Langsung ke konten utama

Sleepy...

nyapu2, angguk2, geleng2, tunduk2....

bacalah bait diatas dengan irama lagu yang dipopulerkan oleh ahli fikir dari negeri jiran, kata-kata tersebut di post oleh seseorang yang punya nick name Muiz di aceh forum, saya menjadi tergelitik membacanya dan tulisan ini pun jadilah....

ngantuk2... yang tidak bisa hanyalah tidur...
begitulah tambah saya menyahuti bait diatas, mata saya memang sangat mengantuk, sudah beberapa kali menguap tapi tidak bisa segera tidur karena ada beberapa tulisan yang belum selesai di edit (ecek-eceknya mbak editor yang sedang deadline nih)

mungkin karena semalam saya tidur larut, atau mungkin juga karena sudah beberapa hari ini saya kurang istirahat, tidur larut malam terus, kadang menjelang pagi baru tidur. pagi-pagi dah bangun, itupun harus kebangun jam tiga malam karena ada tikus-tikus yang usil dengan suara keletok-keletoknya.

iseng sambil nulis ini saya ajak mas google keliling-keliling untuk cari tahu apa sih yang menyebabkan ngantuk. eh...hasilnya ngga jauh beda dari apa yang saya utarakan diatas, karena kekurangan oksigen dalam darah. karena itu usahakan agar tubuh selalu fresh dan cukup istirahat, biar ngga letoy dan loyo begitu. hmm...wajar dong kalau saya ngantuk siang ini? tidur siang memang udah jadi barang langka sekarang ini, tidur malam pun banyak yang recoki...gimana bisa istirahat cukup???

kurang tidur dan kurang istirahat memang tidak mengenakkan, badan jadi tidak segar, pikiran kacau, mata redup, pokoknya ngga enaklah...
so kalau udah gitu apa yang harus dilakukan? yah...upayakan agar tubuh kembali segar dan bugar. caranya?
mandi dong, kalau badan terlalu lelah, apalagi kalau mandinya agak sorean usahakan mandi air panas dan bubuhi sedikit garam dapur.
pakailah pakaian yang longgar supaya peredaran darah berjalan dengan lancar, ini untuk melancarkan kadar oksigen dalam darah juga, kira-kira begitulah analisa yang saya dapat dari hasil wet-wet sama mas google barusan.
trus usahakan minum air putih yang banyak, makan buah dan sayuran, makan teratur....saya sendiri kalau udah makan donat sepotong udah cukup...ngga perlu yang lainnya, tapi jangan ikuti cara saya..ikuti kata mas google saja....

thx 2 muiz

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n