Langsung ke konten utama

Catatan kecil Untuk Nanda

"siapa nanda Han?"
"kemana nandanya, siapa yang culik?"
"udah ketembu belum nandanya?"
sebenarnya catatan kecil ini sudah bunda tulis sekali, tapi ketika akan bunda publish
servernya error terpaksa kembali bunda mengeja huruf, mengail lagi tulisan yang tadi sempat hanyut terbawa arus koneksi internet. kendali memang bukan ditangan bunda.
terpaksa deh bunda putar haluan, karena cerita yang tadi sudah out of date untuk bunda tampilkan disini, enak sekali ya menjadi nanda....hilang lalu tiba-tiba muncul dan bilang "bunda kemana tadi?" apa ngga salah tuh nda...? bukannya tadi nanda yang tiba-tiba hilang tanpa pesan, tanpa sepotong roti diatas meja bunda seperti biasanya? tanpa lonceng yang berdering hingga membuat bunda mu reflek menarik sesuatu.
bunda sempat kehilangan tadi, bunda fikir nanda pergi ke Rumah Tuhan untuk mengambil air di keran untuk bunda, atau mencari telur setengah matang untuk menu makan siang ini. atau pergi keruang sebelah untuk ngeprint ini- ngeprint itu, maklum, nanda bunda kan laki-laki super busy ya nda ya....??? sibuker ulung yang sebentar sebentar hilang, bahkan kadang tanpa pamit. lalu tiba-tiba.."bunda, nanda sholat dll."
oh...tahulah bunda sekarang....nanda sedang menghadap Tuhannya...
tapi kok..sepuluh menit, 30 menit...satu jam berlalu belum selesai juga...ah, dia sengaja kali buat bundanya menunggu kelamaan. pulang-pulang dengan gaya tak berdosanya dia bilang "setelah pulang dari Rumah Tuhan tadi nda kemari, kesana, kesitu bunda...." anak baik memang...terus buat laporan khusus untuk bunda ya???
nanda manusia kan bunda? tanya mu kemarin siang. tidak mungkin bunda jawab nanda adalah burung kakak tua yang sedang bacinto yang ada diteras depan rumah bunda kan? makanya wajar kalau nanda bisa merasakan hal-hal gaib dari yang tersirat sekalipun.
mungkin itu pula yang membuatmu berani bilang bunda tidak adil sekarang ya? berani bilang rindu kepada bundanya. mm...seperti apa adil menurut mu nda sayang???
seperti telur setengah matang yang bunda belahkah? lalu kuningnya meleleh dan yang meleleh itu bunda berikan bukan untuk nanda? atau seperti paruh burung yang tidak cukup bengkok? sehingga ia hanya bisa mematuk dengan dangkal?
nanda ku sayang...beberapa hari ini bunda perhatikan dia kadang suka ge er juga...apalagi bundanya yang baik hati ini suka membuat status tentangnya didepan pintu bunda. bunda suka orang-orang ge er kok...kadang bunda juga suka begitu kok...wajar itu sayang...ngga usah malu sama bunda...kita sama-sama manusia, bukan super man atau robot.
salam rindu
bunda ihan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n