Some Day With Matauroe

Matahari menyala merah, langit menyalak terang, angin betiup sedikit agak kencang, lumayan untuk menetralisir gerah yang tiba-tiba menyulut ketika kaki melangkah keluar. Di bulan Desember seperti ini harusnya curah hujan jauh lebih banyak ketimbang curah panas yang memanggang bumi. Tapi siapa yang bisa memprediksikan kekuasaan Tuhan? Apalagi aku, karenanya aku harus bisa bersyukur msih bisa merasakan hangat dan panasnya matahari.

Kaki ku terus melangkah, saling berlomba antara yang kiri dan kanan. Ingin saling mendahului. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling mesjid. Tampak para pekerja sedang merapikan bunga-bunga Asoka, mereka tengah menyiangi rumput-rumput liar dan menggemburkan tanah disekelilingnya. Kelihatannya mereka mengerjakan dengan sangat serius dan sepenuh hati walaupun sudah siang begini, biarpun matahari menyengat, biarpun mereka lelah dan juga kehausan. Binar keikhlasan jelas terpancar diwajah mereka. Senyumnya mengembang ketika kami bertemu pandang. Aku berfikir, seperti inilah cara mereka memuliakan rumah Allah yang satu ini, walaupun tidak bisa berinfak dengan uang tapi tenaga mereka untuk menjaga kebersihan mesjid adalah amal yang tidak terhinggak. Karenanya orang menjadi nyaman dan betah beribadah lama-lama dimesjid yang telah berumur ratusan tahun ini.

Angin bertiup makin kencang, meliuk-liukkan ujung jilbabku yang menjuntai, membuatku harus menyandangkan ranselku kedua lenganku. Angin semakin usil dan liar saja, rokku berkibar-kibar membuatku kesulitan berjalan. Aku melihat ke teras mesjid, orang-orang bercengkerama dengan teman atau saudaranya sambil tidur-tiduran. Siang-siang begini tiduran diteras mesjid memang menyenangkan, anginnya sejuk walaupun matahari menyalak panas. Beberapa diantaranya melihat kebagian paling bawah tubuh ku. Apalagi kalau bukan kaki. Mereka pasti melihat bulu kaki ku yang lebat dan panjang, seperti bulu kaki laki-laki. Aku tak peduli. Toh mereka Cuma melihat dan tidak bilang apa-apa, tapi ada yang tersenyum dan menggumam kecil kepada temannya. Entah apa yang dia katakana aku tidak tahu. Aku tidak ambil pusing. Setidaknya aku tidak perlu minder seperti teman-teman perempuanku yang lain, padahal bulu kaki mereka tidaklah telalu lebat seprti bulu kaki ku. Dibenak mereka barangkali sudah terpola bahwa menjadi perempuan haruslah feminim, lembut sampai bulu kakipun tidak boleh panjang dan kasar. Aku tersenyum mengenang itu semua.

Aku meringis, paha sebelah kiriku agak sakit dan semakin sakit kalau digerakkan. Ini pasti karena semalam aku tidur diatas tumpukan bantal, tubuhku jadi tidak seimbang dah jadinya beginilah. Ku keluarkan hp dari kantong saku ku, baru pukul dua belas. Aku harus menunggu dua jam lagi untuk bisa bertemu Pidoes. Kami berjanji untuk makan siang bersama tapi mungkin sekitar jam dua lewat, karena Pidoes harus kerja dulu.

