Rabu, 13 Oktober 2021

Surat-Surat untuk Arunika

Ilustrasi studybahasainggris.com


 

INI hari kelima Arunika menghabiskan dua puluh empat jam waktunya di rumah. Hari pertama, ia merasa happy-happy[1] saja, bahkan sangat menikmatinya. Bisa tidur dengan puas. Sesuatu yang terasa sangat mahal selama ini. Lalu bangun dan makan. Bisa leyeh-leyeh sambil menonton acara-acara favorit di situs penyedia layanan media streaming digital. Hari kedua Arunika mulai bereksperimen di dapur. Membuat puding dan sup iga favoritnya. Makan dengan hidangan yang dimasak sendiri ternyata bisa senikmat itu. Ia makan sampai dua kali tambah. Arunika jadi sedikit menyesal, mengapa selama ini ia membiarkan kesibukan merenggut nyaris seluruh waktunya. Hingga tak punya lagi tenaga untuk memasak.

Usai bersantap, Arunika bisa menghabiskan waktu sambil membaca buku-buku yang sudah kusam dan berdebu karena tak pernah disentuh selama ini. Keasyikan membaca hanya ia sudahi ketika azan bergema. Arunika tak pernah menyangka, di rumah saja selama berhari-hari ternyata senikmat ini. Otot-ototnya terasa regang dan longgar. Pikirannya yang selama ini selalu keruh karena beban pekerjaan menjadi lebih jernih. Sebagai seorang pekerja di lembaga bantuan hukum, Arunika telah menjelma menjadi sosok yang supersibuk. Makanya, momen di rumah ini sangat ia nikmati.

Namun, di hari-hari berikutnya Arunika mulai merasa jenuh. Aktivitas yang ia lakukan mulai terasa monoton. Tidur, bangun, mandi, makan, menonton, membaca, memasak, atau chatting, menjadi tidak asyik lagi. Arunika jadi kangen suasana kantor yang ramai. Kangen ketemu Inga yang masakannya juara dan sesekali memasak untuk mereka. Kangen celotehan Aryana yang mengalahkan cericit burung beo. Kadang-kadang terbit juga rasa kangen diomeli Bu Rani, bosnya yang sering kumat-kumatan galaknya. Kangen juga pada sapaan Pak Isa, satpam kantor yang tak pernah benar menyebut namanya.

“Selamat pagi, Bu Arungka.” Begitulah ia selalu menyapa Arunika.

“Arunika,” jawab Arunika yang tak pernah bosan mengoreksi.

“Eh, iya, Bu Arungka. Maaf, khilaf,” jawab Pak Isa lagi sambil tersenyum dan mengangguk-anguk.  

Kalau sudah begitu Arunika hanya bisa menggeleng-geleng sambil mengulum senyum yang tak mampu ia sembunyikan. “Khilaf apanya. Lidah Pak Isa perlu dikerok sama koin emas tuh kayaknya, seperti burung jalak, biar nggak khilaf lagi,” jawab Arunika sambil berlalu. Ia meninggalkan Pak Isa dengan wajah tersipu-sipu.

Membayangkan semua kebersamaan itu membuat Arunika semakin merasa terbelenggu. Semakin ia berusaha menghalau kejenuhan itu, semakin besar pula rasa jenuh itu muncul. Menjelma menjadi kerangkeng raksasa yang membuatnya tak bisa ke mana-mana. Kerangkeng itu adalah rumahnya sendiri. Dan ini baru hari kelima, sementara ia masih harus mengerangkeng dirinya di rumah selama belasan hari lagi.

Arunika merutuki dirinya. Ia kembali memutar otak. Dari siapa ia terinfeksi virus bermahkota itu. Namun, semakin dicari-cari rasanya tak kunjung ketemu di mana titiknya. Sebelumnya ia memang pernah bertemu dengan beberapa klien, tetapi ia merasa sudah mematuhi semua protokol kesehatan. Tak pernah lupa memakai masker, rajin cuci tangan, dan rutin menggunakan disinfektan. Hingga pekan lalu, saat bangun tidur Arunika merasa tubuhnya menggigil, penciumannya sedikit terganggu. Merasa curiga, ia pun memeriksakan dirinya ke laboratorium. Hasilnya? Sudah bisa ditebak.

