Langsung ke konten utama

Romantisme Milik Siapa?

“Hai say, dah bobok blum? Hatiku sedang galau karena cinta. Bagi-bagi dong konsep cinta versi kamu.”
Pesan itu dikirimkan oleh teman saya sudah pukul sepuluh lewat semalam, mata yang sudah mengantuk pun kembali terbeliak. Lama saya memandangi layar ha pe sambil terus membaca ulang. Ah, barangkali ia mengira saya adalah pakar cinta sehingga ia meminta nasehat dari saya. Tapi baiklah, tidak bermaksud untuk mengecewakan teman saya itu sayapun membalas keesokan paginya, pakai ha pe teman pula karena pulsa saya sudah nol.

Berlagak bijak saya mengatakan, “saya tidak tahu menahu tentang cinta selain memberikan yang terbaik untuk orang yang saya cintai, menerima kelebihan dan kekuranganya dan selalu mencintainya dengan tulus.” Memang selalu itu yang saya katakan kalau ada yang Tanya soal cinta kepada saya. Maklum, saya hanya bisa mendefinisikannya berdasarkan apa yang saya alami. “karena cinta adalah memberi bukan menerima.” Begitu tambah saya pada pesan-pesan selanjutnya.

“Mungkin aku harus belajar banyak tentang psikologis calon suamiku yang baru ku kenal lima bulan.” Itulah pesan terakhir yang kuterima pagi menjelang siang tadi.
Aku coba menyimpulkan sendiri, barangkali inti permasalahannya adalah komunikasi yang tidak lancar, sebuah hubungan memang akan hambar kalau komunikasi tidak berjalan dengan baik. Berbagai prasangka akan muncul dan akhirnya bukan tidak mungkin akan terjadi perpisahan kalau tidak pintar-pintar menyikapinya.

Perempuan dan laki-laki memang dua makhluk yang berbeda, saling bertolak belakang, karena itulah mereka harus berjuang keras untuk memahami pasangannya ketika sebuah hubungan khusus terjalin. Laki-laki makhluk yang dominan menggunakan otaknya, semua harus diukur berdasarkan kadar logis atau tidaknya. Sedangkan perempuan makhluk jenis lembut yang lebih mengutamakan perasaan. Perasaan sering didorong oleh hati nurani sedangkan otak lebih didorong oleh nafsu.

Inilah yang tampaknya sering menyebabkan percekcokan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana fitrahnya perempuan ingin dimanja, disayang. Perempuan mendambakan perwujudan symbol-simbol dari perlambangan cinta, sementara laki-laki sudah merasa cukup dengan membatin, bahwa ia mencintai pasangannya, bahwa ia menyayangi kekasihnya, bahwa ia tulus menerima kelebihan dan kekurangannya. Tanpa pernah mengatakan ia rindu pada pasangannya, tanpa pernah mengatakan aku mencintaimu, tanpa penah mengatakan aku betul-betul ingin membuatmu bahagia.

Sedangkan perempuan ia tak bosan-bosa berharap pasangannya mengatakan aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku merinduimu dan aku ingin membuatmu bahagia.
Laki-laki jenis manusia yang susah ditebak, itu menurut ku. Ia bisa sangat tergila-gila mencintai pasangannya hari ini tapi besok dia diam dan tak berkata apa-apa. Dia bisa sangat mesra dan romantis hari ini, tapi bisa tak pernah mengirim pesan atau kabar untuk sebulan lamanya. Tidakkah ia tahu perempuan berbeda dengannya? Tidakkah ia tahu perempuan begitu kuat perasaannya? Karena itu bertahun-tahun bersamanya tetap seperti puzzle yang harus dipecahkan setiap harinya, konon lagi yang baru lima bulan???

Apakah saya sudah menamatkan cerita tentang laki-laki? Tentu belum dan saya memang tidak bisa menamatkannya karena banyak lagi yang saya tidak tahu soal laki-laki. “berilah waktu untuk dia berfikir, jangan usik dia, berikan tenggang waktu kapan kamu harus menghubunginya.” Petuah terakhir dari seorang teman kepada sahabatnya, itu bukanlah petuah yang manjur dan apakah cocok untuk laki-laki dingin seperti kekasih temanku itu. Karena romantisme bukanlah milik para sastrawan yang jago berpuisi dan menulis cerita-cerita puitis, karena romantisme bukanlah milik penyair yang jago menulis syair-syair cinta. Sebaliknya kebekuan dan kedinginan tak selamanya dimonopoli oleh para pekerja dan pegawai kantoran yang sehari-harinya mengublek data-data dan proyek.

Itulah yang saya katakan ketika teman saya mengatakan tentang keromantisan seseorang yang dulu pernah dia kenal. Karena energi yang dihasilkan oleh cinta itu sangat luar biasa dahsyatnya. bukan Cuma bisa melelehkan es tapi juga bisa membuat api padam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n