Langsung ke konten utama

Malam Jahanam*

"maka air dimana-mana, air, air, air, air, air, air, air dimana-mana, dimana-mana air, banjir, banjir, banjir, banjir air, air banjir dimana-mana, dimana-mana banjir air, air banjir dimana-mana, dimana-mana air, dimata-mata air, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata, air mata..."

teman saya mengirimkan air berulang-ulang, maka saya membacanya dengan berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, saya amati dan saya pahami berulang-ulang, terus berulang-ulang, berulang-ulang hingga akhirnya saya membalas " kau menawarkan ide yang berat kawan" setelah sebelumnya saya mengatakan "aku sedang mati ide! ada saran?"

entah kenapa setiap kali saya berada diluar 'wilayah kekuasaan' saya, saya sering sekali mentok dengan urusan ide ini. hmm...tapi tidak juga, tepatnya ketika saya berada dirumah teman yang satu ini. suasana kamarnya yang cukup terang membuat saya seperti tidak bisa menangkap aura-aura gaib untuk menelurkan ide saya. suara radionya yang selalu ramai membuat saya kesulitan konsentrasi, anehnya itu terjadi kalau saya berada dirumahnya, tapi kalau ditempat sendiri, sebising apapun sekejap saja pasti selesai sebuah catatan kecil, sambil ngobrol dan sarapan pagi kalau saya mau sebuah cerpen bisa juga selesai, mm...ada apa ditempat mu kawan? sampai-sampai saya harus meminta tim SAR untuk mengantarkan idenya kepada saya malam-malam?

dirumah, tepatnya dikamar, ide persis seperti tikus-tikus yang berkeliaran diatas loteng, kadang juga pada botol-botol air mineral yang berjejer didekat lemari, atau juga pada donat-donat yang ada tabur kacang atau keju diatasnya, mm...bisa juga pada lingerie atau g string yang tergeletak diatas kasur, dan memang ada tulisan saya yang idenya dari sana. betapa sebuah under wear pun begitu berharganya bagi saya untuk membantu proses mengandung anak-anak tulisan. kadang juga pada sebatang rokok dan segelas kopi, tapi kalau yang ini hanya sebagai pelengkap saja sesekali.

bushet!!! saya benar-benar mati ide malam ini, menulis catatan ini pun dengan bantuan aura-aura gaib yang jauh dari seberang sana. dengan nafas yang tertahan-tahan dan mata yang merem melek sambil sesekali berteriak gila! bushet! gilaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! hahaha....malam ini memang gila!!! badanku terkungkung tak seperti biasa, hatiku berteriak dan aku kesakitan. bushet dah....bener kata mu mas....malam ini memang gila....



*judulnya diganti setelah ngobrol dengan yang memberi air

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n