Langsung ke konten utama

Teman Bertengkar yang Tak Seru


Teras kost-ku yang sempit telah aku sulap menjadi small garden untuk beberapa pot bunga. Ada jeumpa, seulanga, beberapa jenis mawar, melati, kembang sepatu, lavender, krisan. Beberapa di antaranya sedang mekar. Menyiram bunga-bunga itu kini menjadi aktivitas baruku saban pagi dan senja.
Kini, setiap pulang beraktivitas di sore hari, aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Melainkan menyempatkan diri untuk membersamai bunga-bunga itu. Aku sempatkan untuk menyapa tanaman-tanaman itu dengan menyentuh daun-daunnya, memeriksa batangnya, melihat-lihat kelopak bunganya, hingga merapatkan hidungku dengan kuntum-kuntum bunganya. Menyesap wewangian yang berasal dari inti sarinya.
Aku juga sering memotret bunga-bunganya yang sedang mekar. Ini adalah ungkapan kasih sayangku kepada tanaman yang telah memberi kesenangan tersendiri setiap aku melihatnya. Begitu juga di pagi hari, hal terindah yang aku rasakan adalah setiap membuka pintu, bunga-bunga itu seperti mengucapkan halo dan selamat pagi. Kini, selain Zenja, bunga-bunga di teras rumah itu adalah sumber kebahagiaan baru buatku. Kadang-kadang aku berbagi kebahagiaan itu dengan mengirimkan Zenja foto-foto bunga di taman mungilku.
Menyebut nama Zenja, hatiku berubah mekar seperti bunga-bunga di atas. Ia adalah inspirasi yang menggerakkan aku dalam berkreativitas. Teman bertengkar yang tak seru. Sebab tak pernah mau meladeni rajukanku. Suatu ketika, dengan emosi di puncak kepala aku mengatakan, "aku masih ingin marah denganmu."
"Marahlah biar hatimu puas," jawabnya dengan santai.
"Mana bisa aku marah kalau kau tidak merespons."
Krik-krik. Zonk
Sore tadi kembali kami berbalas cerita di bilik chatting. "Kenapa harus selalu aku yang menyapa lebih dulu setiap kali setelah aku merajuk-rajuk."
"Karena kamu yang merajuk. Not me."
"Kau tahu aku merajuk, tapi kenapa tidak membujukku. Merajuk itu artinya aku rindu padamu."
"Tidak membujuk itu aku juga rindu artinya."
"Hmm..."
Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sebab cinta hanya meminta kita untuk merasakan. Maka aku merasakan setiap gejolaknya. Lalu memilih bahagia dengan caraku. Dengan cara mencintai tanpa syarat.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.