Langsung ke konten utama

Ihan Sunrise

aku adalah diriku. dengan segala kegilaanku. dengan segala keterbatasanku. dengan segala kebiasaanku. dengan segala kekuranganku. dengan sedikit kelebihan juga tentunya. tapi entah apa itu. kelebihan berat badan kali. atau kelebihan imajinasi. inilah yang membuatku rela begadang sampe tengah malam, menelurkan imajinasi tersebut menjadi anak-anak tulisan yang berwarna-warni, biarpun induknya lokal tapi anak harus ada yang blasteran. atau minimal bercampur suku lah.
mengandung anak-anak tulisan supaya bisa lahir blonde memang agak sedikit butuh kejelian dan kesabaran ekstra. perlu hati-hati agar janin tulisan tidak keguguran sebelum waktunya lahir, prematur sedikit tidak apa-apalah. makasih ya Pak Joseph...temen mayaku yang tinggal di Holland, dan juga Roy yang sekarang ada di Argentina, udah membantu proses buntingnya si ihan sunrise sampai melahirkan si Kursi Goyang Madam Maria dengan mendekati sempurna. kalau hidungnya tidak semancung aslinya, atau kulitnya yang tidak terlalu putih, itu karena si Ihan ketika hamil suka sambil chatt ama si nanda dan si neno. jadi jewer aja tuh si nanda ama neno.
perdebatan-perdebatan kecil ihan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya ternyata membuatnya hami diluar nikah, maka lahirlah si lelaki tikus, si kunang-kunang Perempuan. hanya persetubuhan dengan dirinya sendiri lah yang melahirkan orang meubaje kureng dengan sempurna, tapi itupun sambil mencoba berselingkuh untuk melahirkan cerita Nanda, hasilnya, Nanda memang prematur, maklum...anak hasil selingkuhan. siapa yang menyelingkuhinya janganlah diberi tahu disini, privasi.
yang lebih lokal dan nggak kalah gaul ada juga, seperti memburu nafas, tapi itu cerita hanya untuk neno, balasannya udah diterima dan sudah dititipkan ke balai penitipan anak (blog ini), diam-diam anak itu aku adopsi dari neno dan ku titipkan disini. itu... yang judulnya if you were may baby...aku yakin yang membacanya pasti deg-degan, tapi yang memburu nafas lebih gila lagi dari itu. sekedar tahu saja, if you were may baby udah lewat proses editing yang panjang dan lama, tujuannya agar balai penitipan anak ini nyaman dikunjungi oleh siapa saja. walaupun ini rumah pribadi, tamu yang datang kemari sesekali orang penting juga. sekelas orang usil dan grasak-grusuk seperti ihan sunrise juga lah...ketika hamil dia memang butuh perjuangan berat, ngidamnya luar biasa, kepingin inilah kepingin itulah, sampai aku mencak-mencak dan marah-marah, nih anak kok susah amat lahirnya ya???lahir sungsang, makanya tidak di publish. ntar dia ngurut semua orang yang membacanya.
begitulah, aku dengan segala keliaran imajinasi ku. berhasil mengumpulkan banyak anak, ada yang hasil perselingkuhan ada juga yang hamil melalui jalur formal. ada juga yang terpaksa mencuri embrio dari puntung-puntung rokok....hahaha....botol aqua, kertas-kertas, dan gaya minimalis a la bunda ihan.
dan sekarang masa mengeram itu sepertinya sudah cukup, menjalani proses mengandung, ngidam, sakit-sakit pinggang, sampe proses persalinan diruang gelap memang menyenangkan. bahkan orang tidak tahu yang sedang hamil itu laki-laki atau perempuan ya? makanya tak jarang banyak yang memberi ucapan selamat yang agak mbalelo dikit.
"selamat ya mas ihan....anaknya cakep...itu tuh...si blonde"
"bang ihan...si farid atau si farid tuh..."
saya sih cuma mesem-mesem aja, laki-laki dan perempuan sama aja, bedanya dikit aja. banyak juga yang tanya ibunya gimana sih, kok anaknya cakep-cakep...ada yang bulek, ada yang genit, ada yang macho, ada juga yang kampungan kayak lampoh tanjong.
ini lho ibunya...yang pake kerudung warna biru itu, yang ada tai lalatnya dimana-mana, salah satunya ya yang dibawah hidung itu. udah capek ngeram, tapi sebenarnya selain alasan mengeram dan menjelaskan soal kepastian jenis kelamin ke publik ada alasan lain yang sangat-sangat penting. ini soal harga diri...ceile...ka i mubuet si ihan nyan...nyoe keuh ihan sunrise yang asli. grasak-grusuk juga kayak si nanda yang suka lompat sana lompat sini, kelewat lompat kejedut dinding. makanya, sebelum kejedut tembok kayak dia karena capek mengeram dikamar gelap harus duluan buat penampakan.
buk ihan teungeut that uroenyoe sebenar jih, semalam pulang jam setengah sebelas malam. cari angin segar biar proses persalinan kedepan lebih fresh lagi. soalnya ini sedang mengandung kembar, ada beberapa janin yang saat ini mengubek-ngubek perut bunda ihan, ada yang blasteran, ada yang lokal, ada juga yang agak udik sedikit. biar beda gitu lho...makanya sekarang sering 'sakit'. mume nyan hek sit rupajih euy...apalagi yang dikandung jenis kabut di malaysia.... tapi kok baru sekarang terasa capeknya ya? karena udah penampakan kali...hom hay..nyoe kadang...hihihihi...yeh...bunda ihan ka mulai lom.
terakhir...thanks alot to all my friend....wherever u are....terutama yang maya...
yang "tikus-tikus" juga....

Komentar

  1. Ihan jangan terlalu banyak kelebihan berat badan ya, hehehehhehe. Tulisan-tulisan ihan bagus, kak sering mampir walau kadang ga ninggalin jejak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahah iya nih kak, makasih ya udah berkunjung ke blog ihan

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja