Langsung ke konten utama

16

"ngga usah paksa kali ya sayang? kalau boleh, nanti hari senin ihan milih bang Djali Yusuf ya? soalnya kakak kenal sama dia sich... "


ada-ada saja kakak saya yang satu ini, pesan itu dia kirimkan pukul 17:41 kemarin sore. isinya tak lain adalah seperti kutipan diatas, menyuruh saya untuk memilih salah satu kandidat calon gubernur Aceh untuk periode waktu lima tahun kedepan. apa yang dilakukan oleh kakak saya wajar, dan saya bisa memakluminya. beberapa waktu yang lalu, ketika pemilihan presiden RI sayapun melakukan hal yang sama, sibuk menghubungi teman-teman yang saya kenal. kalau yang ada diluar negeri saya kirimkan email dengan tulisan berwarna merah "jangan lupa pilih no 16" tulis saya dalam email besar-besar. bedanya saya menambahi dengan embel-embel "InsyaAllah amanah dan merakyat" cuma itu yang bisa saya katakan, saya tidak katakan "saya kenal dengan beliau" karena saya memang tidak pernah kenal secara individu, tidak pernah berjabat tangan apalagi mengobrol. lalu, seperti kakak saya, saya pun pasti punya alasan tersendiri kenapa merekomendasikan puyer 16 kepada teman-teman saya? karena saya tahu track recordnya dari berbagai media yang saya baca, tahu dari orang-orang bahwa mereka memang pantas untuk dijadikan pemimpin umat. pertanyaannya bagaimana dengan orang yang saya kirimkan sms dan email itu? akan kah dengan serta merta mau mencoblos m-16 ketika pemilihan presiden pada waktu itu?

ketika membaca sms itu saya tersenyum, sampai-sampai saya bergumam, ada-ada saja kakak ini. padahal sudah berkali-kali saya katakan saya kader siapa dan simpatisan siapa. tapi dia sepertinya lupa atau pura-pura lupa, padahal kalau dipikir-pikir lagi dia bukanlah warga aceh, jadi untuk apa sibuk-sibuk membuang uang 350 rupiah untuk meng sms saya dan bilang pilih no urut sekian.

tapi memang begitulah adanya, ada persamaan antara saya dan dia yaitu kepentingan. kepentingan untuk menggolkan orang-orang yang menurut kita no wahid dari yang lainnya. segala daya dan upaya pun akan dilakukan untuk itulah tim sukses dibentuk. hal seperti ini akan terus berlanjut selama kita hidup, dari masa ke masa pemilihan pemimpin memang akan selalu ada. dan ajakan-ajakan serupa akan terus bergulir dari satu orang ke orang lain. makanya tak perlu heran kalau saat-saat menjelang pemilihan seperti sekarang ketika anda sedang jalan, sedang makan, sedang tidur atau sedang mimpi ada yang merengek-rengek minta dijawab. isnya "jangan lupa pilih no bla bla bla...". seperti saya tadi...

nah, kembali kepersoalan tadi, apakah saya memilih seperti apa yang direkomendasikan oleh kakak saya tadi? jawabannya belum tentu.
memilih memang urusan gampang, tinggal coblos hidung, mata atau mulut si kandidat. yang susah adalah menentukan siapa yang akan kita pilih. perlu berfikir seribu kali untuk bisa menusuk hidung atau dahinya.

karena urusan tidak selesai setelah selesai memilih, tapi juga pertanggung jawaban dari apa yang kita pilih. layakkah dia kita pilih? bisakah dia kita jadikan pemimpin umat? sudahkah kita meyakinkan hati bahwa memilih bukan karena uang? atau karena paksaan-paksaan yang lain?

kalau sudah balas dan bilang begini "nih pulsa kamu yang tadi saya ganti deh...."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n