Langsung ke konten utama

Surat Untuk Neno

memang tidak enak ya menyimpan rindu ketika akan pergi, tapi begitulah...harus bisa dan kita harus belajar untuk itu. apa yang kamu rasa juga sama seperti yang aku rasakan, menunggu-nunggu surat mu, tapi yang ada ternyata cuma tiga baris kata kerinduanmu. dan itu belum cukup untuk menebus rinsu ku pada mu. bayangkan, tiga baris untuk waktu setahun, apa kau pikir itu cukup? jawablah sendiri.
pagi-pagi sekali kau sudah membangunkan aku, mengajak ku mengobrol sebentar, lalu kau kembali merapikan selimutku, menyuruhku sarapan dan dengan kecupan lebih kuat dari semalam. terakhir kau bilang, "nanti aku ingin bicara dengan mu..." aku pun kembali pulas setelah itu.
badanku kembali terasa lemas dan tak enakan, kepalaku kembali terasa pusing dan berdenting seperti garputala...sementara suara mu masih berputar-putar ditelingaku. dan kecupan mu masih terasa hangat dibibirku. "maafkan aku..." lirihku seperti dalam mimpi "aku tidak bisa menemuimu siang ini ditempat biasa..."
seharian aku tidur terus...memikirkan mu terus..kaki ini sudah berdenyit-denyit ingin melangkah, tapi pegal, rasa hangat dibadan mencegahku, nyeri dikepala membuatku lagi-lagi hanya bisa tertidur, dan mata ku terus mengatup. aku sakit say. dan kau akan pergi jauh sekali. untuk waktu setahun lamanya.
ah...neno....
entah sejak kapan peran itu tergantikan, yang pasti sejak itu pula diam-diam kita mulai saling mendatangi kan? saling memperbaiki selimut, saling mengingatkan untuk tidak lupa sarapan, juga pesan rindu walau tak banyak-banyak. jadi teringat ketika pertama kali kau mencium ku.... muka mu merah padam ketika itu, dan suara mu bergetar...sedang aku...menunggu dan menatap mu tak berkedip...
neno...belum sempat aku melihat ke kiri dan ke kanan, sudah dua hari kau pergi, mungkin ketika aku kedapur dan ke kamar mandi, waktu setahun itu sudah terbayarkan. entahlah...aku menyimpan rindu untuk mu. segudang rindu yang telah membuatku lelah ketika malam menjelang
seperti yang diceritakan none

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja