Langsung ke konten utama

Kursi Goyang Madam Maria

Perempuan tua yang telah menghabiskan separuh umurnya di kursi goyang, seolah hidupnya hanya untuk kursi goyang itu. Tidak untuk yang lain. Kursi goyang yang ditempah pada pengrajin terkenal di kota Nijmegen ini. Ditaburi ukiran klasik yang mengagumkan, warnanya hitam manggis yang selalu dicat ulang kalau warnanya sudah kusam.

Disanalah Madam Maria menghabiskan hari-harinya, tidur, membaca buku, menulis, makan, semuanya. Ia seperti tak punya tempat lain dirumah ini. Padahal rumahnya sangat luas untuk kami tempati bertiga.

Awalnya tokoh seperti itu hanya ada didalam cerita novel yang ditulis oleh Madam Maria, tapi siapa sangka kalau kemudian dia tejebak pada ketakutan-ketakutan seperti yang pernah ia ciptakan dalam tulisannya. Ia menjadi takut keluar rumah, takut menikah apalagi punya anak. Hidupnya sendiri, saudaranya entah dimana. Teman-temannya pun tak pernah ada yang ku kenal setelah hampir dua puluh lima tahun aku hidup dengannya. Perempuan tua yang malang. Kasihan sekali dia.

Dari hari kehari dia hanya hidup dengan ku dan Dolores, pembantu rumah tangga yang menggantikan ibu Paquita sejak sepuluh tahun yang lalu. Madam Maria benar-benar menjauhkan dirinya dari public. Padahal dia dulu adalah orang terkenal, buku-buku yang ditulisnya selalu best seller, ia menjadi penulis kenamaan di Belanda ini. Entah seberapa banyak penghargaan yang ia terima. dan entah seberapa sering pula ia menjadi pembicara pada training-training kepenulisan, literature nya dengan mudah bisa dijumpai dimana saja. Hampir setiap hari di surat kabar-surat kabar ternama terpampang karya-karya Madam Maria. Tapi sekarang, dia bahkan tidak pernah menulis lagi sejak dua puluh tahun yang lalu. Orang-orang kehilangan dia begitu saja. Ah, mungkin orang-orang mengira Madam sudah tidak ada lagi.

“Selamat pagi Madam.”
“Pagi Jacquiline…como andas.”
“Todo bien.” Aku memeluk Madam dari belakang.
Ah, aku senang sekali kalau Madam mau beramah tamah seperti ini. Soalnya dia jarang sekali berbicara, kesehariannya hanya dihabiskan untuk berdiam diri, mengkases internet, membaca buku atau tidur. Kami jarang sekali bercengkerama, makanya kalau dia sudah mau menjawab sapaan ku seperti itu, itu artinya pertanda baik bagiku.
“Madam sudah makan? Sebentar aku ambilkan roti ya?” Aku bangkit tapi tangan tuanya berusaha mencegahku. “Ada apa Madam?”
“Ambil kan bir saja, aku belum lapar.”
Ah…Madam, hoby minum bir nya tidak hilang-hilang juga, itulah sahabat-sahabatnya sejak ia mengasingkan diri puluhan tahun yang lalu. Ia selalu beralasan kalau minum bir hanya untuk menghangatkan badannya saja. Padahal untuk alasan apapun bir sangatlah tidak baik bagi kesehatannya.
“Madam, pagi-pagi kok minum bir. Sarapan dulu, aku buatkan kopi dan roti ya.”
“Jacquiline…diluar dingin sekali sayang, aku perlu menghangatkan badan ku. Kalau tidak aku bisa mati kedinginan anak manis.” Madam tersenyum mencoba merayuku. Memang memasuki musim dingin seperti ini suhu udara bisa sangat dingin, Dengan berat hati aku memberikan sebotol bir kepada Madam. Juga sepotong roti selai.
“Aku ingin jalan-jalan sayang…apa kau punya kesibukan hari ini?”
“Untuk mu aku selalu ada waktu.” Aku ingin menjerit mendengarnya karena senang. Sudah dua tahun terkahir ini Madam sama sekali tidak pernah keluar rumah, paling Cuma duduk di teras belakang. Makanya cepat-cepat ku iyakan saat ia mengatakan ingin jalan-jalan. Aku memeluknya. Senang sekali mendengar ia minta jalan-jalan.
“Kita pergi agak siangan ya Madam, kalau terlalu pagi udaranya sangat dingin. Aku khawatir Madam nanti bisa sakit. Tapi…apa aku boleh mengajak Joseph Madam?” Tanya ku hati-hati. Joseph adalah pacar ku, dia kenal baik dengan Madam karena sering kuajak kemari.
“Ajak saja dia, aku menyukainya. Oh ya..kapan kalian akan menikah? Jangan seperti aku…hehehe…”