Aku pun naik ke teras mesjid dan duduk sambil menyandar ke tembok. Ku keluarkan sebuah majalah usang dan membuka-buka halamannya. Sejenak aku memijit-mijit kening karena pusing. Kulemparkan pandangan ke halaman mesjid, rumput-rumput dan bunga asokanya tampak terawat dengan indah. Hanya saja kolam ikannya tidak lagi se cantik dulu. Sekarang ikan-ikannya sudah berkurang. Tapi pengunjung mesjid ini selalu ramai, tidak di pagi hari, siang maupun malam. Ada yang cuma duduk-duduk ingin santai, ada yang untuk sholat ada juga yang untuk pacaran. Beragam tujuannya, mungkin karena di Banda Aceh ini tidak ada tempat lainnya yang bisa dikunjungi selain pantai dan mesjid ini tentunya. Tidak seperti kota-kota besar lainnya yang banyak plaza-plaza besar dan mall yang tidak pernah sepi pengunjung. Aku menerka-nerka, karena itulah mesjid ini tak pernah ramai pengunjung.

Aku kembali menekuri majalah usang tadi, mataku sudah cukup terang untuk kembali membaca. Tapi tidak lama kemudian aku terusik dengan kehadiran seseorang yang duduk tidak jauh disampingku. Aromanya sedikit mengusik indra penciumanku, tapi aku tidak berniat beranjak dari tempat duduk ku semula. Itu pasti akan membuatnya tersinggung. Penampilannya agak kumal, bajunya tampak tidak bersih bahkan ada beberapa tambalan di lengannya. Rok nya juga tampak dekil dan berdebu, begitu juga dengan kakinya. Spertinya jarang tersentuh air. Wajahnya tampak kusam dan terbakar matahari. Ada duka yang bergelantungan diwajahnya yang tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Kutaksir usianya kira-kira tiga puluhan lebih. Rambutnya terlihat acak-acakan dan berantakan dibalik kerudungnya yang seadanya. Ditangannya sebuah timba kecil berwarna biru ia letakkan didepannya. Tapi sayang, hidupnya tidak sebiru timba kecil itu.

Aku melemparkan senyum seramah mungkin kepadanya. Ia tampak bersahabat, stidaknya ia berani merangsek lebih dekat kearahku. Aku mengeluarkan biskuit dan menawarinya. Ia tampak tak canggung menerima tawaranku. Aku suka melihatnya. Tidak pura-pura menolak padahal sebenarnya ingin.

“Tapi saya tidak punya air minum.” Ujarku
“Nggak apa-apa…saya bawa sendiri.” Ia mengeluarkan sebotol minuman yang tinggal seperempatnya saja, meneguknya lalu meletakkan didekat timba kecilnya.
“Nama saya Cemara, nama kakak siapa?”
“Matauroe.” Perempuan itu tersenyum getir. Senyum yang menyiratkan kepedihan dan beban hidup yang berat.
Setidaknya ia ingin menyampaikan bahwa hidupnya tidaklah secerah namanya. Harusnya sebagai matahari dialah yang memberi kehidupan kepada orang lain, bukan malah menjadi pengemis seperti ini. Begitulah pesan tidak tertulis dari isyarat matanya.
“Nama yang indah dan cantik.” Puji ku tulus. Lagi-lagi perempuan itu Cuma tersenyum. “Kakak tinggal dimana?” Tanyaku lagi.
“Dimana-mana…yang penting bisa kami tiduri kalau malam..”

Aku meringis, bukan karena paha sebelah ku yang sakit tapi karena mendengar penuturannya. Malang sungguh nasibnya. Dia tentu tak sendiri, masih banyak yang lain. Yang lebih buruk lagi kondisinya dari Matauoroe ini, setidaknya dia tidak penyakitan seperti yang lain, kakinya tidak korengan dan tidak ada anggota tubuhnya yang cacat. Ini juga lah yang membuatku sedikit menyesali mengapa dia memilih menjadi pengemis. Hidupnya mungkin akan jauh lebih baik kalau dia jadi pembantu rumah tangga, atau tukang bersih-bersih di mesjid ini. Aku yakin kalau ia mengajukan diri ke pengurus mesjid pasti dikabulkan.

“Kakak asli sini ya?”

Perempuan itu lagi-lagi menggeleng. Dia menceritakan kalau berasal dari salah satu desa di ujung selatan provinsi ini. Dia sudah menikah dua kali, suami pertamanya meninggal karena konflik. Lalu ia merantau kemari dan bertemu Salahuddin, suaminya yang sekarang sudah tiada lagi karena tenggelam akhir tahun 2004 lalu. Bahkan jasadnya tidak tahu kemana. Selain itu ia juga memiliki tiga orang anak dari kedua suaminya yang harus ia beri makan sekarang.

“Ngomong-ngomong anak kakak dimana?”
Aku baru teringat dari tadi anak-anaknya tidak kelihatan. Tadi sempat terfikir olehku dia sebatang kara saja didunia ini. Ah, malang benar nasibnya. Perkawinannya tidak ada yang mengesankan baginya selain harus berakhirr dengan cerita yang memilukan. Tidakkah itu kenyataan yang tidak mengenakkan? Belum lagi biaya untuk merawat ketiga anak-anaknya, biaya sekolah, biaya mengaji, ah…aku tak yakin ia telah menunaikan semua kewajiban itu selaku orang tua.

“Mereka ada di depan toko sana.” Matauroe menunjuk ke salah satu supermarket yang ada diseberang jalan sana. Aku melongok. Anak-anaknya mengemis juga seperti dia, mereka biasa mangkal didepan toko atau supermarket. Semakin miris hati ku mendengar semua itu. Harusnya aku lebih bersyukur diberi kedua orang tua yang tak kurang perhatian kepada anak-anaknya, menyekolahkan, mengaji, dan lainnya. Tapi mereka? Makan saja susah.

Angin bertiup semilir, burung-burung beterbangan di loteng mesjid, suaranya berderik-derik memecah kebisuan. Aku diam, begitu juga dengan perempuan itu. Aku tengah sibuk dengan pikiranku sendiri. Begitu juga dia. Sesekali dia menatap matahari, barangkali berfikir alangkah indahnya hidup jika seterang namanya. Bisa memberikan kehangatan dan kehidupan kepada seluruh alam, disanjung, dipuja, bahkan dijadikan sumber inspirasi bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, bagi para pujangga. Ah...

Dengan ekor mata aku bisa melihat ia sedang menyeka bulir-bulir yang jatuh dari sudut matanya. Ia pasti sedang mengingat suaminya. Atau anak-anaknya yang barang kali belum makan. Atau saudara-saudaranya dikampung yang sama melaratnya dengan dia. Atau mungkin juga berfikir Tuhan telah tidak adil padanya, menjadikannya terlunta-lunta dinegeri sendiri, menjadi pengemis yang untuk mendapatkan secarik ribuan saja harus bertadah tangan dan berlomba dengan para peminta yang lain. Di kejauhan aku melihat Pidoes, itu artinya aku harus segera pamit dan meninggalkan wanita itu.

“Saya pamit dulu kak. Teman saya sudah datang.” Suaraku memecah lamunannya.

Aku mengucap salam dan dijawab dengan anggukan olehnya. Aku tersenyum melihatnya. Perempuan yang malang, dia sebenarnya kelihatan cantik. Kedua matanya tajam dan bulat, alisnya tebal dan rapi. Dagunya runcing, kata orang-orang seperti lebah bergantung. Tapi nasib memang tak melihat pada paras, tak peduli cantik atau jelek, hitam atau putih.

Angin kembali bergerak-gerak, meniupkan rok ku dan menampakkan bulu kaki ku yang lebat dan panjang, satu dua orang yang ada disana meliriknya tapi aku tak peduli. Ini bukan kali pertama rambut-rambut dikakiku jadi perhatian orang-orang. Pertemuan dengan matauroe tadi lebih menarik untuk dipikirkan daripada orng-orang iseng yang suka melirik kaki-kaki orang, atau mungkin betis, paha, semuanya...andai hidup seperti matauroe. Ditunggu kehadirannya, dirindui, dinanti-nanti, didamba....sungguh berartinya hidup.

29/11/06
Siang yang panas

Komentar