Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Sound of Heart

sore ini, ketika kebingungan lelah membungkus diri arti sebuah kemenurutan dapat kupahami dengan utuh seolah-olah ini adalah penjabaran dari apa yang kutuliskan malam kemarin lalu ketika tergopoh-gopoh aku mengirimkan kepadanya malamnya, tatkala aku berpesan, ingin membacakan untuknya dan aku akan menunggunya dengan sepenuh cinta hari ini, ketika matahari baru saja melewati dhuha catatan itu telah kubacakan namun tidak dengan suara nyaring seperti biasanya tetapi dengan kecemasan dan rasa bingung dan juga ketidak mengertian tetapi sore ini, aku telah memahami semuanya dengan sempurna tak ada cinta tanpa keikhlasan untuk mendengarkannya

Sepotong Cinta di Bulan April

Suatu malam di bulan april, pada tahun ke lima belas usia perkawinan kita. Aku ingat sekali pada malam itu hujan turun membasahi bumi. Dan malam itu benar-benar menjadi basah, bukan hanya karena hujan tetapi juga karena air mata. Air mataku dan air mata milikmu istriku. Aku tahu, apa yang aku sampaikan pada waktu itu telah membelah hati keperempuananmu. Mungkin juga telah mengoyak-ngoyak hatimu sebagai istri dan memerah jiwamu selaku ibu bagi anak perempuan kita yang telah beranjak remaja. Ingin rasanya ketika itu, aku menggandeng tanganmu dan mengajakmu berkeliling mengitari waktu lima belas tahun silam. Jauh sebelum kita menikah, aku dan kamu hanya mempunyai waktu tiga hari untuk saling menyemai benih. Dalam diriku, hanya bibit cinta yang bisa kusemai ketika itu. Mungkin bagimu, bencilah yang menjadi pilihan hingga kau membawanya pada ijab kabul dan benih itu terus tumbuh hingga memasuki tahun-tahun berikutnya usia perkawinan kita. Aku tak berani menerka-nerka, juga tak ingin

Bila Harus Menikah

Tentu aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, hari-hariku yang sibuk sudah sangat membantu untuk mengulum semua apa yang ada dalam benakku. Cukuplah ritme kerja sebagai fatamorgana yang sempurna untuk menghadirkan pelangi dengan senyum terkembang seperti lancang kuning. “Ingat sayang, umurmu sudah 24 sekarang. Kapan kau akan menikah?” sebuah suara yang nyaring, yang tawanya selalu berderai menanyaiku penuh goda. Pada sebuah sore yang hampir terbenam. Hatiku kesal dan penuh sebal. Mengapa selalu pertanyaan itu? Apakah salah diusia yang sudah 24 ini aku belum ingin menikah? “Belum terfikirkan untuk menikah!” jawabku ketus disambut gelak tawa yang membuatku semakin manyun. “Aku masih geli membayangkan diusiaku yang sekarang harus sudah menggendong bayi, tangisnya di tengah malam tentu akan mengganggu tidurku…” jawabku antara serius dan tidak. “Hei, ada apa denganmu hah?! Kalau kau sudah menemukan laki-laki yang tepat ajak saja dia untuk menikah. Sekarang bukan saatnya lagi

Cinta

Di kamar ini, dalam ruangan kecil yang tak terlalu lapang, sangat sering aku menatap langitnya yang coklat. Dengan mata menerawang menelanjangi seluruh isi kamar. Lamat-lamat hingga akhirnya aku tertidur di atas sepotong kasur yang tak begitu empuk. Di samping kasur, sebuah alat elektronik berbentuk tipis petak berwarna hitam, bermerk Axio kadang kubiarkan menyala dengan bait-bait lagu yang menjadi pendongeng hingga akhirnya mata ini mengatup pelupuknya. Seperti samar, kadang-kadang wajah lelakiku datang, mulutnya bergumam-gumam menyenandungkan lagu-lagu yang mengalun pelan. Membisikkannya pada telingaku sebelah kanan, aku mendengarnya penuh selaksa. Kubiarkan ia menyentuh dahiku dengan jemarinya yang lembut dan hangat. Pada saat itu setengah diriku tak tidur sempurna. Aku tahu itu seperti mimpi tetapi seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku pernah merasakannya, dan mimpiku mengulangnya dengan sempurna. Di kamar ini juga, kadang dengan kelelahan yang membalut seluruh diri. Sering kup

Surat dari Mak*

Ini adalah hari ketiga di mana ia tak bisa memejamkan mata, apalagi tidur, badannya terasa letih, tapi ia tak berhasil mengistirahatkannya. Namun semua itu tidaklah terlalu berarti bila dibandingkan dengan penat yang dirasakan oleh pikiran dan batinnya. Ia tak menemukan jalan keluar atas gundah yang memasung jiwanya dan kalaupun ada pasti akan menyulitkan salah satu dari mereka; dirinya atau ibunya! Itulah yang membuatnya gulana tiga hari ini. Sebagai anak, tentu saja ia sangat menyayangi ibunya walaupun ia tak pernah mengatakan itu secara langsung, seingatnya ia tak pernah bersikap kasar dan melawan ibunya. Meskipun ia diam-diam sering berontak. Dan kali ini, apakah ia akan tetap menuruti kemauan ibunya? Dan bila iya maka itu sama saja dengan bunuh diri. Menggadai masa depan dan mengkebiri kreativitasnya. Mandul! Minah bangkit dari tidurnya, hujan deras sejak pagi membuatnya tak bisa beraktivitas seperti biasanya, ia terkungkung di kamar kecil ini. Ia melangkah ke luar menuju ru