Langsung ke konten utama

Antara Aa Gym dan Aa Yahya

Apa yang membuat Abdullah Gymnastiar dan Yahya Zaini tiba-tiba menjadi perbincangan publikyang tidak putus-putus. Melesat bagai roket dan berputar-putar dilangit. Sudah hampir dua pekan masih belum reda juga. Berita seputar pernikahan Aa Gym yang kedua menjadi topikhangat setiap surat kabar, menjadi head line news di setiap televisi


Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Yahya Zini, skandal sex nya dengan mantan penyanyi dangdut Maria Eva mendadak memenuhi setiap layar kaca pertelevisian di Indonesia, begitu juga di internet dan surat kabar.


Cerita tentang poligami Aa Gym dan skandal sex Aa Yahya barangkali menjadi tidak menarik kalau mereka adalah orang kebanyakan yang tidak dikenal oleh masyarakat luas. Tapi karena mereka adalah public figure maka seperti itulah kejdiannya. Kalau ditilik lebih jauh kejadian keduanya sangat bertolak belakang, Aa Gym selaku orang yang taat beragama mencoba menerapkan salah satu sunnah Rasul sesuai dengan hukum islam. Sedangkan Aa Yahya yang melakukan hal tidak senonoh tersebut jelas-jelas bertentangan dengan agama, bukankah itu zina?


Namun menjadi menarik karena yang melakukan adalah orang-orang kepercayaan masyarakat, bagaimana tidak, bukankah selama ini Aa Gym dikenal bukan hanya sebagai figure dai yang ideal, tetapi juga sebagai seorang suami yang ideal, juga ayah yang ideal, karenanya wajar kalau ia menjadi panutan banyak orang. Sikap dan prilakunya memang pantas ditiru, nasehatnya pantas didengar, karena ia terlihat sebagai the holy man versi majalah time beberapa waktu yang lalu.


Sedangkan Aa Yahya, meskipun bukan dai kondang seperti Aa Gym namun posisnya sebagai anggota dewan dan sebagai kabid keagamaan disalah satu partai cukup dikenal oleh masyarakat. Karenanya begitu keduanya melakukan suatu hal yang tidak lazim mereka harus siap menuai kecaman dari masyarakat.


Memang tidak bisa bermain-main menjadi orang terkenal, sedikit saja melakukan kesalahan fatal akibatnya, konon lagi seperti yang dilakukan Aa Yahya. Kalau yang dilakukan oleh Aa Yahya jelas-jelas sebuah kesalahan lalu bagaimana dengan poligami yang dilakukan oleh Aa Gym yang justru mendapat kecaman lebih banyak dari maysarakat. Bukankah poligami dibolehkan?


Terlepas dari boleh atau tidaknya poligami, apa yang dilakukan Aa Gym serupa dengan yang dilakukan oleh Aa Yahya, sama-sama melukai keluarganya, sama-sama melukai hati masyarakat, membuat kecewa banyak orang, juga hilangnya kepercayaan dari masyarakat. Pemerintahpun kebat-kebit dibuatnya, sampai-sampai langsung merevisi undang-undang perkawinan. Bedanya Aa Gym tak perlu malu seperti Aa Yahya karena dia tidak melakukan hal yang bertentangan dengan agama, pun begitu Aa Gym sempat stress juga menghadapi masalah ini.


Inilah yang susah, ketika masyarakat sudah kehilanan kepercayaan bahkan kepada seorang dai sekalipun. Tentu kata-katanya tidak akan didengar lagi, berapa banyak orang yang telah disadarkan oleh Aa Gym, berapa banyak orang yang datang dari berbagai kota untuk mendengarkan ceramahnya setiap akhir pekan. Tapi lihatlah sekarang, berapa banyak orang yang kecewa dan sakit hati terutama kaum perempuan, pengajiannya walau tidak menurun drastis tapi jamaahnya sepi. Bukankah ini kerugian terbesarr dari sekedar menjalankan sunnah Rasul? Mengangkat derajat dan martabat satu orang dalamhal ini teh Rini selaku istri keduanya tapi menghancurkan perasaan banyak orang, berapa banyak orang yang mulai kehilangan simpati kepada Aa Gym? Padahal mereka semua adalah objek dakwah yang selama ini telah dibina dengan susah payah. Bahkan sampai ada ibu-ibu rumah tangga yang membuang kaset rohani Aa dijalan agar dilindas kendaraan.


Kecaman yang diterima oleh Aa Yahya memang berbeda seperti yang diterima oleh Aa Gym tapi pada dasarnya tetap sama, justru yang ini lebih parah lagi. Karena dia adalah seorang anggota dewan, wakil dari seluruh masyarakat Indonesia yang berkantor disenayan sana. Masyarakat kehilangan kepercayAan kepada para pemimpin, kehilangan figure, inilah yang membuat golkar kelimpungan dan cepat-cepat mengganti posisi Aa Yahya dengan orang lain. Jangan sampai apa yang dilakukan oleh Aa Yahya menjadi boomerang bagi partai berlambang pohon beringin itu.


Seyogyanya, baik Aa Gym maupun Aa Yahya, sebelum bertindak selaku pemimpin rakyat menyempatkan diri untuk berfikir sekali lagi sebelum bertindak. Bagaimana kondisi psikologis masyarakat, bagaimana dampaknya terhadap masyarakat, karena ketika seseorang sudah menjadi public figure ia bukan lagi sepenuhnya milik dirinya tetapi menjadi bagian darimasyarakat. Pun begitu, ini kembali ke diri masing-masing, ada hak-hak individu yang tidak bisa diganggu gugat oleh public.


Kalau Aa Gym sudah mempersiapkan rencananya sejak 5 tahun yang lalu, berarti ia telah siap dengan semua kritikan dan tudingan dari masyarakat. Tapi bagimana dengan Aa Yahya? Apakah ia sempat berfikir 7 detik sebelum adegan amoralnya itu dilakukan, apakah ia tidak berfikir bahwa perbuatannya akan tercium hingga ke pelosok negeri, harga dirinya tercabik dan karirnya bisa hancur. Wallahu’alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n