Langsung ke konten utama

if u were my baby

......... ting ting ting ting.......
......... tung tung tung...........

Denting piano itu melantun menyeruak melalui jendela yang terbuka menembus udara sore menapaki kembang-kembang di taman yang sedang mekar. Suatu paduan yang indah, udara yang tenang, cahaya matahari yang lembut, bunga yang bermekaran dan denting piano dengan lagu dari Rick Price yang menawan. Farid seolah hanyut dalam irama yang amat merdu itu. Kadang matanya terpejam, kadang menatap jauh menembus kaca jendela hingga mentok dikaki gunung Seulawah.

Azla berdiri agak jauh dibelakangnya diam mendengarkan. Beberapa saat kamudian ia mendekat. Bersandar pada piano dan menyunggingkan senyum. “Bagus! Merdu sekali” Katanya.

Farid terus memainkan. “Bayar dong, ngamen yang jelek aja dikasih duit?”
Azla mendekat, lalu mendaratkan ciuman di pipi kekasihnya. “Maaf lagi gak punya uang kecil, ganti pakai ciuman aja yah.” Setelah memberikan usapan lembut di belakang kepala Farid, ia kembali berdiri menatap lembut. Lagu itu terus mengalun..

i'd be walking ten feet fall
with your love girl why should i worry at all
if you were my baby

Azla tahu dalam beberapa hari ini mata yang lembut itu seperti menyimpan sesuatu. Dia bisa meraba apa sesungguhnya yang sedang bergelora disana. Dan dia juga tahu bahwa hasrat yang terbaca lewat mata itu hampir tidak mungkin terucapkan dari bibir Farid, kekasihnya itu.

Mata Farid turun beberapa jarak hingga ke satu titik ditubuh istrinya.Hanya beberapa saat sebelum menatap jauh ke luar lagi.

“Kakak lihat apa?”
“Apa?”
“Matamu tadi menatap kemana?”
“Aah.” Farid hanya menunduk

Azla menatap lagi, ia merasakan betapa ia sangat mencintai laki-laki ini. Mencintai setiap bagian dari dirinya, setiap inchi demi inchi, bahkan setiap pori-porinya. Ia melangkah mendekat, memeluk Farid dari belakang. Memeluk dengan penuh kasih..

Farid masih memainkan lagu itu.

we go walking late at night
count the stars up in the sky just you and me
if you were my baby

Faridpun sudah mulai gemetaran. Tubuhnya mulai tidak stabil. Ada yang bergeletea menyusup ke urat-urat syarafnya.

Azla berhenti lalu melepaskan pelukannya, kemudian menyusupkan badannya diantara dua tangan Farid yang sedang menari-nari diatas tuts. Menatap matanya sebentar lalu mendekatkan bibirnya. “Cup!” Ciuman yang ringkas. Lalu ditariknya kembali. Ia menatap kembali. Mata Farid makin menyala. Tangannya masih memainkan lagu tetapi birama dan temponya sudah tidak begitu pas. “Kakak sudah lelah?”

“Aah...” Farid hanya mendesah
Azlapun tahu tak kan ada kata yang keluar. Ia hanya mendekatkan lagi wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat, hingga mata yang tetap beradu pandang itu tertutup
“Kak, jawablah, ambillah diriku, bila kakak menginginkannya.”

i'd never be lonely
if were my only love
if you were my baby
i'd take my last breath
before i would let you go


Lagu itu terhenti hanya sampai disitu, karena Azla telah meraih tangan Farid yang berbulu halus yang sedang memainkan lagu itu. Farid terdiam dengan nafas yang semakin memburu. Azla tahu tak ada gunanya menunggu. Ia tahu kasihnya ingin merasakan gelora cintanya sama seperti dirinya sendiri. Dialah yang harus membawanya terbang. Dia melepaskan tangan yang digenggamnya.

“Azla!”
“Aah...”
“Kak.” Azla memandang lekat-lekat mata Farid, ada cinta yang menggelegak disana. Seperti tumpukan air berjuta-juta kubik yang akan turun ke bumi. Menenggelamkan mereka dalam rasa yang tak terperikan.

“Azla..”
“Kak!”
Kedua cinta itu telah bertemu.
“Azla, kakak sayang kamu...”
“Iya, aku sudah tahu.”
“Ooh...”

Bulir keringat itu melanjutkan lagu, ......

we go walking late at night
count the stars up in the sky just you and me
if you were my baby
***

@neno; maaf aku tidak konfirmasi ke kamu akan menampilkannya disini, but ini udah melalui proses editing kok sayang...

Komentar

  1. mas, bisa minta tolong krm lagu if u were my baby gak ke email saya: yudi_gera@yahoo.com
    thx alot

    BalasHapus
  2. mas, bisa minta tolong krm lagu if u were my baby gak ke email saya: yudi_gera@yahoo.com
    thx alot

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n