Langsung ke konten utama

Andai Aku Orang Terkenal

pagi-pagi saya sudah menyusuri jalan dengan ransel besar menggantung dileher, isinya sangatlah lengkap, mulai dari air mineral, beberapa celana dalam, perlengkapan mandi, beberapa buku, perlengkapan sholat sampai sebuah tupper ware yang berisi beberapa potong kue yang kubeli dipasar swalayan tadi. saya bukan mau melakukan travelling atau camping, tapi memang begitulah keseharian saya, selalu membawa barang-barang kebutuhan yang saya anggap penting kemana saja.

orang-orang tak ada yang peduli dengan saya, termasuk ketika saya mampir di kios untuk membeli sebuah surat kabar lokal. semuanya biasa saja, sayapun merasa enjoy dan nyaman menikmati pagi itu. sedikit tergesa saya menyeberang jalan, hampir saja keserempet mobil karena saya agak lengah, lagi-lagi tak ada yang peduli selain jalanan pagi itu memang masih sepi, maklum hari libur.

namun bukan itu yang ingin saya ceritakan, justru sebaliknya, andai saja saya orang terkenal, tentu bukanlah seperti itu saya menikmati pagi, tentu tak senyaman itu pula saya berlalu lalang setiap hari, menenteng ransel, kadang dengan koran ditangan, atau juga sambil memencet-mencet hape dan yang pasti saya akan selalu was-was dan tak nyaman. takut-takut kalau ada orang iseng buntutin saya dan tahulah mereka kalau saya menemui seseorang disuatu tempat. atau para wartawan infotaiment yang suka menyebarkan gosip. tahulah mereka malam minggu ini saya jalan dengan siapa, dan malam seninnya dengan siapa, tahulah mereka hari minggu ini saya ber akhir pekan dimana dan menginap dengan siapa. tahulah mereka saya seorang jomblowan yang mengaku tak punya pacar tapi terlihat sering berjalan mesra dengan banyak orang. tahulah semua orang tentang aib dan hal-hal pribadi lainnya yang tentunya sangat membuat saya tidak senang dan tak nyaman.

malam itu, ketika saya dan teman-teman ngumpul disebuah cafe -sekedar untuk honey moon kedua- kami bebas tertawa dan terkekeh-kekeh, bahkan sesekali saling mencomot makanan, saling menggoda, ada yang menaikkan kaki ke kursi, ada yang menghitung berapa jumlah kucing yang lewat, ada pula yang mengamati para pengunjung, aku sendiri...sibuk bertelfon mesra dengan teman-temanku, salah satunya ada yang mengatakan sedang mandi diterangi cahaya bulan...hmm...Tak ada yang protes, tak ada yang bertanya, kok sudah ngumpul sama si ini, si anu kemana? atau kok nelfon si ini, padahal pulsanya di tanggung oleh si itu. saya aman, tidak ada yang memperhatikan, acara dinner bareng temen pun berjalan dengn lancar, santai dan kenyang. pasti akan berbeda kalau saya orang terkenal, cara makan saya pasti akan jadi pusat perhatian orang, saya pasti tidak boleh tertawa asal-asalan, apalagi tak berhenti-henti menelfon, bisa-bisa dianggap saya punya banyak selingkuhan dimana-mana. danmenu makanan saya pun bisa jadi heboh. al hasil makan malam saya sudah pasti terganggu, acara ngumpul denganteman bisa jadi berubah konferensi pers, pasti malam itu menjadi tak indah. saya bisa jadi stress dan uring-uringan, bisa-bisa malas makan dan sakit. siapa yang salah?

andai lagi saya orang terkenal, tentu saya tidak bisa sholat dengan khusyuk di mesjid yang ramai dikunjungi orang, karena sudah pasti akan disibukkan dengan orang-orang yang minta tanda tangan saya, tak sempat berzikir, berdoa apalagi memohon kepada Tuhan, agar Neno bisa bertemu None, agar Byant bisa segera mendapatkan gadis dari daerah yang dia sangat cintai, agar Nanda ku bisa hilang nyut-nyut di dadanya, agar Zal...ah....agar matahari bisa bertemu bulan, tapi itu tak mungkin, karenanya aku tak berdoa seperti itu. ah...bukannya dapat pahala barabgkali saya cuma dapatkan dosa karena sudah membuat rumah Tuhan Gaduh.

beruntunglah saya bukan orang terkenal, bukan orang top, bukan orang hebat versi orang-orang sekarang, bahwa top adalah dikenal banyak orang, bahwa populer adalah muncul di teve-teve, bahwa terkenal adalah sering muncul di koran-koran dengan berbagai berita gosip yang ngga mengenakkan. saya senang menjadi orang tak terkenal, bisa menyusuri jalan sambil menenteng ransel yang didalamnya ada apa saja, yang bisa menenteng koran dan sambil mencet-mencet hape, saya senang menjadi orang yang biasa-biasa saja karenanya saya bebas berakhir pekan dimana dan menginap dengan siapa, makan dimana dan dengan menu apa, sholat di masjid apa dan mendoakan siapa...saya bebas melakukan semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n