Memoar Matahari Terbit #1; Padang Peutua Ali

Village @bbc.jpg
Lanskap yang menunjukkan kondisi alam pedesaan. Foto dari bbc.com
Desa itu, Padang Peutua Ali namanya, dalam ingatanku adalah sebuah surga. Sulit sekali melepasnya dalam ingatan meskipun nyaris dua puluh tahun tak lagi tinggal di sana. Sejak beberapa tahun terakhir malah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke sana. Inilah punca kerinduan bertubi-tubi, sehingga kerap hadir di dalam mimpi.
Ya, mimpi menjadi semacam medium tertentu buatku. Ketika aku memikirkan sesuatu, ketika aku mengingat seseorang yang jauh, yang kupikir dan kuingat itu kerap hadir di alam mimpi. Bunga-bunga tidur. Begitulah rindu menyelesaikan persoalannya di dalam hidupku.
Tak terkecuali Padang Peutua Ali, sebuah desa nun di pedalaman Aceh Timur sana. Masih kerap mampir di mimpi-mimpi indahku hingga hari ini. Mimpi-mimpi itulah yang menggerakkan aku untuk melahirkan catatan ini. Hm, tidak, pedalaman itu dulu, ketika jalan masih berlubang, ketika listrik belum ada, ketika moda transportasi belum massal seperti sekarang. Tapi kabarnya, jalan menuju Padang Peutua Ali sampai sekarang masih bopeng-bopeng. Namun jaringan listrik sudah tersedia (kembali).
Secara administrasi, Padang Peutua Ali masuk ke Kemukiman (kelurahan) Lhok Leumak di Kecamatan Darul Ihsan (setelah dimekarkan dari Kecamatan Idi Rayek), Aceh Timur. Desa ini terdiri dari beberapa lorong, di antaranya Lorong Mampre, Lorong Binjai, dan Lorong Pelita. Di lorong yang terakhir inilah kenangan masa kecilku banyak terserak. Dan aku sedang berusaha mengumpulkan kembali kenangan yang terserak itu.
Ayah dan ibuku berdarah Pidie, walaupun keduanya sama-sama lahir dan besar di Aceh Tamiang. Orang tua mereka sama-sama berasal dari Teupin Raya sebelum merantau ke timur Aceh. Tempat aku menumpang dilahirkan, sebelum dibawa pulang ke Idi Rayek, dan dibesarkan di Padang Petua Ali. Di sanalah Ayah dan Ibu menguji kemandirian mereka dalam berumah tangga.
Ingatanku akan desa itu tak pernah pupus. Konturnya berbukit-bukit. Yang sejauh mata memandang dibungkus pemandangan hijau berupa kebun-kebun penduduk. Umumnya kelapa dan kebun kakao. Jalannya berlapiskan tanah dan dipenuhi rerumputan. Nyaris tak ada beda antara jalan utama dengan jalan menuju kebun. Kalau hujan sudah pasti becek dan licin. Padang Petua Ali adalah desa transmigrasi yang heterogen. Belakangan kusadari, keheterogenan ini memberikan dua dampak sekaligus; positif dan negatif.
Di tahun 90-an, saat aku masih duduk di sekolah dasar. Saban pagi aku bangun karena kicauan Ibu dan kicauan burung-burung. Uap hangat mentari pagi merambati rumah kami yang kecil. Paru-paruku yang kerap dibelit asma selalu berlimpah udara segar. Pengalaman bangun tidur paling indah adalah ketika hidungku menangkap aroma dari kuah Indomie yang sedang mendidih.
Rupa rumah kami itu tak lebih dari sebuah kotak dengan sebilah ruang tamu, dua bilah kamar tidur yang sempit, dan sebilah ruangan berlantai tanah sebagai dapur. Ruang tamu dan kamar tidur, sudah beralaskan semen namun kondisinya mengenaskan. Pecahan-pecahannya mirip cermin retak. Rumah itu dipayungi atap dari daun rumbia, yang di sudutnya kerap bolong karena tertimpa buah kelapa yang pohonnya tumbuh persis di sudut dapur.
Rumah itu adalah rumah pertama yang ditempati Ayah dan Ibu. Aku masih ingat detailnya sampai sekarang. Di ruang tamu, cuma ada satu perkakas, yaitu lemari (hias) warna kuning pucat dengan kombinasi hijau di sudut-sudutnya. Sebuah tempat tidur berangka besi dipasangkan Ayah di kamar untuk aku dan adikku yang nomor dua. Itulah istana kami. Sebelum tidur kami kerap bermain rumah-rumahan. Kadang Ibu ikut bergabung bersama kami dan menceritakan cerita zaman. Tempat tidur rangka besi itu menjadi saksi bagi perkembangan imajinasi kanak-kanakku.
