Langsung ke konten utama

about ihan

ah...sore yang melelahkan, badan rasanya remuk redam karena seharian duduk, tulang seperti tak berfungsi, sekedar jalanpun tidak sanggup. mau tidur? mata ini terlalu sombong untuk mengaku mengantuk jam segini, mungkin ia akan bertahan beberapa jam lagi. atau ia akan baru tidur setelah mendengar suara-suara diseberang sana...yang mengatakan rindu kepada sipemiliknya, lalu menagih janji untuk mengirimkan cerita rindu kepadanya. syukurlah...cerita untuk neno telah terselesaikan hari ini...

pengen mandi air hangat tapi males masak air panas...baru teringat kalau sudah sebulan lebih tidak menyentuh dapur, kalau bisa berteriak mungkin kompor akan berteriak minta dinyalakan, beginilah si ihan sunrise... mungkin dia marah, waktuku lebih banyak untuk si pulpen dan si kertas, mungkin itu pula yang membuatku selalu kepanasan kalau malam, bertaburnya kertas-kertas. semalam nanda ku bilang kalau kertas menyerap oksigen, sedang manusia butuh oksigen...wajarlah kalau si bunda tidur extra minimalis. tapi bukan itu faktor utama, banda aceh ini memang panas...

hahaha...sejenak imajinasi liar berkelebat, berputar-putar diatas kepala, merangsang syaraf-syaraf kecil untuk melenggok-lenggok seperti lilin berwarna ungu yang ada dikamar neno. hm...tiba-tiba kakak ku yang baik hati menelfon, penatku hilang sejenak, tapi tak lama, hati ku mengapung diujung senja, salamku tersangkut di ujung bulan. kakak...kenapa sih tanya soal beliau...tidakkah kau tahu...hati adik mu belum sembuh benar???

kakak besar ku yang jauh? mau membuat adik mu menangis lagi malam ini? seperti bulan yang lalu ketika terakhir kita bertemu? kakak....lagu yang kudengar cukup indah dan romantis, tapi aku sama sekali tidak bisa menikmatinya, kapan kaki ini bisa melangkah untuk memeluk mu lagi? banyak sekali yang ingin ku ceritakan kepada mu, aku ingin bercerita, bahwa aku telah menemukan angin yang bisa menerbangkan ku dari pohon. sekalipun kerinduanku kepadanya masih meletup-letup seperti malam itu. aku benar-benar menangis kini, aku harus ikhlas kan kak? melepaskan bukan berarti tak sayang, tapi sebagai manusia cerdas aku harus bisa berfikir realistis kan? belajar keikhlasan dari mu.

ah...kenapa adik kecilmu ini jadi cengeng begini ya? tiba-tiba menangis, jadi melankolik begini nih...beliau lagi beliau lagi....padahal aku sudah berusaha kuat untuk menerbangkan diriku. aku jadi penyelingkuh sejati kakak ku. aku menyelingkuhi perasaan ku sendiri.

hm...hidup bukan hanya untuk satu pohon, itu yang selalu ku tulis. tak ada gunanya menangis, apalgi bersedih. selalu kaki ku masih bisa melangkah, selagi nafas masih bisa terhembus, banyak jalan menuju roma kan kak? banyak jalan bisa meleguh dan mengerang.
banyak jalan juga untuk bisa jatuhcinta.

badan ku letih sekali, tangan ku nyaris tak bergerak, kibod ini pun ku tekan dengan sangat apa adanya, tidak seperti biasanya, seperti orang lomba lari marathon saja. rindu ku mengapung di selaput senja, salamku tersangkut di ujung purnama. malamku menggantung pada kecemasan dan ketakutan. aku rindu neno. aku rindu kakak. tapi...ada yang tak bisa ku katakan disini.

18:29
di sela-sela chatting



Komentar

  1. mas.....Itu yang diceritain nyata gak?
    Farid apa Farid?....he he!

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n