Langsung ke konten utama

Selamat Hari Ibu

alahai do....
do da....idi....
sinyak ubeut...
beu bagah rayeuk...
saya tidak bisa menyempurnakan bait-bait diatas karena saya memang tidak hafal lagunya, tapi saya suka sekali dengan lirik dan iramanya, kalau dihayati bisa-bisa menitikkan air mata. betapa perjuangan untuk menjadi seorang ibu tidaklah mudah.
ini bukan soal cerita mengandung dan melahirkan, karena siapapun pasti tak sanggup membayangkan mengapa seorang ibu bisa dengan kuat dan tegar untuk waktu selama itu? juga oleh perempuan sendiri
membawa janinnya ke kantor, ke sawah, ke warung, ke hutan, ke ladang, kemana saja...membawa serta sakit pinggangnya, sakit di tulang rusuk dan punggungnya, membawa mual dan mukanya yang pucat.
sekali lagi ini bukan soal cerita mengandung dan melahirkan, karena bongkahan emas sekalipun tidak sanggup untuk menggadaikan seorang bayi yang dilahirkan oleh ibu.
tapi ini soal soal yang lain, yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan prosesi melahirkan itu.
alahai do....
do da....idi....
sinyak ubeut...
beu bagah rayeuk...
kira-kira seperti itulah dulu ibu ku meninabobokan ku, menyelawatkanku, menyenandungkanku dengan kata-kata penuh doa dan hikmah. agar kelak ketika dewasa anaknya tumbuh menjadi manusia berguna dan jadi 'orang'.
tapi...apakah sudah demikian bergunanya aku ini?
bukan sekali dua kali aku bertanya pada diriku sendiri tentang itu.
pagi-pagi sekali ibu sudah bangun, seperti biasa ia menyiapkan teh, dan sarapan pagi. aku sendiri? harusnya diusia ku yang segini aku lah yang bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk mereka.
pukul delapan, ketika samar-samar suara ibu membangunkan aku malah memilih menutup mata lagi, bukan apa-apa...setelah suara ibu ku dengar suara ayah..."biarkan dia tidur lagi, jangan dibangunkan dulu." ah...ayah...lalu...."tidur apa lagi sudah siang begini...masak kalah dengan ayam..." aku tersenyum dalam tidur dikamar ku. oh...ibu...adakah yang lebih baik dari mu?
masih ingat sekali, ketika dulu waktu kecil dan saya sedang sakit...ibu dengan cekatan sekali merawat ku, menyuapi ku, kalau ingin keluar pastilah ia menggendong saya. tapi ketika ibu sakit? aku justru jauh, jauh sekali dengan beliau. jangankan menggendongnya, menyiapkan sarapan saja tidak bisa. apalagi yang lainnya.
lagi-lagi teringat ibu,
tadi pagi-pagi sekali beliau sudah menelepon ku, dan aku memberi kabar...lebaran ini tidak pulang...ada mendung diwajah ibu sepertinya. suaranya berubah seketika, ia pasti akan sangat kesepian sekali ketika lebaran nanti. tapi seperti biasa-biasa...mendungnya hanya sesaat saja, ia pun kembali berseri.
ah...ibu...lagi-lagi di usia ku yang segini belum ada yang bisa ku lakukan untuk membuat mu bahagia...
dari jauh aku cuma mau bilang, selamat hari ibu...untuk hari-hari sebelumnya, untuk tahun-tahun yang terlupa, untuk detik-detik yang terlewatkan begitu saja....
semua orang...saksikanlah rasa cinta ku kepada ibu, aku ingin kalian semua tahu...aku sangat cinta ibu...aku sangat cinta ibu....juga kepada ayah ku...yang sampai sekarang masih setia dengan kata-katanya "biarkan dia tidur, tidak usah dibangunkan..."

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n