Langsung ke konten utama

Cinta

Di kamar ini, dalam ruangan kecil yang tak terlalu lapang, sangat sering aku menatap langitnya yang coklat. Dengan mata menerawang menelanjangi seluruh isi kamar. Lamat-lamat hingga akhirnya aku tertidur di atas sepotong kasur yang tak begitu empuk.
Di samping kasur, sebuah alat elektronik berbentuk tipis petak berwarna hitam, bermerk Axio kadang kubiarkan menyala dengan bait-bait lagu yang menjadi pendongeng hingga akhirnya mata ini mengatup pelupuknya.
Seperti samar, kadang-kadang wajah lelakiku datang, mulutnya bergumam-gumam menyenandungkan lagu-lagu yang mengalun pelan. Membisikkannya pada telingaku sebelah kanan, aku mendengarnya penuh selaksa. Kubiarkan ia menyentuh dahiku dengan jemarinya yang lembut dan hangat. Pada saat itu setengah diriku tak tidur sempurna. Aku tahu itu seperti mimpi tetapi seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku pernah merasakannya, dan mimpiku mengulangnya dengan sempurna.
Di kamar ini juga, kadang dengan kelelahan yang membalut seluruh diri. Sering kupertanyakan tentang cinta yang sedang menggulung seluruh jiwa dan hatiku. Adakah orang lain merasakan cinta yang sama seperti ini? Betapa beratnya cinta bila benar begitu. Berat yang tak berat, tapi juga tak ringan untuk dipikul oleh sekeping hati perempuan sepertiku.
Tak ringan memang bila cinta mampu memberikan kekuatan bagi pemiliknya untuk berbohong selama bertahun-tahun. Pada suatu malam, entah senja yang keberapa sejak aku mengenal cinta, rintik-rintik embun menetes dengan irama yang teratur. Dan aku mengatakannya hanya karena debu yang tak sengaja hinggap pada bola mata ini. Debu! Begitu hebatkah debu hingga ia bisa membuat pemiliknya menangis tanpa suara? Itulah cinta, yang selalu samar kumengerti definisinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…