Langsung ke konten utama

Siapa Sih Aa Gym?

siapa sih Aa Gym? pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dibenak saya, kemarin ketika menjelang magrib saya pulang menuju rumah. sekali lagi, siapa sih Aa Gym sampe berita tentang poligaminya heboh dari timur sampai kebarat, semua media turut memberitakannya, saya ngga tahu kalau di televisi hebohnya seperti apa, karena sudah beberapa minggu ini memang sama sekali tida melihat kotak informasi itu. tapi yang pasti pemberitaannya lebih fantastis lagi dari yang dari koran-koran kelas butut sampai kelas ekslusif.

saya pertama kali melihat Aa Gym di tv akhir tahun 2002 lalu, ketika ia sedang memberikan kultum menjelang berbuka puasa. yang menarik perhatian adalah namanya yang unik, gaya bertuturnya juga mengasyikkan, senyum mengembang dari bibirnya, dan yang pasti ia gampang sekali diingat karena ciri khasnya memakai sorban.

saya tidak tahu banyak tentang Aa Gym kecuali ia sebagai seorang dai kondang, pemimpin sebuah pondok pesantren terkenal di geger kalong sana, Darut Tauhid. sayapun tidak pernah membaca biografinya melainkan sangat sedikit, yang saya tahu ia punya seorang istri yang cantik dan sholehah yang bernama teh Ninih, punya anak tujuh orang dan tinggal di geger kalong juga.

saya sering melihat Aa tampil bersama Teteh setiap kali ada ceramah ataupun acara-acara lainnya, tampil mesra, akur dan kompak. sesekali ia mencandai istrinya dan meliriknya, teh Ninih pun tersipu. sebuah romantisme yang patut ditiru.

tapi, saya tidak tahu siapa sebenarnya Aa Gym itu lebih jauh selain seperti yang sudah saya tulis diatas. saya jarang mendengar ceramahnya, saya sedikit sekali membaca buku-bukunya, saya juga tidak pernah membeli produk-produk yang dikeluarkan oleh MQ, apalagi ke Darut Tauhid sana...saya tidak pernah sama sekalipun. dan memang tidak ada yang bisa saya tuliskan lebih detil tentang beliau.

namun, melihat beritanya ada dimana-mana, dalam milis, dalam surat kabar, dalam media-media, ia menjadi perbincangan dimana-mana, ada yang megnhujat, mencaci, mencerca,ada pula yang biasa-biasa saja, ada yang tidak peduli. saya menjadi tergelitik, iseng ingin menulis sedikit apa yang saya tahu, lebih tepatnya sok tahu.

kenapa ketika seorang Aa Gym melakukan poligami semua orang ribut? tidak menerima, menolak, protes dan mengecam beliau. seolah-olah beliau telah melakukan kesalahan besar yang tidak hanya memalukan dirinya sendiri tapi juga kelurga, bangsa dan negara, mungkin juga agama, sampai-sampai ada yang mengatakan inilah awal kehancuran seorang Abdullah Gymnastiar.

saya menulis ini bukan karena saya mendukung Aa, bukan pula membelanya, tapi bukan juga untuk menyalahkan beliau, saya cuma heran, ketika seorang anggota DPR Yahya Zaini jelas-jelas melakukan perbuatan amoral dengan Maria Eva sepertinya tanggapan masyarakat biasa-biasa saja, tidak ada protes, tidak ada kecaman, tidak ada sms sinis melainkan dari segelintir saja, padahal yang dilakukan oleh Yahya Zaini jelas-jelas mencemarkan nama Indonesia, dan juga agama karena perbuatannya yang tercela.

Aa tidaklah berbuat mesum, dia justru menikahi Teh Rini untuk menjaga dirinya dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan. dia ingin mengikuti sunnah rasul, agama tidak mencela perbuatannya tetapi orang-orang justru menganggapnya seperti seorang penjahat.

ah, apa karena Aa seorang agamawan seharusnya ia lebih tahu bagaimana menyenangkan hati istrinya dengan tidak menduakan cintanya? apa karena selama ini ia selalu memberikan ceramah kepada bapak-bapak bagaimana menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab, sementara ia memilih untuk memadu istrinya? yang katanya tiada duanya, yang sangat dia cintai, yang sangat dia kasihi. apa karena semua itu dia harus menerima hukuman dari da'wi-da'wi yang selama ini ia dakwahi???

begitulah menjadi orang terkenal dan menjadi orang besar, apalagi ia panutan bangsa, tentu tidaklah berlebihan kalau dikatakan seperti itu. siapa sih yang tidak kenal Aa Gym. seharusnya jauh sebelum itu terjadi Aa menyempatkan diri untuk berfikir, menyakiti hati teh Ninih berarti menyakiti seluruh kaum perempuan dinegara ini, menyakiti keluarganya berarti menyakiti semua hati objek dakwahnya yang terlanjur mengelu-elukannya, terlanjur menganggapnya holy man seperti yang dinobatkan oleh salah satu majalah ternama. ah, siapa sih Aa Gym itu?

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n