Langsung ke konten utama

catatan akhir tahun

setiap masa ada catatan sejarahnya sendiri, setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik...catatan itu berwarna-warni seperti pelangi. tetapi pelangi kehidupan sangatlah berbeda dengan pelangi yang muncul ketika hujan gerimis, pelangi kehidupan sangat kaya warna, ada putih, ada hitam, ada kelam ada cahaya, ada bahagia ada air mata, ada canda dan juga kegelisahan.


hari hari yang telah kulalui tak ubahnya seperti kain perca untuk menambal catatan sejarah hidupku yang terkoyak, namun hingga saatnya tiba tambalan tersebut bahkan tak pernah mendekati sempurna. banyak yang kutemui, banyak yang kudapatkan maka semakin kayalah aku namun banyak pula yang hilang dari diriku, banyak yang berkurang, miskin kah aku?


kaya dan miskin menurut catatanku bukanlah nominal rupiah yang juga berpelangi, bukan pula bangunan-bangunan kokoh namun dibaliknya terselip manusia licik yang culas tak bernurani. dan diluar sana rumah-rumah tak sempurna dengan dinding dari kardus berdiri menyainginya, padahal atapnya tak sempurna dan lantainya adalah tanah yang bau.

dua kertas putih tahun lalu kusiapkan ditempat khusus disalah satu ruang dihatiku. setiap hari kucatat melalui lisan, kaki, tangan, dan seluruh organ tubuhku. kadang sampai tercecer terbawa angin, mengejar aku memungutnya dan terkadang ada yang sudah belumur lumpur kehidupan, lalu kupercikkan kesana kemari kulipat lalu kumasukkan dalam kantung kecil dijiwaku. menjelang azan subuh akhir tahun dengan gemuruh didada kupandang catatan putih tersebut. nafasku nyaris tersekat diujung lorong urat leher ku.

hhhh...
perlukah aku uraikan dengan detil disini?
apa aku harus menuliskannya dengan begitu sempurna hingga lelah tangan ku? tak ada tinta yang cukup banyak untuk melukiskan kegilaan ku sebagai seorang hamba. tak cukup tempat untuk menguraikan hari ini detik ini, aku sedang melakukan apa Tuhan?

aku hampir tak punya muka,
ketika seluruh tubuh berebut meminta tangan mewakilkan suara hati mereka, catatan akhir tahun, mulut, hidung, telinga, kaki....semuanya,

tegakah menyiksa ku dengan semua catatan hitam ini wahai tangan ku?
tapi tanganku terus bergerak...
dengan bantuan remote control yang dikendalikan oleh hati dan akal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja