Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2006

Tentang Alam

ceritakanlah tentang hari ini, pada kawah-kawah lembah yang terjal. pendakian mencari jati diri yang tersaruk-saruk pada hasrat dan nafsu. dengan menjepit-jepit urat nadi hingga menjerit terperih-perih, persis seperti lolongan anjing yang mengejar bayangan tulang-tulang dimalam hari. ah...begitulah mengejar kepuasan, selalu merasa tak pernah cukup. keliaran dan kebuasan imaji semakin memporak-porandakan apa yang dipunyai oleh tubuh ini, sakit. dan akan selalu sakit. ceritakanlah tentang malam yang merintih-rintih karena terus-terusan ditiduri dengan paksa oleh awan yang perkasa. ia tersaruk-saruk dan tak sanggup bangun, selangkangannya berdarah-darah. pun ia tetap berjalan dan melintasi malam. ia tertatih-tatih diantara gelap malam dan rumput-rumput yang basah...ah...adakah yang lebih indah dari ini? bercinta tanpa rasa sakit dan perasaan tercabik-cabik. tapi ia tetap melakukannya persetubuhan tak biasa itu, karena ia pun menginginkannya. ceritakan tentang pagi yang basah, yang meny

Ramadhan

Ramadhan... tak setiap tahunnya aku bisa menyambutmu dengan menggebu-gebu kadang aku terlalu sibuk dengan sesuatu yang entah sampai aku lupa kau telah begitu dekat setiap hari,setiap waktu setiap detik aku lebih sering mengukir dosa memahat kebengisan aku berjalan mengambang seperti diterbangkan angin Ramadhan... aku tidak ingin ada kesiaan lagi hatiku tidaklah seputih kapas karena itu prasangka akan selalu ada tutur kataku tidak seperti Rasulullah yang selalu menenangkan karenanya pasti ada yang sakit hati aku Mohon ampun kepada Allah kepada kalian semua kepada sauradaku seiman aku manusia kecil dengan segudang kekhilafan aku tidak ingin ada kesiaan lagi Ramadhan penuh berkah... aku ingin menemuimu dengan hati lapang dan bersih sampaikan maafku pada semua yang pernah kusakiti hatinya, yang pernah kukasari, yang pernah kudiami

Ada apa dengan ku?

berapa kali aku ditanya ada apa dengan mu? ah, jawabnya ditanah pasir sana pergi dan temui dia dulu lalu datang kemari lagi dan tanyakan lagi padaku ada apa dengan mu? baru aku akan jawab denganku ada apa ah....ada apa dengan mu kawan? tanyalah pada potongan roti dan segelas air mineral dikamarku pada sekat-sekat kamar yang debunya sudah lebih satu senti saking lamanya ku tinggalkan kalau sore ini aku bercerita bukan karena aku telah jujur ah...kemana kutanya ada apa dengan diriku? pada sprei tua yang telah bertahun-tahun menemaniku kah? atau pada jarum berkarat yang sebentar lagi akan patah? atau pada kertas-kertas usang yang ada nama-nama kekar diatasnya? atau pada selesma yang keluar karena flu hahahah.... mentertawai siapakah itu? aku mentertawai diriku sendiri dengan air mata yang jatuh tanpa henti dengan sembab diujung senja aku merindukan Zal... lebih dari hari-hari kemarin jendela kaca 17:52 20/09/06

selamat datang kekasih

Ba'da 'Ashar menjelang "tahrim" Perlahan awan berarak memberi ruang pada matahari memasuki ufuk barat nan senja Matahari berpamitan pada senarai biru langit yang mengajari berhitung para fukaha Mata merindu bulan sabit yang nyaris tak terlihat di pucuk angkasa Anak dara berdebar-debar melipat sajadah dijemput sang perjaka yang baru "dikahwin" tadi siang resah gelisah kerinduan ketakutan harap Bulan madu sang malaikat itu berurai air mata tasbih, zikir dan raka'at tarawih Para fukaha tak melanjutkan hitungan bulat sabit Karena sang dara mengerang di malam pertama di peluk kekasihnya yang lama didamba Mereka membuka selubung bulan di biliknya yang menghadap ke laut Hitungan ke satu telah dimulai Beduk bertalu-talu Seperti rintihan sang dara yang tak mampu menahan rasa rindu : Selamat datang kekasih

