Cinta

Di kamar ini, dalam ruangan kecil yang tak terlalu lapang, sangat sering aku menatap langitnya yang coklat. Dengan mata menerawang menelanjangi seluruh isi kamar. Lamat-lamat hingga akhirnya aku tertidur di atas sepotong kasur yang tak begitu empuk.
Di samping kasur, sebuah alat elektronik berbentuk tipis petak berwarna hitam, bermerk Axio kadang kubiarkan menyala dengan bait-bait lagu yang menjadi pendongeng hingga akhirnya mata ini mengatup pelupuknya.
Seperti samar, kadang-kadang wajah lelakiku datang, mulutnya bergumam-gumam menyenandungkan lagu-lagu yang mengalun pelan. Membisikkannya pada telingaku sebelah kanan, aku mendengarnya penuh selaksa. Kubiarkan ia menyentuh dahiku dengan jemarinya yang lembut dan hangat. Pada saat itu setengah diriku tak tidur sempurna. Aku tahu itu seperti mimpi tetapi seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku pernah merasakannya, dan mimpiku mengulangnya dengan sempurna.
Di kamar ini juga, kadang dengan kelelahan yang membalut seluruh diri. Sering kupertanyakan tentang cinta yang sedang menggulung seluruh jiwa dan hatiku. Adakah orang lain merasakan cinta yang sama seperti ini? Betapa beratnya cinta bila benar begitu. Berat yang tak berat, tapi juga tak ringan untuk dipikul oleh sekeping hati perempuan sepertiku.
Tak ringan memang bila cinta mampu memberikan kekuatan bagi pemiliknya untuk berbohong selama bertahun-tahun. Pada suatu malam, entah senja yang keberapa sejak aku mengenal cinta, rintik-rintik embun menetes dengan irama yang teratur. Dan aku mengatakannya hanya karena debu yang tak sengaja hinggap pada bola mata ini. Debu! Begitu hebatkah debu hingga ia bisa membuat pemiliknya menangis tanpa suara? Itulah cinta, yang selalu samar kumengerti definisinya.

Komentar