Langsung ke konten utama

Bila Harus Menikah

Tentu aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, hari-hariku yang sibuk sudah sangat membantu untuk mengulum semua apa yang ada dalam benakku. Cukuplah ritme kerja sebagai fatamorgana yang sempurna untuk menghadirkan pelangi dengan senyum terkembang seperti lancang kuning.

“Ingat sayang, umurmu sudah 24 sekarang. Kapan kau akan menikah?” sebuah suara yang nyaring, yang tawanya selalu berderai menanyaiku penuh goda. Pada sebuah sore yang hampir terbenam.

Hatiku kesal dan penuh sebal. Mengapa selalu pertanyaan itu? Apakah salah diusia yang sudah 24 ini aku belum ingin menikah?

“Belum terfikirkan untuk menikah!” jawabku ketus disambut gelak tawa yang membuatku semakin manyun. “Aku masih geli membayangkan diusiaku yang sekarang harus sudah menggendong bayi, tangisnya di tengah malam tentu akan mengganggu tidurku…” jawabku antara serius dan tidak.

“Hei, ada apa denganmu hah?! Kalau kau sudah menemukan laki-laki yang tepat ajak saja dia untuk menikah. Sekarang bukan saatnya lagi untuk menunggu.”

Pernyataan itu terdengar sangat konyol di telingaku. Tidak terlalu sulit untuk mengajak seseorang menikah. Tapi juga tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan. Keputusan untuk menikah dengan siapa itu butuh pertimbangan.

“Seseorang itu sudah ada, tapi tentu saja aku tidak akan mengajaknya menikah. Bukankah cinta tidak harus berakhir dengan pernikahan? Bukankah cara memiliki cinta seseorang tidak selamanya harus melewati ijab Kabul?” kali ini aku menjawab dalam hati.

Tentu saja aku tidak akan menceritakan kepadanya. Tentang se sosok laki-laki yang begitu gagah di hatiku, yang begitu sempurna dalam pandanganku, yang aku sendiri tidak tahu mengapa harus memberikan seluruh hatiku kepadanya.

Tentu ia juga tak harus tahu mengapa aku berbohong, siapa bilang aku tak berfikir untuk menikah. Aku telah memikirkannya jauh-jauh hari, jauh setelah hatiku tertambat pada hati seorang lelaki. Karena itulah aku tak lagi berfikir untuk menikah.

Akupun tak perlu menceritakan kepadanya, bila aku menikah, tentu saja aku tidak bisa memberikan pasir yang telah aku janjikan kepada seseorang yang aku cintai. Bila aku menikah, itu berarti aku telah mengkebiri hatiku sendiri untuk merindui lelaki yang telah mengajarkan aku tentang sebuah cinta dan perasaan. Dan, bila aku menikah, itu berarti aku telah menjadi pengkhianat sejati, pengkhianat diri dan perasaan. Ia tentu saja tak perlu tahu bila itu terjadi, akulah yang paling terluka.

Tapi lagi-lagi, ucapan –lebih tepatnya peringatan- itu terulang kembali dan kembali terulang. Pada sebuah percakapan dengan seorang teman di sebuah kafe. Hampir saja selera makanku hilang ketika itu. Lagi-lagi aku harus berbohong. “Belum terfikirkan untuk menikah.” Jawabku sambil menyeduk nasi yang disajikan dalam nyiru kecil.

“Nanti kamu nyesel, Dek. Seperti kakak, sudah umur 27 tahun tapi belum memiliki anak.”

Aku tersenyum, mungkin tafsiran dari kegetiran.

“Aku sudah menikahkah jiwaku dengan jiwa seseorang. Aku sudah mentasbihkan diri dalam pikiran seseorang.” Hatiku menjawab lantang.

Bila dengan menikah akan mengobati hati banyak orang, aku akan menikah, tetapi setelah aku menunaikan apa yang telah aku janjikan. Untuk memberikannya pasir dari kota bersejarah yang telah aku torehkan dalam buku impian sadar dan alam bawah sadarku.(*)

Komentar

  1. Aku sudah menikahkah jiwaku dengan jiwa seseorang. Aku sudah mentasbihkan diri dalam pikiran seseorang....

    Aku suka kalimat ini, menyentuh. Seide dengan yang dituliskan dalam cerpen ini, aku pernah ngalami nya... Tak terpahami oleh orang lain pasti!!!

    BalasHapus
  2. apa yang ditulisan dalam cerita ini berdasarkan kejadian nyata, beruntung ada seseorang yang mau menceritakan kisahnya kepada saya, lalu, jadilah tulisan singkat ini. mudah-mudahan kita bisa mengambil peljarnnnya

    BalasHapus
  3. cerpen ini seperti menyayat jiwa saya

    empat kali saya baca dalam tiga hari.

    sedih dan sangat sakit bila mengingat semuanya

    BalasHapus
  4. t-ardhan: yang membuat tersayatnya di mana bang?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…