Arunika bahkan tak berani membayangkan. Dia yang mobilitasnya sangat tinggi, tiba-tiba harus dipingit seperti ini. Kalau dipingit sebagai calon pengantin barangkali akan lain ceritanya. Pingitan ini membuatnya takut. Sulit sekali menyugesti diri kalau semuanya akan baik-baik. Kematian sesekali membayanginya. Mati sendirian. Dikubur tanpa dihadiri sanak keluarga. Arunika bergidik.

***

Nyaris seharian ini Arunika tidak melakukan apa-apa. Bahkan hampir tidak keluar kamar kecuali untuk ke kamar mandi ataupun salat. Rasa malas mulai menderanya. Ia merasa kehilangan gairah. Pesan-pesan yang masuk ke ponselnya untuk memberikan dukungan moral terus masuk. Kiriman makanan, buah, vitamin, susu, dan sayuran juga tak pernah putus. Arunika bersyukur banyak yang memperhatikannya. Namun, tetap saja ia merasa nelangsa. Arunika juga dibebaskan dari tugas-tugas kantor agar bisa fokus pada pemulihannya. Namun, beban kantor yang bertumpuk-tumpuk rasanya lebih baik daripada di rumah sendiri seperti ini tanpa seorang pun diperbolehkan menjenguk. Arunika merasa roda hidupnya berputar bukan karena virus sedang bersarang di tubuhnya, tetapi karena dia tidak bisa melihat hiruk pikuk di luar sana. Dia berusaha untuk bersikap normal, tetapi tetap saja semuanya tak sama.

Parahnya lagi, efek kebanyakan tidur di siang hari, sudah dua malam ini Arunika dilanda insonia. Dia baru tertidur setelah dini hari. Kondisi ini bukan saja membuat tubuhnya terasa lelah, tetapi juga pola istirahatnya jadi terganggu. Rasa suntuknya mulai bercabang-cabang.

Hari berikutnya Arunika baru bangun saat jarum jam genap pukul sebelas. Mungkin karena semalam ia baru bisa tidur menjelang pagi. Bisa juga karena sisa hujan semalam yang membuat langit hari ini dikulum mendung. Membuatnya tak sadar hari sudah siang. Cuaca seperti ini memang membuat malas. Namun, Arunika memaksa diri untuk tetap bangkit. Gontai ia melangkah dan membuka jendela kamar. Udara dan sedikit cahaya berebut masuk ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, hidungnya menangkap aroma petrikor yang segar. Bersenyawa dengan aroma melati yang tumbuh di dekat jendela. Arunika menghirupnya berkali-kali. Suasana hatinya sedikit lebih baik.

Keasyikan menghidu perpaduan aroma itu membuat Arunika jadi berlama-lama berdiri di dekat jendela. Hingga netranya menangkap ada benda yang tergantung di pintu pagar. Sebuah beluam dari serat berwarna cokelat muda. “Apa itu?” batin Arunika.

Rasa penasaran membuatnya segera berlari ke luar untuk mengambil beluam itu. Beluam itu pasti sengaja ditaruh di sana dan memang ditujukan untuk Arunika karena posisinya ada di bagian dalam pagar. Arunika yakin itu sehingga diambilnya beluam itu tanpa ragu. Dipandanginya sebentar beluam yang di bagian lehernya diikat dengan pita merah. Arunika penasaran. Apa isi di dalamnya? Demi menenangkan rasa penasarannya yang mulai meronta-ronta, Arunika membuka beluam itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu isinya hanya sebuah pesawat kertas.

Di bagian sayap sebelah kanan tertulis “Untuk Arunika”. Tak salah lagi. Beluam dengan isi pesawat kertas ini jelas-jelas tertuju untuknya. Namun, siapa yang mengirimnya? Apakah ini pesawat mata-mata? Arunika meneliti ke sayap sebelah kiri dan bagian perut pesawat. Tidak ada tulisan apa pun. Akhirnya ia putuskan untuk membongkar tubuh pesawat yang terbuat dari kertas HVS biru muda itu. Terdapat banyak kata-kata di dalamnya.

“Untuk Arunika Nirmala.”

