Langsung ke konten utama

Ada Pangeran Kodok Dalam Diriku

ilustrasi 

Pagi tadi waktu bangun tidur, dada tiba-tiba terasa berat saat bernafas. Korongkongan terasa perih dan panas. Suara pun tiba-tiba berubah sangat macho. Laki banget deh pokoknya. Ini jelas bukan efek merokok, karena aku tidak merokok. Ini cuma gejala penyakit lama yang sesekali bertandang ke empunya badan. Memang, sejak sore kemarin aku merasa tak nyaman dengan kondisi badanku.

Sakit? Sakit apakah itu?

Bengek! Pernahkah kalian mendengar nama penyakit ini? Menurut orang-orang ini penyakit yang tidak keren. Istilah medisnya asma atau sesak napas. Walau tidak keren, ini penyakit sangat bikin tersiksa, bikin megap-megap kalau lagi kambuh. Tapi syukurlah yang kurasakan sekarang tidak separah dulu.

Yap, dulu, waktu aku masih duduk di sekolah dasar, bengek adalah penyakit langgananku. Saking seringnya, penyakit lain pun enggan mengampiriku. :-D Hidupku tergantung dari obat-obatan. Kalau waktu itu aku sudah bisa berfikir normal mungkin aku akan berfikir bahwa hidupku tak berumur panjang. Ayah dan ibu tak pernah berhenti mencari obat terbaik demi kelangsungan hidup anaknya ini.

Selain mengonsumsi pil, sirup, obat bubuk, dan semua obat racikan rumah sakit. Aku juga meminum jamu dan ramuan herbal. Pokoknya apa yang orang sarankan ibuku pasti akan membeli atau meracik sendiri obat-obatan itu. Pernah saking sudah bosannya minum obat, obat-obat yang disodorkan padaku tidak kuminum. Tapi kulemparkan ke belakang rumah dari balik dinding. Hanya ayah dan ibu yang terheran-heran mengapa aku tak kunjung sembuh. Padahal sudah sekantong plastik obat-obatan kuminum.

Bagi anak kecil yang la saja belum tahu waktu itu. Pil-pil, sirup yang rasanya aneh, atau obat bubuk yang amat sangat pahit itu sungguh menakutkan. Tapi dalam kondisi terburuk sekali pun selalu ada pilihan bukan? Aku memang sengaja memilih obat-obat itu daripada harus menerima suntikan. Aku takut jarum suntik. Sampai sekarang, meski badanku sudah gede.

Aku menderita setiap kali minum obat, kadang sampai terbatuk-batuk, keluar air mata, tapi demi bisa kembali bersekolah dan bermain bersama teman obat-obat itu mau tak mau harus kuminum.

Kata ibu sejak kecil aku memang sudah bengekan. Saat sekolah aku sering libur karena sering sakit. Kalau sudah sakit bisa sampai semingguan. Aku cuma bisa tidur di rumah dengan napas ngik ngik ngik, berat, sakit, menyiksa. Ada ayah dan ibu yang ikut tersiksa melihat penderitaanku. Kalau sudah sakit ibulah yang akan menggendongku kalau mau ke mana saja.

Karena penyakit ini pula ayah jadi protektif sama aku. Aku tidak boleh panas-panasan, tidak boleh main hujan, tidak boleh terlalu capek (banyak aktivitas). Anehnya penyakit itu sering datang otomatis. Misalnya siangnya aku main hujan, malamnya pasti langsung sakit. Awalnya demam, ujung-ujungnya bengek. Hufff.....

Alhasil aku sering curi-curi kalau ingin main hujan. Baru main hujan kalau ayah sedang tak di rumah. Setelah puas main hujan buru-buru tidur. Begitu ayah pulang, beliau akan mengira aku tidak bermain hujan hari itu. Anak sekecil apa pun pasti punya cara untuk menyelesaikan masalahnya sendiri bukan?

Karena itu juga ayah tak pernah memenuhi permintaanku waktu aku merengek-rengek minta dibelikan sapi. Katanya, tak punya sapi saja selalu bengekan. Apalagi nanti kalau sudah ngurus sapi :-D. Tapi belakangan, beberapa tahun kemudian ayah membelikannya juga. Dan akhirnya aku bisa menggembala bersama teman-teman.

Lalu, bagaimana ceritanya aku sembuh?

Ah, ini perjalanan yang amat panjang. Bengek yang telah membuat ayah dan ibuku frustasi. Waktu itu mungkin aku sudah kelas lima atau kelas enam SD. Ada seorang tetangga, namanya Bik Legini, menyarankan pada ibu agar aku diberikan  kodok. Ya, aku sering mendengar kalau kodok berkhasiat untuk kesehatan.

Karena tak tahu lagi harus memberi obat apa, ibu pun mencoba saran itu. Maka hari itu, pergilah ibu ke sumur. Ia mencari seekor kodok yang menurutnya sudah memenuhi kriteria. Kodok itu pun ditangkap, disembelih, dibersihkan, lalu diambil bagian pahanya. Setelah diberi bumbu paha ini dibalut ke hati ayam lalu digoreng. Selanjutnya bisa ditebak, paha kodok goreng itu dihidangkan untukku. Akupun menyantapnya dengan lahap nyam nyam nyam...... Cerita ini aku tahu bertahun-tahun kemudian, setelah bengekku sembuh.

Sejak diberi paha kodok itu penyakitku memang tak pernah kambuh separah dulu lagi. Tak lama kemudian aku lulus SD dan melanjutkan SMP. Aku kost di kota. Sejak saat itu sampai hari ini aku terus hidup jauh dari orang tua. Alhamdulillah bengek itu hanya sesekali datang, tapi tidak sampai mengganggu aktivitasku.[]

Komentar

  1. Yang paling menarik bukan makan kodoknya, tapi menggembala sapi. Ceritakan itu, kak. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.