Ah…Madam, aku selalu merasa teriris setiap kali mendengarnya bicara seperti itu. Nampak sekali kalau ia merasa kesepian dihari tuanya. Sepertinya ia juga takut kalau kelak setelah aku menikah dengan Joseph aku akan meninggalkannya. Ia tentu akan lebih kesepian lagi.

***

“Kita ke Amsterdam saja, aku ingin memberi makan merpati-merpati di Dam Plain.” Madam seperti memberi komando pada Joseph, Joseph mengangguk lalu tersenyum. Aku ikut tersenyum dibelakang mereka. Dam Plain terletak dipusat kota Amsterdam, kira-kira 122 kilo meter dari Nijmegen, lebih kurang kami akan menempuh waktu satu jam perjalanan kesana. Burung-burung dara memang bebas berkeliaran disana. Tempat itu sangat terkenal dan sering dikunjungi turis dari manca Negara.

“Madam sepertinya sangat bahagia hari ini. Bayangkan, sudah dua tahun dia tidak keluar rumah. Ia pasti sangat sepi sekali makanya pagi-pagi tadi dia sudah minta jalan-jalan. Aku senang sekali mendengarnya. Kau tahu Joseph, aku hampir saja berteriak karena senang sekaligus tidak percaya…” Aku menabur pakan kearah burung-burung itu. Mereka memungutinya bergerombol lalu terbang ke tempat lain setelah makanannya habis.
“Aku turut senang Jacquiline.” Joseph memperhatikan Madam yang tidak jauh dari kami. “kenapa Madam bisa sampai mengasingkan dirinya seperti itu? Aku sungguh tidak mengerti.” Joseph tampak serius.
“Kau pernah baca novel terbelenggu karya J.M Megan?” aku balik bertanya. Joseph menggangguk.
“Aku sangat menyukai novel itu, ceritanya sangat menarik tapi juga menakutkan. Aku kasihan sekali dengan wanita tua yang ada dalam cerita itu, hidupnya menderita, tersiksa, dia juga hidup dengan kursi goyangnya seperti Madam bukan? Bedanya Madam punya aku, kau dan ibu Dolores, sedang perempuan tua itu hanya sendiri bahkan sampai mati pun tak ada yang mengetahui.” Joseph merasa seperti ada yang aneh.
“Itulah Joseph, Megan adalah Madam Maria.”
“Apa! Maksudmu apa Jacquiline?”
“Kau pasti sudah sering membaca tulisan tentang kehilangan Megan yang tiba-tiba bukan? Megan yang tak pernah menulis lagi, tapi buku-bukunya masih dicetak sampai sekarang, diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. semua orang kehilangannya. Tapi tahu kah kau bahwa Megan masih hidup dan dia adalah Madam Maria. Perempuan yang sedang memberi makan burung-burung itu.”
“Kau bercanda Jacquiline.”
“Nama lengkapnya Jane Maria Megan, ayahnya kelahiran spanyol kemudian menetap di Belanda, lalu ia bertemu dengan ibunya Madam lalu lahirlah J.N Megan. Karena itu aku sedikit-sedikit bisa bahasa spanyol, Madam mengajari ku. Aku yakin kau pasti tak menduga ini. Sama seperti aku ketika awal-awal Madam memberi tahu ku.”
“Kapan Madam memberi tahu mu?”
“Lima tahun yang lalu, ketika aku lulus SMU, ketika itu pula aku tahu bahwa aku bukan anaknya.”
“Maksud mu, hari ini kau membuatku sakit jantung Jacquiline.” Joseph tertawa tapi ia kelihatan serius.