Arunika membaca kalimat pertama itu dengan hati berdebar-debar. Siapa sih orang iseng yang menuliskan namanya dengan sangat lengkap. Dia selalu merasa tersanjung setiap kali namanya disebut dengan utuh. Ada kebahagiaan tersendiri yang merayapi relung batinnya. Saraf-saraf bibirnya mengendur.

“Andai kau tahu arti namamu. Atau kau memang sudah mengetahuinya?”

Arunika berhenti membaca. Ia malah jadi menyebut-nyebut namanya sendiri. Arunika Nirmala. Arunika Nirmala. Apa artinya?

Selama ini ia tak pernah berpikir tentang arti namanya. Orang-orang bilang namanya bagus, tetapi itu sama sekali tidak menggelitiknya untuk mencari tahu artinya. Arunika hanya tahu, nirmala adalah nama salah satu panti asuhan di kota ini. Arunika? Mungkinkah itu saudara jauhnya Srebenika? Ibunya juga tak pernah bercerita mengenai sejarah di balik pemberian nama itu.

“Barangkali kau tidak akan membiarkan matahari pagi berlalu begitu saja.” Refleks Arunika mengerutkan alis. Apa maksud orang ini menuliskan begitu?

“Memingit dirimu itu baik, karena itu artinya kau menjaga orang lain agar tidak ikut sepertimu. Tetapi mengurung diri terus-terusan di dalam rumah itu yang tidak baik.”

Alis Arunika semakin berkerut. Orang ini sudah menceramahinya. Ada sesuatu yang bergolak di dalam diriku. Arunika tidak terima. Bukannya Arunika tak tahu kalau berjemur di pagi hari baik untuk kesembuhannya.

“Keluarlah. Biarkan arunika menyiramimu.”

Hei. Orang ini menyebut namanya lagi. Eh, tapi tunggu dulu. Dia menuliskan arunika dengan huruf a kecil. Kalau sebuah nama seharusnya a besar, kan? Apa maksudnya arunika menyiramimu. Arunika semakin penasaran.

“Dua puluh atau tiga puluh menit di bawah matahari pagi tidak akan serta-merta membuatmu menjadi cokelat. Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kau justru akan terlihat seperti Rihanna atau Chef Farah Quinn?”

Ha ha ha. Arunika tiba-tiba jadi terbahak-bahak. Padahal baru saja beberapa detik sebelumnya emosinya sedikit terusik. Namun, kini ia malah bisa tertawa lepas seperti itu. Otaknya langsung menghadirkan dua sosok mungil selebritas dengan kulit yang eksotis. Lalu ia alihkan perhatian pada kulitnya yang pucat.

Arunika masih ingin membaca surat itu, tapi sayangnya sudah tak ada kata-kata lagi yang bisa dibaca. Semuanya terasa menggantung. Si pengirim surat kaleng tampaknya sengaja membuat Arunika penasaran dan mencari sendiri apa makna dari namanya itu. Lalu buru-buru ia buka Google dan mengetikkan kata “arunika dan nirmala” secara terpisah di pencarian. Betapa takjubnya dia. Artinya sangat indah. Rasa hangat menjalari hatinya. Ingin dia berterima kasih pada orang itu.

Setelah membaca surat kaleng itu Arunika seperti mendapat suplai energi baru. Dilipatnya kembali kertas itu hingga menjadi seperti semula dan diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sedangkan beluam tadi ia gantung di paku di ruang tamu. Arunika bergegas mandi. Dia jadi merasa lebih segar. Dan sepanjang itu pula senyum kecil senantiasa menghias bibirnya. Sesekali Arunika kembali tertawa lebar. Bagaimana bisa dia terpesona pada surat tak jelas itu?

Pagi ini Arunika bangun lebih awal. Pagi yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tanpa cuci muka terlebih dahulu Arunika segera melongok ke pagar lewat jendela kamarnya. Kembali tergantung sebuah beluam dari kain beludru putih bersih. Buru-buru Arunika melesat ke halaman untuk mengambil beluam itu. Kali ini isinya sebuah buku. Sebuah novel terbitan terbaru dari penulis kenamaan. Dia tahu penulis itu, tapi belum pernah membaca buku-bukunya. Arunika tak suka buku-buku bergenre sastra.