Belakangan lemari hias di ruang tamu itu menjadi tempat bertenggernya sebuah televisi hitam putih second ukuran 14 inci merk Fuji Electric yang dibeli Ayah. Di tumpuk kami, Ayah adalah orang pertama yang membeli televisi ketika itu. Televisi bertenaga aki itu menjadi saksi bagi sejumlah warga untuk menonton acara hiburan seperti Kamera Ria, Safari, Irama Masa Kini. Dan yang paling sukar dilupakan adalah acara film G30 SPKI yang diputar saban 30 September setiap tahunnya.
fuji elektrik.jpg
Seperti inilah rupanya televisi Fuji Elektrik di rumah kami dulu. Foto dari jayaserviselektronik.blogspot.co.id
Terkikik-kikik aku jika mengenang akan hal ini. Pernah suatu kali, saat sedang asyik menonton film G30 SPKI, tiba-tiba baterai aki itu habis pula dayanya. Televisi yang besarnya tak lebih dari laptop yang kita pakai sekarang itu akhirnya seperti tersuruk-suruk sebelum padam. Lalu muncullah inisiatif jitu, aki di rumah Wak Sabar yang baterainya sedang habis, diambil dan digandengkan dengan aki di rumah kami. Inilah makna sebenarnya dari rumus minus (-) tambah (+) minus (-) sama dengan (=) plus (+). Televisi ini juga menjadi saksi dari serial kartun Jepang seperti Doraemon, Ultraman, Satria Baja Hitam, dan lainnya.
Nyaris seratus persen warga Padang Peutua Ali adalah petani. Rumah-rumah warga memiliki bentuk yang serupa walau tak sama. Penghuni desa ini hanya berkisar puluhan KK saja yang tersebar secara berkelompok di beberapa titik. Di tahun 90-an itu, Padang Petua Ali masih gelap gulita. Sumber energi untuk menerangkan rumah-rumah penduduk masih mengandalkan lampu sumbu dan minyak tanah. Harganya masih Rp300 perliter. Harga sebungkus Indomie waktu itu masih Rp250. Ayo... siapa yang masih ingat? Harga emas satu mayamnya masih berkisar seratusan ribu. Tapi tak juga sanggup membelinya.
bunga.jpg
Di Lorong Pelita tempat kami tinggal inilah berdiri sebuah rumah sekolah. Pada tulisan berikutnya akan aku tulis dengan detail bagaimana kisah mula berdirinya sekolah ini. Di sekolah ini aku belajar tulis baca. Itu di era kejayaan black board. Era di mana kapur tulis masih berdiri tegak di papan tulis hitam. Lalu sisa puntungnya menjadi rebutan bocah-bocah SD kemaruk belajar. Modal belajar kembali di rumah. Daun pintu, dinding, atau daun jendela adalah papan tulis kami di rumah.
Kesulitan utama warga desa adalah kebutuhan akan air bersih. Memang susah mendapatkan mata air dengan kondisi desa yang berada di dataran tinggi. Parit-parit menjadi andalan utama setiap warga. Jika musim kemarau tiba, tak jarang jarak berkilo-kilometer harus ditempuh demi satu ember atau satu dua jeriken air bersih. Sumur-sumur kecil digali di pinggir-pinggir parit di dekat pohon pisang untuk menampung air.
Tapi warga di sana tetap hidup bahagia. Aku, pun sering kutanyakan pada Ibu, mengapa kadar kebahagiaan kami terasa berbeda ketika tinggal di Padang Peutua Ali dulu dengan di kampung yang sekarang? Kata Ibu, karena silaturrahmi antarwarga di sana terjalin dengan akrab. Sesama warga saling membudayakan tradisi memberi satu sama lainnya. Entah itu makanan, sayuran, hasil panen, atau apa pun. Setiap lebaran tiba, nyaris tak ada rumah yang terlewati untuk dikunjungi. Kue-kue disajikan, minuman dihidangkan. Meriah!
Laiknya bayi, Padang Petua Ali tumbuh menjadi balita yang sehat dan menggemaskan. Perlahan tapi pasti, ia mulai bertumbuh. Kebun-kebun yang ditanami tanaman tua mulai memasuki masa panen, sehingga berdampak langsung pada perekonomian warga yang membaik. Sembilan tahun kemudian Lorong Pelita tiba-tiba berubah gelap gulita. Kehidupan berhenti berdenyut. Nadinya terputus. Meninggalkan trauma dan luka di hati kecil kami.[]

Komentar