“Aku ditemukan Madam Maria di jembatan Waal didekat pelabuhan Waalkade, aku terpisah dengan orang tuaku ketika mereka menonton Vierdagse Lopen pada tahun itu. Beruntung Madam menemukanku lalu mengadopsi ku menjadi anaknya. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa orang tuaku.”
“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?”
“Kamu kan tahu ribuan bahkan puluhan ribu orang akan datang untuk mengikuti Vierdagse Lopen setiap tahunnya. Aku pikir wajar-wajar saja kalau aku terpisah dengan orang tua ku.” Aku tertawa. Lalu meninggalkan Joseph yang bengong.
“Madam, setelah dari sini kita kemana lagi?”
“Nanti waktu pulang aku ingin mampir ke sungai waal.”
Sungai Waal adalah sungai yang eksotis menurut ku, apalagi kalau malam hari. Sangat indah. Aku sering kesana dengan Joseph dan menghabiskan hingga separuh malam kalau malam minggu.
“Yo tengo una pan, comemos Madam.”
“Grachias…kamu memang sangat perhatian pada ku Jacquiline.” Madam mengacak rambutku. Aku tersenyum. “Joseph mana?” ia mengedarkan pandangannya.
“Disana…”
“Dia pasti lelah karena lama menyetir untuk kita Jacquiline…”
“Geen kwestie van Madam. Joseph melakukannya dengan senang hati kok. Katanya tidak lama lagi dia akan melamarku Madam.”
“Oh ya? Selamat kalau begitu. Madam senang. Ah…”
“Kenapa Madam?”
“Tidak, aku Cuma berfikir, hari-hari ku pasti akan lebih menyenangkan kalau aku punya suami dan anak-anak. Tapi…akupun tidak tahu bagaimana tiba-tiba aku bisa terjebak dengan cerita fiktif yang aku ciptakan sendiri. Aku takut seperti Paloma, punya suami tapi kejam sehingga ia hampir setiap hari bertengkar dan disiksa, ditendang, kadang juga dipukul dengan kayu, sialnya lagi ia punya anak yang seperti binatang yang tega membakar ibunya sendiri. Sejak saat itu Paloma menjadi perempuan yan minder karena wajahnya ikut terbakar dan dia tidak punya uang untuk operasi. Hidupnya dihabiskan seorang diri di gubuknya diatas kursi goyang sampai dia mati. Seperti aku sekarang bukan…aku takut menikah karena ku pikir laki-laki semua kejam, takut punya anak karena nanti dia akan memperlakukanku dengan buruk.”
“Tapi sekarang…setelah aku membesarkan kamu, setelah aku mengenal Joseph, ternyata hidup tidak seburuk yang aku perkirakan Jacquiline…”
“Madam…sudahlah, jangan ingat lagi masa lalu. Aku senang bisa menjadi anak mu…percayalah, aku janji akan selalu membuatmu tersenyum.”

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang menyenangkan bagi ku. Apalagi kalau bukan kerena Madam sudah meninggalkan kebiasaan dikursi goyangnya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, kadang kami ke Keukenhof garden melihat bunga-bunga tulip yang indah, dilain waktu kami bersepeda hingga ke perbatasan Jerman, pergi pagi pulang sore. Meski sudah berumur enam puluh tahun, Madam masihkuat mendayung sepeda. Dia memang perempuan hebat.


Foot note
como andasspanyol=apa kabar
todo bien/spanyol=kabar baik
Yo tengo una pan, comemos/spanyol=aku punya roti, makanlah
Grachias/spanyol=terimakasih
Geen kwestie van/belanda=jangan dipikirkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n