“Wow!” Arunika takjub sambil membolak-balikkan novel tersebut.

Sampulnya manis. Seorang perempuan berkimono ungu dengan rambut tergerai memegang payung motif bunga sakura. Segera dibukanya buku itu. Namun, saat Arunika sedang membolak-balik halamannya, seperempat lembar kertas terjatuh. Juga tertulis: Untuk Arunika.

“Dalam keadaan seperti ini, bacalah buku-buku yang lebih ringan. Topik-topik tentang hukum atau yang berat-berat lainnya nanti saja dibacanya, Arunika Nirmala. Suplai pikiranmu dengan bacaan-bacaan yang menyenangkan. Buku ini asyik. Aku jamin!”

“Siapa sih kamu?” wajah Arunika jadi berubah serius.

Hari-hari berikutnya Arunika selalu mendapatkan kiriman tak bertuan setiap paginya. Arunika bingung, kapan seseorang yang menurutnya tak ada kerjaan itu menaruh beluam-beluam itu di pagar. Suatu malam, Arunika mematung di jendela kamarnya hingga lewat tengah malam untuk mengintai. Arunika ingin menangkap basah orang itu. Namun, tak ada siapa pun. Ia hanya melihat tetangganya yang bekerja di sebuah laboratorium baru pulang kerja. Seorang pemuda yang berprofesi sebagai dokter. Jarang sekali mereka berinteraksi karena memang sama-sama sibuk.

Pernah juga setelah salat Subuh ia coba memantau kembali, tetapi tetap tidak ada gelagat yang mencurigakan. Namun, saat hari sudah terang dan dia membuka jendela, selalu didapatinya ada yang tergantung di pintu pagar. Isinya macam-macam. Ada gantungan kunci. Lukisan mini. Beberapa butir permen. Bahkan pernah isinya cuma batu pipih yang sudah dilukis gambar daun. Pesannya pun sangat menggelitik: masih ada beberapa hari lagi, aku sudah bingung ingin memberimu apa. Bagaimana Arunika tak penasaran.

Tanpa sadar Arunika sudah berada di rumah genap tujuh belas hari. Empat belas hari masa karantina plus tiga hari untuk memastikan bahwa dirinya sudah benar-benar sehat. Tiba-tiba saja ia jadi menyadari satu hal. Bagaimana mungkin waktu selama itu bisa terlalui begitu saja? Ke mana rasa jenuh dan frustrasi yang pernah menyerangnya hebat di beberapa hari pertama karantina? Mengapa hari-harinya yang sempat terasa gloomy[2] tiba-tiba menjadi secerah mentari pagi. Meskipun seorang diri melewati semua itu, tetapi Arunika merasa seperti ada teman yang khusus menemani. Siapa dia? Hati kecil Arunika berbisik. Setiap kali bertanya pada diri sendiri, setiap kali pula ia teringat pada beluam-beluam yang tergantung di pagar. Selalu terbit pula senyumnya. Namun, pagi ini ia tidak melihat ada beluam yang tergantung di pagar. Hatinya sempat pias.

Buru-buru ia tepis perasaan tidak nyaman itu. Arunika pun pergi ke kamar mandi dan perlu bersiap-siap untuk ke laboratorium. Dia ingin melakukan rapid test, untuk memastikan bahwa dia sudah tidak reaktif lagi.

Di luar apa yang Arunika pikirkan, tetangga depan rumahnya yang sudah siap dengan setelan dinasnya tampak terburu-buru menggantungkan beluam biru muda di pagar rumah Arunika. Semalam dia tidur sangat pulas sehingga terlewatkan menggantungkan beluam yang biasa dilakukannya setiap kali bangun untuk salat Tahajud. Dialah yang sebelumnya memeriksa sampel Arunika di laboratorium. Dokter muda itu sempat kaget saat melihat nama tetangganya berada di daftar antrean tabung sampel yang harus diuji. Saat hasilnya keluar dan Arunika diketahui positif Covid-19, dia sempat ingin memberitahukannya secara langsung. Namun, ia tak cukup punya nyali.

Lalu sebuah ide konyol tiba-tiba muncul di pikirannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk “menemani” hari-hari Arunika selama masa karantina. Dia tahu Arunika gadis yang sibuk, tapi dia juga tidak begitu kuat untuk melewati semuanya. Dia harus mendukungnya.

