akhirnya menjadi dekat dan sering ngumpul-ngumpul bersama. Intensitas berkumpul menjadi jarang bahkan pernah tidak sama sekali begitu kami keluar dari kampus. Aktivitas dan rutinitas yang berbeda membuat kami sempat lupa untuk sekedar tertawa atau makan bersama. Kami semua angkatan 2002, aha, itu sudah lama sekali tapi kami masih terlihat muda dan akan selalu muda, setidaknya pikiran kami lah yang akan selalu menjadi muda.

Untuk bertemu sesering yang kami inginkan memang tidak gampang, Yuyun sekarang di Jakarta dan bekerja di Kantor Akuntan Publik, Etty di PT Aceh Media Grafika sebagai akuntan juga, dan Rusmi di Lembaga Baitul Maal, sedangkan aku menjadi Jurnalis, yang juga minim waktu luang.

Nita Liana @istimewa
Mengapa kami bisa berkumpul semalam? Yuyun sedang di Banda Aceh saat ini, ia mengabarkan padaku pada Jumat malam sebelumnya. Tanpa pikir panjang kami langsung buat janji untuk bertemu dan melepas rindu setelah terakhir bertemu beberapa tahun lalu. Etty yang juga di Banda Aceh tak mau ketinggalan, jadilah kami malam mingguan bersama.

Pertemuan kami menyenangkan, sebab tidak ada satupun di antara kami yang membicarakan soal pekerjaan. Sepertinya di antara kami berempat sedang fokus pada makanan yang tersaji di meja. Ah, yang benar adalah kami sibuk dengan momen-momen untuk mengabadikan kebersamaan tersebut. Sebab setelah perpisahan semua itu akan menjadi keping kenangan yang menjadi referensi sejarah bagi kami.

Entah kebetulan atau apa, dari status Facebook, kuketahui jika Nita Liana juga sedang menikmati pizza di rumahnya. Pizza hasil olahan adik perempuannya. Kalau saja ada dia pasti suasana menjadi lebih hangat lagi. Nita ini dulu sering menginap di rumahku. Apapun, yang terpenting bagi kami adalah saling mengingat, saling mendoakan dan saling mencintai karena Allah.[]

Komentar

  1. wah, akrab banget berempat ya mbak,
    salam kenal, ditunggu kunjungannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mas Yudi...iya temen-temen kuliah dulu memang selalu kompak :-), trims sudah berkunjung dan meninggalkan komen di sini

      Hapus
  2. Oooi, Kak Nita senyumnya manis liii :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis