Langsung ke konten utama

Surat Cinta untuk Suamiku yang Jadi Caleg

ilustrasi

Suamiku,

Aku melihatmu tertegun di beranda rumah kita sore ini. Apa yang kau lihat? Ikan koi warna-warni yang melenggak-lenggok di akuarium kecil itukah? Atau kau sedang terbuai dengan nikmat kesiur angin sore yang sesekali berdesir lembut.

Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan tentang pertarungan esok hari bukan?
Ah, kau pasti tak setuju dengan istilah 'pertarungan' yang kukatakan ini. Aku ingat, beberapa waktu sebelumnya saat kau mengatakan keinginan untuk maju dalam percaturan politik di negeri ini. Kau akan naik sebagai caleg, katamu waktu itu. Katamu, ada partai yang 'meminangmu'.

Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun lamanya. Meski belum seluruhnya, aku jelas amat sangat mengenalmu. Kau bagian dari keseluruhan hidupku. Maka ketika ada kelompok tertentu yang meminangmu kala itu, aku langsung tersulut cemburu. Itu artinya, akan ada waktu-waktu di mana kau tak sepenuhnya milikku. Akan ada waktu di mana perhatianmu untukku akan berkurang. 

Dan, kau ini hanya seorang yang selama ini berkutat dengan nilai-nilai pasti, aku heran mengapa pada akhirnya kau menerima pinangan itu. Yang kutahu, setelah itu jiwamulah yang bertarung setelah itu. Terlalu banyak yang berkutat dalam benak dan pikiranmu. Bagaimanapun, perilaku politik yang berpuluh-puluh tahun telah mendoktrin pikiran kita. Bahwa politik itu kejam, politik itu jahat, politik itu kotor. Aku, tentu saja tak ingin kau berubah menjadi orang yang kejam, jahat dan kotor.

"Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam dan mendiamkan,(**)" katamu waktu itu, menjawab kerisauanku.

Baiklah. Sejak itu aku memutuskan untuk mendukung niat baikmu. Tentunya tak sedikit perdebatan panjang yang sudah kita habiskan. Sebagai pasangan hidup, aku tahu kau hanya membutuhkan pengakuan dariku bukan? Aku tahu, sumber kekuatan terbesarmu sebenarnya hanya bermula dari rumah ini. Tempat kita menabur benih cinta dan kasih sayang setiap harinya. Aku tak ingin membuatmu ragu dengan pilihan yang sudah kau putuskan dengan istikharah itu. 

Aku juga masih ingat, saat suatu ketika kau meminta pendapatku. Persis sore hari seperti saat ini. Saat mentari tak lama lagi akan tenggelam. Saat kita sedang menikmati tingkah ikan-ikan di akuarium bersama desau angin di beranda rumah kita.

"Setidaknya kau punya harapan kan?" desakmu kala itu.

Ya, aku memang punya banyak sekali harapan. Hari ini, aku kembali teringat pada harapan-harapan yang pernah kusampaikan padamu beberapa waktu lalu. Semua itu kembali terngiang sebab esok semua orang akan berbondong-bondong datang ke TPS untuk memberikan hak pilihnya. Aku tidak yakin kau akan menang, tapi setidaknya pasti ada satu dua orang yang akan memilihmu. Yang pasti tentu saja aku, istrimu yang mencintaimu apa adanya.  

Maka agar aku, atau pun kamu tidak melupakan harapan itu. Aku menulisnya di selembar kertas. Aku juga menyalinnya untuk diriku sendiri. Salinan yang untukmu kuminta agar kau selipkan di dompetmu. Itu agar kau selalu punya kesempatan untuk membacanya. Agar kau tak perlu repot-repot mencarinya di bawah tumpukan kertas-kertas di meja kerjamu. 

Saat aku akan beranjak untuk mengambil salinan itu, tiba-tiba kau memanggilku. Kau menunjukkan kertas putih yang sudah lumayan lusuh. Surat berisi harapan-harapan yang kutuliskan untukmu tempo hari.

"Kau mau membacakannya lagi untukku?" tanyamu.

Aku mengembangkan senyum sembari mendekatimu. Kusentuh jemarimu. 

"Kau gugup?" tanyaku.

"Sedikit berdebar," jawabmu.

Baiklah. Aku akan kembali membacakannya untukmu;

Kekasihku. Suamiku. Aku tahu, dalam hidup kita akan selalu dihadapkan pada keputusan-keputusan besar. Maka semua keputusan itu haruslah dengan seizin Tuhan yang kita sembah. Aku tahu, ada kalanya rasa takut itu hilang dalam diri kita, terutama saat kita menghadapi berbagai kenikmatan dunia di luar yang kita sangka-sangka. Maka selalulah ingat pada Tuhan yang telah mempertemukan kita. Jika kau menyanggupi, aku tak keberatan kau menjadi caleg, mengapa tidak Presiden sekalian?

Kau tahu, sebagai perempuan aku sering menonton infotainment. Aku punya banyak waktu untuk membaca berita dan tabloid gosip. Aku tak ingin kelak jika kau terpilih, aku justru mendapati nama atau fotomu menempati salah satu kolom di tabloid itu, atau di berita, atau di mana saja.

Aku rela hidup bersusah-susah denganmu, dengan fasilitas yang seadanya. Asalkan kita bisa selalu bersama-sama, bukan aku di rumah sementara kau di penjara karena penyalahgunaan wewenang. Kau mengerti maksudku kan? Jika itu terjadi, maka kau telah memberiku beban hidup yang amat sangat berat. Dan itu artinya kau melanggar janjimu di hadapan orang tuaku saat akad nikah dulu, saat kau berjanji akan selalu menyenangkan dan membahagiakan hati dan hidupku.

Dengan pernyataanku ini bukan lantas aku tak setia. Tapi bagiku, lebih baik kita hidup apa adanya tapi menjadi terhormat. Ketimbang kita mempunyai banyak harta tapi hidup penuh cibiran dan hinaan. Aku hanya takut Tuhan tidak mempertemukan kita di surga kelak.

Yang selalu mencintaimu
Istrimu



"Kau lah yang membuatku teguh pada keputusan ini" katamu pendek. Lalu kita terseret dalam pusaran hening yang panjang.




(*) Cerita ini murni imajinasi
(**) kutipan Anies Baswedan di video Cerita di Kopaja

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.