 

Untuk Arunika:

Hebat! Kamu sudah melewati tujuh belas hari dengan baik. Semoga ke depan tak ada lagi yang memenjarakanmu seperti ini. Kecuali... kecuali terpenjara oleh rasa penasaran. :-D

 

Jantung Arunika jadi tak karuan setelah membaca isi surat kaleng itu yang disertai dengan sebuah cokelat premium. Berkali-kali ia meyakinkan diri kalau sesaat sebelum dirinya ke kamar mandi tadi, tak ada apa pun di pagar. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu sudah ada beluam di sana? Tiba-tiba ia mendengar suara sepeda motor tetangganya yang berangkat kerja. “Dokter Oding?” ia menebak-nebak.[]

 

Cerpen ini mendapatkan penghargaan Terbaik II Lomba Penulisan Cerita Wana be the Best Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh 2020

 

[1] Senang

[2] Muram 



Sabtu, 02 Oktober 2021

Permen Kopi di Bandara




 "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?"

Pertanyaan itu. Aku lupa, entah siapa di antara kita yang melontarkannya. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan dalam satu perjalanan dengan tujuan yang sama. Kita sama-sama terjebak di bandara ini. Uhm, kata terjebak rasanya terlalu berlebihan. Tapi, apa bedanya, toh kita memang harus menunggu lama untuk keberangkatan subuh nanti.

Malamnya, seperti juga aku, kau memutuskan menginap di bandara. Ada rest area yang nyaman untuk tidur selama beberapa jam. Ada charging box juga, jadi aku bisa menambah daya dengan leluasa di sana.

Sayangnya, sofa bed yang tersedia, meski empuk, tak bisa membuatku leluasa untuk meluruskan kaki. Jadinya, aku harus tidur sambil meringkuk. Kucoba alihkan perhatian pada tayangan televisi LED yang ada di ruangan. Nyaris semua chanel menayangkan kondisi Kota Palu dan beberapa kabupaten lain di Sulawesi Tengah yang sepekan lalu baru saja dihantam gempa dan tsunami. Tayangan itu sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik.

Suhu di ruangan ini tak ubahnya seperti di dalam kulkas saja. Dan, seperti juga kamu, rasa dingin yang menggigit-giti tulang membuatku tak bisa memejamkan mata walau sesaat saja. Padahal, tubuhku terasa sangat letih. Perlu tidur. Aku memang kurang bersahabat dengan suhu yang terlalu rendah. Jaket dan kupluk yang kupakai untuk membalut tubuh tak begitu menolong. Hawa dingin dari sejumlah standing air conditioner rasanya seperti masuk ke rongga-rongga telinga dan hidungku. Bisa mati kalau aku terus bertahan di ruangan ini. 

Sama juga sepertimu, lalu kuputuskan untuk keluar dari ruang istirahat. Aku menuju ruang tunggu yang terasa lebih hangat. Mungkin karena ruangan yang lebih luas. Juga masih ada orang yang berlalu lalang, jadinya hawa sejuk itu terserap oleh banyak tubuh.  

Sudah pukul setengah dua malam. Ruang tunggu yang tadinya ramai dengan lalu-lalang manusia mulai tampak lengang. Sejumlah penumpang terlihat merebahkan tubuh di kursi-kursi. Satu-satunya yang kulihat masih teronggok di kursi hanya kamu. Kalau bukan karena senyummu yang menawarkan pertemanan, barangkali aku urung melangkah.

"Kedinginan juga?" pertanyaan itu membuatku memutuskan untuk duduk sejajar denganmu. Kata orang, mengobrol bisa mengatasi kebekuan. Aku tidak terlalu yakin, tetapi kenapa tidak dicoba saja, kan?

"Mau ke mana?" 

Pertanyaan basa basi khas orang orang yang bepergian. 

"Palu."

"Sebagai relawan?"

Aku mengangguk. Meski sebetulnya bukan, tetapi hingga detik itu kau masih orang asing bagiku. 

"Aku juga akan ke Palu."

"Sebagai relawan juga?"

Kau mengangguk. Aku menangkap keraguan pada anggukanmu, tetapi seperti halnya aku, sampai detik itu aku pun orang asing bagimu. 

Kau menawarkan aku kopi. Permen kopi tepatnya, yang kuterima dengan senang hati. 

"Orang-orang yang suka kopi konon memiliki hati yang hangat."

"Dan karena itu hati mereka nyaman untuk didiami?"

Aku tak berharap kau menanggapi seserius itu. Tetapi memang, berawal dari situlah semuanya bermula. Kita bukan lagi orang asing yang beberapa menit lalu baru saja berkenalan, tetapi kita adalah sahabat lama yang bertemu kembali di ruang tunggu terminal bandara. Banyak cerita yang mengalir. Dari yang remeh temeh hingga hal-hal yang menurut kita serius, seperti asal usul kita. 

Namun, entah mengapa, tidak ada seorang pun di antara kita yang berusaha untuk mengenalkan atau menanyai nama masing-masing. Terbersit di hatiku untuk bertanya, tetapi sejurus kemudian aku teringat. Mengapa nama seolah-olah menjadi begitu penting. Apakah haram bercerita karena kita tidak tahu siapa nama lawan bicara kita?

Bukankah menyenangkan bercerita pada orang asing. Tidak perlu merasa malu karena toh kita tak akan pernah ketemu lagi dengan mereka?

Kulihat kau menerawang. Aku mengekori tatapanmu tanpa sedikit pun ingin menyela. Meski begitu benderang, tetapi wajahmu terlihat agak samar. Aku benar-benar sudah tidak merasa mengantuk lagi. Padahal seharian ini waktuku habis untuk perjalanan. Tidak ada istirahat yang begitu berarti. Di pesawat siang tadi pun sebentar saja aku bisa tidur.

"Palu... Bukankah terlalu berisiko untuk seorang sepertimu? Maksudku, bukankah ini perjalanan pertamamu ke sana, dan keadaannya sekarang sedang bencana. Sewaktu-waktu masih bisa terjadi gempa... Atau tanah bergerak."

Aku tidak menampik. Tetapi aku juga tidak pergi tanpa persiapan. Aku menunjukkan lembaran berisi cek list berbagai persiapan yang telah kulakukan. 

"Wow! Kau begitu detail." 

Aku senang mendengar suaramu yang antusias. Seolah-olah yang kulakukan ini di luar kebiasaan. Padahal, siapa pun yang terbiasa bepergian, lazim melakukan ini. Disadari atau tidak.

"Memang tidak ada yang merisaukan aku selain ibuku, tetapi kupikir, aku tidak ingin menyesal jika terjadi hal hal buruk padaku. Makanya aku buat cek list sebanyak ini, setidaknya aku tahu harus menghubungi siapa dan menghindari kondisi yang bagaimana saat di sana nanti. Aku juga sudah mencari tahu hotel yang masih bisa diinapi."

"Aku bahkan tak lagi punya orang tua. Masih punya beberapa kerabat, tetapi kuyakin mereka tidak peduli padaku. Aku terbiasa hidup sendiri... Setidaknya sejak beberapa bulan terakhir. Mungkin karena itu, nyaris tidak ada persiapan yang kulakukan, selain beberapa helai pakaian, beberapa obat untuk pertolongan pertama, dan... Tentu saja uang yang banyak. Hahahaha."

"Sebelumnya?"

"I have some one yang... setidaknya ada yang merecoki hidupku. Membuat hari-hariku sedikit lebih berwarna. Sesekali aku mengiriminya foto-foto hasil karyaku di dapur, atau kadang kadang kami bercerita tentang aktivitas masing-masing."

"Kau pandai memasak?"

"Aku terbiasa mandiri sejak kecil, menurutku memasak bukan kepandaian, tetapi itu kecakapan hidup yang harus kita kuasai. Paling tidak, memasak mi instan atau menanak nasi, kan?"

"Ya, kau benar. Seharusnya, reaksiku biasa-biasa saja, ya, tak ada yang perlu diistimewakan," aku seolah mengklarifikasi reaksi spontanku tadi.

Kau tergelak. Mengangguk sebagai tanda persetujuan.

"Oh ya, ke mana seseorang itu sekarang?"

"She is gone."

"Ups..."

"Setidaknya itulah kesimpulanku, sebab sebelumnya komunikasi di antara kami baik-baik saja. Aku bahkan tak pernah menduga dia pergi dengan tiba-tiba. Tak ada masalah, tak ada perdebatan, semuanya menjadi dingin dan canggung tiba-tiba."

"Mengapa kau berpikir kalau dia meninggalkan kamu?"

"Uhm.... entahlah, tapi soal itu aku mempunyai perasaan yang tajam. Suatu hari aku menemukan sesuatu di media sosialnya."

Kau membuat tanda telinga kelinci saat menyebutkan sesuatu. Aku mengangguk, meski tak paham apa yang kaumaksud, tapi yang pasti itu sungguhlah membuatmu kecewa dan sakit hati.

"Sejak itu  aku tidak lagi menaruh harapan padanya. Kupikir, tugasku sudah usai... "

"Tugas?"

"Ya, membantunya melewati masa-masa sulit, membantunya menemukan jati diri setelah terpuruk dan terpukul oleh kehidupan. Aku bersyukur karena dia masih bisa melihat dunia yang lebih terang dan indah..."

"Kamu tidak berusaha mengonfirmasi?"

"Aku bukan wartawan," ucapmu dengan senyum lirih.

Ya ampun, kau bahkan masih berusaha untuk melucu. Atau memang begitulah cara orang-orang sepertimu menghibur diri?

"Mereka dengan hati yang hangat konon lebih sering tersakiti."

"Mengapa harus?"

"Karena mereka memiliki kepedulian yang tinggi, apalagi terhadap orang yang suka merecoki hidupnya. Aku mengenal beberapa orang yang punya hasrat berkorban tinggi sepertimu."

"Apa termasuk dirimu sendiri?"

Hahahah. Giliran aku yang tergelak. Sial! Pandai sekali kau memancing segala yang kusembunyikan di dalam diriku. 

"Orang-orang yang merecoki hidup kita dalam tanda kutip memang seperti pisau bermata dua. Sewaktu-waktu memang bisa berbalik melukai," lanjutmu kemudian.

"Dan karena itu kau ke Palu?"

"Uhmmm..."

"Seseorang pernah bilang padaku, saat hati terluka kita hanya perlu mencari kesibukan, itu sebabnya banyak orang yang terluka memutuskan untuk mengembara..."

"Apa kita pengembara?"

"Hahahaha...."

"Ada kesakitan yang paling sakit, saat kita menyadari yang hilang dalam diri kita bukanlah sesuatu yang berbentuk..."

Lalu hening. Dan saat tak ada suara-suara yang merambat, hawa dingin kembali terasa menusuk-nusuk. Aku membuka WhatsApp. Membaca status teratas dari beberapa teman. Sudah dinihari, tetapi masih saja ada yang belum tidur. Masih ada yang membuat status. Status-status bernada muram.

"Barangkali mereka juga seperti kita."

Sepertinya kau tahu apa yang bermain di pikiranku.

"Orang orang sekarang lebih beruntung karena punya media untuk meluapkan emosi, bisa bikin status di medsos atau WhatsApp. Itu termasuk ampuh untuk mengurangi beban psikologis."

"Ya, aku setuju, tetapi tetap saja, tempat bercerita yang menyenangkan adalah kepada manusia. Manusia bisa merespons. Bisa menunjukkan empati. Sedangkan benda, secanggih apa pun tidak pernah bisa..."

"Tetapi saat kita tidak bisa menemukan seseorang yang tepat untuk bercerita bagaimana?"

"Kita bisa menciptakan manusia. Pikiran kita bisa menciptakan apa saja..."

Tepat setelah kau mengatakan itu, aku jadi tersentak. Aku terkejut saat kudapati tidak ada seorang pun di sampingku. Kosong. Kuedarkan pandangan ke ruangan yang terhampar. Orang-orang masih tergeletak di kursi. Tidak ada satu manusia pun yang berlalu-lalang. Juga tidak ada tanda-tanda ada pernah ada orang di sampingku sebelumnya... tetapi...bungkus permen kopi ini...

Lamat-lamat, pertanyaan "Ketika hati patah, ke mana kita membawanya agar kembali pulih?" muncul kembali di dalam diriku.[]