Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Luka Angin

Siapa bisa menerjemah luka angin karena tertusuk beku?
Oh, jangan menyaru sebagai daun, hanya untuk memata-matai gerak-gerik angin
Jangan pula menyaru sebagai hujan, hanya untuk tahu apakah angin punya air mata

Memoar Matahari Terbit #2; Gadis Kecil di Keranjang Rotan

Keranjanganya bukan model seperti ini, tapi cukuplah untuk mengilustrasikannya. Foto diambil dari bukalapak.com Tahun 1990 Usiaku belum genap lima tahun ketika itu. Tidak banyak yang bisa kuingat pada masa-masa sebelum itu. Kecuali beberapa potong fragmen saja. Misalnya, di suatu sore yang cerah, Ibu memakaikan aku baju terusan kembang selutut. Berwarna putih dengan kombinasi hijau. Rambut panjangku dikucir dua. Aku menonton permainan voli di halaman rumah Wak Baren yang luas. Namun ada satu fragmen yang tidak mungkin kulupakan. Kenangan itu telah berubah menjadi piringan hitam, kapan pun aku ingin memutarnya, tinggal kutekan tombol on di memori ingatanku. Lalu muncullah gambar-gambar bergerak tentang sepasang gadis kecil di dalam keranjang rotan di jok sepeda motor Ayah. Kepala mereka menjulur-julur. Mirip kepala kura-kura yang melongok-longok keluar dari cangkang untuk melihat situasi. Gadis kecil di dalam keranjang itu adalah aku dan sepupuku, Rina. Keranjang itu biasa digunakan Aya…

Memoar Matahari Terbit #1; Padang Peutua Ali

Lanskap yang menunjukkan kondisi alam pedesaan. Foto dari bbc.com Desa itu, Padang Peutua Ali namanya, dalam ingatanku adalah sebuah surga. Sulit sekali melepasnya dalam ingatan meskipun nyaris dua puluh tahun tak lagi tinggal di sana. Sejak beberapa tahun terakhir malah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana. Inilah punca kerinduan bertubi-tubi, sehingga kerap hadir di dalam mimpi. Ya, mimpi menjadi semacam medium tertentu buatku. Ketika aku memikirkan sesuatu, ketika aku mengingat seseorang yang jauh, yang kupikir dan kuingat itu kerap hadir di alam mimpi. Bunga-bunga tidur. Begitulah rindu menyelesaikan persoalannya di dalam hidupku. Tak terkecuali Padang Peutua Ali, sebuah desa nun di pedalaman Aceh Timur sana. Masih kerap mampir di mimpi-mimpi indahku hingga hari ini. Mimpi-mimpi itulah yang menggerakkan aku untuk melahirkan catatan ini. Hm, tidak, pedalaman itu dulu, ketika jalan masih berlubang, ketika listrik belum ada, ketika moda transportasi belum massal seperti sekarang…

Teman Bertengkar yang Tak Seru

Teras kost-ku yang sempit telah aku sulap menjadi small garden untuk beberapa pot bunga. Ada jeumpa, seulanga, beberapa jenis mawar, melati, kembang sepatu, lavender, krisan. Beberapa di antaranya sedang mekar. Menyiram bunga-bunga itu kini menjadi aktivitas baruku saban pagi dan senja. Kini, setiap pulang beraktivitas di sore hari, aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Melainkan menyempatkan diri untuk membersamai bunga-bunga itu. Aku sempatkan untuk menyapa tanaman-tanaman itu dengan menyentuh daun-daunnya, memeriksa batangnya, melihat-lihat kelopak bunganya, hingga merapatkan hidungku dengan kuntum-kuntum bunganya. Menyesap wewangian yang berasal dari inti sarinya. Aku juga sering memotret bunga-bunganya yang sedang mekar. Ini adalah ungkapan kasih sayangku kepada tanaman yang telah memberi kesenangan tersendiri setiap aku melihatnya. Begitu juga di pagi hari, hal terindah yang aku rasakan adalah setiap membuka pintu, bunga-bunga itu seperti mengucapkan halo dan selamat pagi. K…

Secangkir Kopi dan Seikat Krisan

Mari mengawali pagi dengan secangkir kopi panas dan seikat kembang krisan. Aku jepret khusus untuk kukirimkan kepadamu, agar harimu berwarna, untuk menunjukkan kalau hatiku sedang mekar. Seperti krisan-krisan di taman mungilku. 

Aku suka kopi yang pahit, rasanya seperti rindu yang terjepit. Meninggalkan candu di ujung lidah, persis seperti aku yang mencandui dirimu. 
Selamat pagi, untukmu yang kemarin sore memanggilku, Cinta. 
Kau tahu, seketika hatiku mengembang, seperti adonan yang diberi pengembang. Serupa es krim, kau melumerkannya dengan mudah. 
Good morning,  Kecup sehangat kopi dan selembut bunga. 
Love you

Aku Makhluk Kesunyian

Petang tadi aku mengunjungi Taman Wisata Krueng Aceh di sisi Jalan Cut Meutia, Banda Aceh. Taman ini selalu saja menarik perhatianku, tapi baru petang tadi niatku untuk bersantai di sini kesampaian. Beberapa bulan lalu aku pernah merapatkan tapak sepatuku dengan batu-batu alam yang melapisi trotoar di bantaran sungai. Numpang lewat menuju jalan pulang. Sambil berkejaran dengan waktu yang hampir sempurna gelap, dibantu Yelli, terekamlah beberapa gambar di ruang memori ponselku. Tak lewat dari pukul setengah enam aku tiba di taman itu. Menaiki beberapa anak tangga, memijak kaki di trotoar, kemudian menuruni beberapa anak tangga lagi. Lalu berjalan menyusuri lorong setapak di antara taman bunga menuju salah satu kursi yang menghadap ke Krueng Aceh. Kursi-kursi yang dirancang khusus dan muat hanya untuk sepasang manusia berbadan ideal. Dengan rancangan kursi seperti itu, tentunya menjadi pilihan paling nyaman bagi muda-mudi kasmaran untuk menghabiskan sore jingga mereka di taman ini. Sam…