Langsung ke konten utama

Serunya Hidup Jadi Anak Desa

Pelepah kelapa atau tukok u (Aceh) @detik
Kira-kira, apa yang akan dibicarakan oleh dua orang ibu rumah tangga jika sedang bersama? Membicarakan fenomena kawin cerai artis, trend fashion terbaru, atau cerita Pashmina Aisha?

Hm... bukan karena penasaran jika aku akhirnya memilih bergabung bersama dua orang ibu rumah tangga malam kemarin. Yang satu bibiku, yang satu lagi tetangga depan rumah. Karena sambil nyambi goreng kacang dan kerupuk untuk dijual, bibi mengajak tetangganya ngobrol di dapur. Sambil membantu membungkus kerupuk, sesekali aku ikut berkomentar mengenai topik yang mereka bicarakan.


Apa sih yang mereka bicarakan? Ternyata jauh sekali dari tiga topik di atas. Tak sekali pun kudengar mereka menyebut-nyebut nama artis, apalagi soal baju baru, atau tentang Aura Kasih yang berperan sebagai Pashmina dan Aisha di sinetron yang berjudul sama. Tapi mereka membicarakan tentang anak, ya, dunia anak-anak. Karena merasa masih anak-anak (anak orang tuaku :-D), aku merasa obrolan ini jadi menarik.

Saking banyaknya tentu tak mampu kuingat semua. Tapi ada satu cerita menarik, si tetangga cerita tentang satu anak yang sangat individualis. Orang tua anak tersebut menghadiahinya sebuah tablet, dengan tablet itu si anak menghabiskan banyak waktunya untuk bermain game. Sendirian.

"Itu kepalanya udah penuh sama game, kalau kita tanya 2x2 berapa pun udah ngga tahu lagi," kata tetangga tersebut menirukan ucapan ibu si anak. Ia tahu karena memang ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tersebut. Ibu si anak sering mengeluhkan perubahan perilaku anaknya pada tetangga kami itu.

Belakangan katanya si anak mulai sulit berkonsentrasi saat belajar, otaknya jadi lemot. Jika kondisinya tertekan sedikit saja (misalnya dimarahi sang ayah saat belajar) langsung tak bisa berfikir, gemetar dan keringatan, plus ketakutan.

Wow! Terus terang aku surprise dengan kondisi ini. Apalagi si anak tersebut masih usia SD, bagaimana nanti kalau dia sudah SMP, SMA, dst? Apakah hidupnya cukup dengan satu tablet penuh game itu? Ah, tantangan hidup ini terlalu besar.

Cerita tentang anak kecil itu mau tak mau membuatku kembali terlempar ke masa lalu. Aku lahir pada pertengahan tahun 80-an, dan memasuki usia Sekolah Dasar pada tahun 90-an. Pada masa itu, jangankan tablet dan sejenisnya, melihat telepon rumah saja kami tak pernah. Tapi, apakah kami kekurangan mainan? Jawabannya tentu saja tidak.

Saya lahir dan besar di kampung. Kampung itu terisolir, jalan berlapiskan tanah kuning, tanpa listrik. Di era tahun 90-an itu aku ingat sekali hanya ada beberapa rumah yang memiliki televisi berukuran 14 inc, hitam putih pula dan layarnya cembung. Tapi hari-hari yang kami habiskan sangatlah luar biasa.

Lazimnya anak-anak desa, kami bermain dan belajar bersama alam. Permainan-permainan itu menguji adrenalin dan menguji ketangkasan fisik kami. Permainan-permainan yang membuat jiwa kami jadi berani. Bersama teman-teman, kami terbiasa menjadikan bukit sebagai arena untuk bermain 'ski', yang menjadi papan luncurnya hanyalah sebilah pelepah kelapa kering.

Kerena minim fasilitas, anak-anak desa terbiasa menjadi kreatif untuk menciptakan permainan-permainan sederhana. Untuk membuat enjot-enjotan misalnya, bisa dilakukan dengan menyelipkan sebatang pohon besar ke cabang pohon. Kami juga sering membuat ayun-ayunan dari pelepah kelapa yang masih melekat di pohonnya. Kedua ujungnya dibelah kemudian diikat dan dikasi batok kelapa untuk tatakan. Bayangkan dengan ketinggian lebih dari satu meter di atas tanah kami berayun-ayun dengan riang. Resiko terburuknya adalah kami bisa saja terpelanting ketika ikatannya lepas atau pelepahnya terlepas dari pohon. Apakah kami takut, tidak!

Setiap hari libur para orang tua mengajak kami ke ladang, di ladang yang ditanami berbagai palawija kami membantu apa saja. Mereka tak pernah memaksa, tapi kami dengan senang hati membantu mencabuti rumput, memanen tanaman, atau cuma sekadar bermain tanah. Kalau sekarang mungkin sudah dianggap mengeksploitasi anak ya?

Kami mempelajari jenis tumbuh-tumbuhan secara langsung. Maka betapa herannya aku saat ada seorang anak SMA kelas dua (anak tetangga) yang belum menegnal lada atau merica. Dan seorang anak lainnya yang sudah kelas dua SMP tidak mengenal jahe.

Permainan-permainan itu merekatkan jalinan persahabatan di antara kami, tidak ada istilah anak-anak yang ingin menang sendiri atau individualis. Semuanya dilakukan bersama-sama, bukan hanya bermain, kami juga selalu belajar bersama. Kakak-kakak kelas yang sudah SMP biasanya bertugas membantu mengajari kami membuat PR. Dengan begini tidak ada istilah yang miskin ngga sanggup bayar uang untuk les privat. Kami bermain bersama, juga pintar bersama. Menyenangkan :-)[]

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.