Dialog Dengan Adam

"Kenapa Bunda memilih Adam?" kata-kata itu terlontar dari mulut mungil yang diisyaratkan adam dalam tidurku semalam, ketika tengah malam aku terjaga dan buru-buru melihat kesamping, dengan harapan segera kutemukan adam. aku lupa, adam telah pergi untuk beberapa waktu dan aku bukan lagi dirumahnya. "Ah...haruskah bunda menjawab sayang?" mungkin aku tengah mengigau saat itu. tanpa sadar aku menjawab isyarat dari adam dengan suara parau. adam tersenyum. matanya mengerjap-ngerjap. kakinya menendang-nendang popok birunya hingga terlepas. adamku semakin pintar sekarang, gumamku dalam hati. aku melirik jam dari layar hand phone ku, pukul dua malam. kepalaku masih terasa pusing dan tubuhku berkeringat. "Bunda...." panggil adam lagi "Ssstt..." kuletakkan telunjukku dimulutnya. "kenapa bunda memilih Adam?" kali ini suaranya terdengar berbisik, mungkin ia takut ada yang terbangun dengan obrolan kami tengah malam ini. "hm...kenapa bunda me

menjemput luka

pulang kerumah berarti kembali menjemput luka memahat cinta berarti juga mengukir air mata meninggalkan adam sama saja dengan membuang nafas ketika tersaruk dan terjatuh tak ada lagi popok lusuh yang bisa menyembunyikan ku ketika tersandung dan sekarat tak ada lagi yang bisa menolong seperti semalam tak ada lagi yang mengerti akan isyarat dan bisa melindungiku dengan cinta yang sempurna ah,...tak ada adam kecil berarti hidup dengan sebelah kakia aku mulai mengerti sekarang adamlah yang bisa dicintai dengan seutuhnya pulang kerumah berarti kembali menjemput luka melihat kasur itu artinya mengais dosa melihat dinding kebencianlah yang ada melihat surat cinta di pintu lemari sama saja dengan mengatakan semalamat tinggal cinta Adam saja yang kubutuh __________________

isyarat pada adam

tidak ada lagi adam kecil didekatku, tidak ada lagi yang bisa mengerti isyarat-isyarat yang kusampaikan. ah, tidak adalagi yang menyelamatkan ku seperti semalam, tidak adalagi yang menolongku seperti semalam, aku seperti tersaruk, sakit sekali. kemana aku lari ketika hati tercabik-cabik seperti ini, adam kecil...kau pergi ketika bunda masih ingin berlindung dibalik popok mu yang berwarna biru. kau meninggalkan bunda disaat bunda akan jatuh dan mungkin bunda akan mati sepeninggalanmu. tapi, satu terimakasih untuk mu. kau telah selamatkan bunda semalam, dihadapan semua orang, kau telah menjadi relasi yang baik untuk menutupi semua sandiwara bunda nak.

Cerita Bunda ke Adam

adam kecil...maafkan bunda ya nak, tanpa sengaja kamu telah jadi tempat pelarian gelisah bunda. dengan adanya kamu bunda bisa berbohong, bunda bisa menutupi kegalauan hati bunda dengan mencium pipi mungilmu yang merah. bunda bisa menangis tanpa ada yang tau sebenarnya tangisan itu karena bunda takut berpisah denganmu atau karena yang lainnya. ah...adam kecil bunda, terimakasih telah menolong bunda disaat-saat kritis seperti semalam ya nak. dalam tidurpun bunda terus memanggil-manggil namamu semalam, beberapa kali bunda terjaga dan bunda dapati bunda bukan ditempatmu. bunda sedih, bunda kecewa. dan pagi tadi bunda kembali menangis nak, tapi tidak ada kamu yang bisa menolong bunda, ah...bunda sakit sekali pagi ini. bunda mau pergi saja rasanya nak, tapi kamu mau kan ikut dengan bunda sayang? kamu tau sayang, perih sekali yang bunda rasakan saat ini. pertama karena bunda kehilangan kamu untuk beberapa waktu, bunda tidak pernah menduga kalau semua ini terjadi pada bunda. seluruh kekuatan

Ku tiduri hujan

semalam Kutiduri hujan dengan tubuh setengah basah setengah kedinginan setengah kepanasan setengah kuselimuti setengah kubiarkan terbuka semalam kupaksakan hujan dengan kehendakku untuk melepas sebagian sajas ebagian untuk besok, kataku hujan menurut semalam, kutiduri hujan dengan tubuh setengah basah...

Sebuah Introspeksi

Untuk mengetahui nilai Satu Tahun Tanyakan seorang siswa yang gagal dalam ujiankenaikannya Untuk mengetahui nilai Satu Bulan Tanyakan seorang ibu yang melahirkan bayiprematur Untuk mengetahui nilai Satu Minggu Tanyakan seorang editor majalah mingguan Untuk mengetahui nilai Satu Hari Tanyakan seorang buruh harian yang memiliki enam anak untuk diberi makanUntuk mengetahui nilai Satu Jam Tanyakan seorang ayah yang sedang menanti kelahiran anaknya Untuk mengetahui nilai Satu Menit Tanyakan seseorang yang ketinggalan kereta Untuk mengetahui nilai Satu Detik Tanyakan seseorang yang selamat dari kecelakaan Untuk mengetahui nilai Satu Milidetik Tanyakan pada seorang atlit yang memenangkan medali olimpiade

Diam

aku diam diam diam dan diam mataku saja yang memandang tajam hatiku saja yang menahan amarah tanganku saja yang mengepal kuat lututku gemetar tapi aku tetap diam tak ada satu katapun yang ku keluarkan aku takut dia sakit hati

"Mertua"

Kepalaku rasanya mau pecah, gimana enggak, orang tua mau datang bukannya malah senang, maksudku begini, senang sih senang, sanat senang malah tapi aku tidak tahu kalau akan begini jadinya. Sejak sore tadi muka istriku di tekuk terus, aku tak bilang kalau ia tidak menyukai orang tua ku, tapi aku yang sekarang jadi tidak enak. Uang sepeserpun tidak ada ditangan, bahkan tadi sore istriku ngutang ke tetangga sebelah untuk membeli beberapa keperluan untuk menyambut kedatangan mertuanya. Pagi-pagi ia sudah bersih-bersih dan beres-beres rumah. Kamar sudah disiapkan, spreinya sudah diganti dengan yang baru, ia juga telah membeli selembar ambal Palembang untuk menyambut mertuanya yang tak lain adalah ibuku. aku lebih-lebih tidak enak kepada mertuaku, meskipun mereka ngga bilang tapi aku bisa menangkap rasa kecut dari raut wajah mereka. Apalagi kalau bukan soal uang yang telah kuhabiskan sebanyak tujuh juta-an untuk membiayai ibuku dan tiga orang saudaraku yang datang dari Palembang kemari. Semu

Dua Senarai

aku belajar keikhlasan pada lampu teplok dirumahku belajar untuk sabar dan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada ku aku belajar melepas keinginan pada lampu teplok dirumahku belajar melepas cinta dari orang yang kucintai belajar memberi pada lampu teplok dirumahku belajar untuk tidak menagih janji juga dari lampu teplok dirumahku belajar menerima ketika salah jatuh cinta ah, sudah ku bilang, aku belajar menahan amarah pada lampu teplok dirumahku belajar berbagi pada lampu teplok dirumah ku aku menitip pesan pada gadis kecil yang namanya sama dengan ku senarai... sampaikan salam untuk ibu mu aku bilang nama kita sama itu karena kita sama-sma dicintai senarai mengangguk ia masih tiga tahun tentu belum mengerti bahwa ada dua senarai di hati ayahnya aku belajar menitip pesan pada lampu teplok dirumah ku belajar menulis dua senarai pada hati seorang lelaki Rumah Adam Tengah Malam, 14/09/06 __________________ Senarai Cinta...

Bentuk Setengah Utuh

kugambarkan Hujan dalam bentuk setengah utuh setengah keatas atau setengah kebawah supaya aku mudah menjelajahinya hari ini kuselesaikan setengah besok setengahnya lagi lusa ku ulangi lagi kugambarkan Hujan dalam bentuk setengah utuh setengah keatas setengah kebawah agar aku mudah menelusurinya sekarang, dudukkan aku didekat Hujan agar aku bisa memandangi bentuk setengah utuhnya

Hanya Aku Yang Tahu

hanya aku yang tahu seperti apa tanganku mengepal seperti apa kaki ku melangkah seperti apa tubuhku mengatup jadi, janganlah kau sok merajaiku mengatakan begini begitu sementara kita baru kenal sehari berhentilah berfikir menyalahkan orang lain karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan tidak tersemat dipundak ku atau dibahu mu jadi, berhentilah mengatakan ku pengkhianat, atau pengecut karena penjahat tidak juga ingin di cap pendosa rumah Adam, 07/09/06 23:12

"Bulan Tampak Separuh"

kusaksikan bulan dari jeruji kepasian dengan noktah-noktah kelabu yang melingkari angin-angin basah ramai-ramai mendorong awan menutupi bulan hingga kelihatan separuh saja tampak sabit kini malam-malam gelap dibyang-bayangi samar bulan dikipas-kipasi angin basah diarak-araki awan gelap yang saling adu ketangkasan saling menampakkan kekuatan hingga bulan tetap separuh Rumah Adam, 07/09/06 22:36

"Itu kah Rindu?"

hei, rindukah itu yang mencabik-cabik perasaan? yang mengoyak-ngoyak logika yang menyeret-nyeret hati hei, rindukah itu yang mengerat-ngerat jasad yang mencincang-cincang batin hei, rindukah itu yang mampu mengalahkan logika yang bisa membutakan mata yang mampu mengelabui akal apakah itu rindu? yang menyerupai Scylla* yang tumpah berserakan tak tentu arah yang mengalir dan terus mengalir tak mau berhenti ah, itulah rindu rupanya *Scylla: dewi yang berubah wujud menjadi monster dalam mitologi yunani, yang meneror pelaut diselat messina

"Cerita Sore"

aku duduk dikursi yang sudah tidak utuh lagi setelah menyerahkan motor kepada montir. aku memperhatikan dari jauh apa yang dilakukannya, mula-mula ia melepaskan ban dalamnya lalu menambalnya dengan karet dan dibakar suapaya menempel, prosesnya cukup lama juga. dan aku harus menunggu agak sedikit lama, mesin gen set besar sangat membuatku tak nyaman dan bising. saat itu masih pukul 17:39. "kak, udah dicari kemana-mana ngga ketemu juga rumahnya, malah udah sampai ke fajar hidayah. bawa pulang aja lagi ke takengon jilbabnya" tulisku melalui layanan short message service. barangkali kedengarannya agak sedikit pedas tapi aku tidak bermaksud begitu. saat itu akupun tidak tahu apa yang sudah tertulis dilayar hand phone ku. sudah satu jam lebih aku berputar-putar, keluar masuk lorong untuk mencari rumah yang dimaksud, tempat kak isra menginap selama ia berada di kota ini. tapi tidak ketemu juga rumahnya, yang membuatku sedikit kesal adalah karena sebelumnya aku sudah pernah keruma

"Aku perempuan"

aku perempuan, yang bisa menghargai dan menghormati diri aku perempuan, yang mempunyai seperti apa yang kau katakan tapi bukan untuk menabur dosa pada yang melihatnya aku perempuan, yang ingin dihargai dan dihormati tapi bukan dengan harus telanjang sekali lagi, aku tetap perempuan aku merasa sangat perempuan bukan dibawah ancaman siapapun aku merasa sangat perempuan bukan dibawah cercamu aku merasa sangat perempuan bukan dibawah selangkang mu aku merasa sangat perempuan karena aku hebat aku bisa melahirkan laki-laki